You are here
Home > NLP Reflections > Hidup Cuma 1 Kali…

Hidup Cuma 1 Kali…

“Apa yang paling penting dalam hidup menurut Anda?” tanya Pak Wi mengawali sesi hari itu.

Keluarga, kesehatan, aktualisasi diri, kebahagiaan, kekuasaan, uang, dll, pun muncul dalam kalimat yang dilontarkan secara spontan oleh para peserta.

”Bagi Anda yang menganggap keluarga paling penting, berapa lama Anda pergi meninggalkan keluarga Anda untuk bekerja setiap harinya? Jika uang bukan yang terpenting, berapa kali Anda tetap memaksakan diri untuk berangkat kerja meski sedang sakit?”

Sejenak, keheningan pun merebak. Tak ayal, saya sendiri mengalami trance sesaat, melakukan track back terhadap berbagai hal yang saya jalani selama ini. Sebuah pertanyaan sayup-sayup terngiang dalam benak saya, ”Benarkah saya sudah melakukan apa yang saya anggap penting? Benarkah yang saya anggap penting itu benar-benar hal yang penting?”

Hidup cuma 1 kali, adalah salah satu jawaban atas pertanyaan: mengapa kita perlu mempelajari ilmu tentang diri kita sendiri seperti NLP. Tidak akan ada kesempatan kedua, karenanya jalanilah dengan penuh kesungguhan.

”Berapa di antara Anda yang selalu melakukan perencanaan secara mendetil terhadap pekerjaan atau proyek yang akan Anda jalankan?” tanya Pak Wi kembali.

Beberapa tangan pun teracung ke atas. Dengan senyum, pertanyaan selanjutnya pun meluncur, ”Berapa di antara Anda yang melakukan perencanaan sama detilnya terhadap hidup Anda?”

”I know what to do, but I don’t do what I know” adalah pelajaran kunci yang saya dapat selama 2 hari itu. Betapa tidak, segala teknik dalam NLP menjadi tidak berarti jika masalah dalam pernyataan yang satu ini belum terselesaikan. Tahu bahwa keluarga itu penting, tapi hanya menyisakan sedikit saja waktu untuk bersama. Tahu bahwa kesehatan itu penting, tapi tetap saja bergaya hidup buruk. Tahu bahwa aktualisasi diri itu penting, tapi menjalani pekerjaan selayaknya air mengalir tanpa memiliki tujuan. Kita tahu persis apa yang harus kita lakukan, dan kita tahu persis pula bahwa kita tidak melakukannya.

Wah, seberat itukah menjadi praktisi NLP?

Yap. NLP memang sering dikenal sebagai alat perubahan cepat—sesuatu yang saya tidak terlalu setuju. Jika manusia membutuhkan waktu untuk lahir serta dewasa dan tumbuhan membutuhkan waktu untuk tumbuh dan berbuah, maka perubahan fundamental dan jangka panjang tentu membutuhkan waktu yang sama. Ibarat biji dengan kualitas tinggi, ia akan tumbuh subur hanya jika diletakkan pada tanah yang subur pula. Perubahan cepat hanya mungkin ketika segala sesuatunya sudah disiapkan jauh-jauh hari. Tanpa kesiapan, kecepatan perubahan hanya akan menimbulkan rasa sakit dan berujung pada kembalinya kita pada kondisi sebelumnya.

Apapun yang Anda inginkan dalam hidup, ingatlah bahwa ada hukum tani, hukum gulir, dan hukum alir yang bekerja. Hukum tani berarti tiap hal memiliki anak tangga yang harus dilalui. Hukum gulir membukakan kemungkinan kita untuk melewati anak tangga dengan lebih cepat jika kita bergulir dengan lebih cepat pula. Hukum alir mengajarkan kita untuk ikhlas menjalani setiap detik kehidupan, sebab Tuhan memiliki rencana sendiri untuk membawa kita pada tempat yang kita tuju.

Leave a Reply

Top