You are here
Home > Neuro-Linguistic Programming > NLP Advance > Think Out of the Box dengan “Cartesian Coordinate”

Think Out of the Box dengan “Cartesian Coordinate”

Saya bukanlah seorang penggemar matematika. Setidaknya, demikian keyakinan saya terhadap subyek yang satu ini sebelum saya mempelajari NLP.

Wah, apakah karena saya telah mengubah keyakinan saya dengan NLP?

He..he..sayangnya, tidak seheroik itu. Saya hanya menemukan sebuah pelajaran NLP yang menjadi salah satu jawaban atas pertanyaan saya kepada guru matematika SMA saya beberapa tahun lalu. Sedikit bernostalgia, saya sempat terkena omelan karena bertanya, ”Pak, apa sih gunanya kita mempelajari logika matematika?”

Dan, menemukan bahwa pengalaman itu masih teringat dengan detil sampai sekarang, tentu unconscious saya menganggap itu adalah hal yang penting untuk diingat dan dimaknai.

Demikianlah, tahun pun berlalu. Saya mendengar bahwa subyek yang satu itu konon bermanfaat bagi mereka yang mempelejari ilmu komputer, terutama yang berkaitan dengan desain perangkat lunak. Alhasil, saya yang tidak terlalu berminat dengan dunia perkomputeran (kecuali sebatas yang saya butuhkan) pun kembali tidak tertarik untuk mengetahui sampai di mana manfaatnya.

OK, cukup nostalgianya. Ya, NLP mengajarkan saya tentang aplikasi ”Cartesian Coordinate” dalam komunikasi. Sebelum melangkah lebih lanjut, saya ingin mengingatkan kepada Anda semua: ilmu ini SANGAT POWERFULL! Jadi, berhati-hatilah jika akan menggunakannya. Tidak saja ia akan membuat Anda bingung, tapi juga mengobok-obok keyakinan lama yang bertahun-tahun bersarang di dalam diri Anda.

Wuih, tampak menyeramkan? Tenang, tidak segitunya kok J. Lihat saja sendiri.

Omong-omong, Anda ingat kan Cartesian Coordinate (CC) ini? Itu loh, yang ada garis X dan Y membentuk sumbu. Memang, ada yang sampai Z, tapi kita tidak gunakan itu kali ini. Nah, jika Anda menggambar kedua garis tersebut, Anda tentu akan mendapati adanya 4 kuadran.

Bagian yang paling kanan atas, biasa disebut sebagai kuadran I, dengan nilai positif semuanya (+,+). Bergeser ke kiri, Anda akan menemui kuadran II, dengan nilai positif dan negatif (-,+).Ke bawah, Anda akan melihat kuadran III, dengan nilai negatif dan positif (-,-). Terakhir, ke kanan, berujung pada kuadran IV, dengan nilai (+,-).

Cukup pusing? Eit, jangan buru-buru. Kita belum masuk ke bagian yang mengasyikkan.

Lalu, bagaimana kita bisa menerapkan CC ke dalam komunikasi?

Mari kita ambil contoh kalimat berikut:

Saya merasa sulit berkomunikasi dengan rekan kerja saya.

Jika kita pecah kalimat tersebut menjadi 2 premis yang terpisah, maka kita bisa melihatnya seperti ini:

Saya merasa sulit berkomunikasi

dan

dengan rekan kerja saya

Sekarang, kita anggap keduanya masuk ke dalam kuadran I. Nah, bagaimana kita bisa think out of the box dengan pernyataan seperti ini? Mudah, cukup mainkan ia dengan cara memindahkannya ke dalam kuadran-kuadran yang lain.

Contoh, kita mainkan di kuadran II. Karena rumus di kuadran II adalah (-,+), maka kita tetap mempertahankan premis pertama dan menegasikan premis kedua.

Saya tidak merasa sulit berkomunikasi, dengan rekan kerja saya

Sedikit modifikasi, kita bisa membantu rekan yang mengeluarkan pernyataan ini dengan pertanyaan, ”Oh ya? Kapan kamu pernah merasa tidak kesulitan berkomunikasi dengan rekan kerjamu?”

Dan, BOOM! Ia yang sedang menikmati state masalah di ’kotak’-nya pun akan mulai ’melirik’ ke luar kotak dan bertanya-tanya, ”Mmmm…kapan ya aku pernah merasa tidak kesulitan berkomunikasi dengan rekan kerjaku?”

Belum puas? Mainkan lagi di kuadran III. Ingat rumusnya? Yak, (-,-). Maka ia menjadi:

Saya tidak merasa sulit berkomunikasi, tidak dengan rekan kerja saya

Bagaimana modifikasinya? Tepat! Bisa seperti ini, ”Hmm…coba kamu ingat-ingat pengalamanmu berkomunikasi dengan orang lain selain rekan kerjamu. Bagaimana menurutmu kamu bisa begitu smooth berkomunikasi dengan mereka?”

Dan, Dhuar!!! Ia pun melirik ke ’kotak’ yang lain sembari bertanya-tanya, ”Eh, sama si Anto sih aku selalu bisa smooth. Gimana caranya ya?”

Masih ingin bermain? OK, kita pindahkan ia lagi ke kuadran IV sekarang. Dengan rumus (+,-) maka kalimatnya menjadi:

Saya merasa sulit berkomunikasi, tidak dengan rekan kerja saya

Agar tidak membingungkan, kita lakukan modifikasi sehingga menjadi, ”Oh, apakah kamu juga merasa sulit berkomunikasi dengan selain rekan kerja kamu?” Dan ia pun akan bertanya-tanya, ”Eh, iya ya. Sama orang lain, apakah aku punya kesulitan komunikasi juga?”

Aha! Asyik, bukan? OK, kita ambil satu contoh lagi.

Saya sering merasa gugup ketika ingin melakukan presentasi

Kita bisa mainkan, modifikasi, dan jadilah:

Kapan kamu pernah tidak gugup ketika melakukan presentasi?

Coba kamu ingat-ingat pengalamanmu melakukan sesuatu dengan sangat percaya diri. Apa menurutmu yang bisa membuatmu demikian?

Apakah kamu juga merasa gugup ketika melakukan hal lain selain presentasi?

Mudah, kan? Easy, but really really powerfull!

Saya banyak menggunakan ini jika sedang berada dalam mode seorang coach. Berbeda dengan terapi, dalam coaching kita tidak pernah memberikan saran apapun. Seorang Coach hanya boleh bertanya dan memfasilitasi klien sampai ia bisa menemukan solusinya sendiri.

Loh, mengapa?

Terapi menempatkan seseorang dari kondisi minus ke titik nol, sedangkan coaching menempatkannya dari titik nol ke titik plus mana pun yang ia inginkan. Dari titik minus ke nol, klien pasti sudah memiliki motivasi yang tinggi untuk berubah karena mereka telah merasakan kepedihan berada dalam kondisi tersebut. Sementara untuk mencapai titik plus yang diinginkan, motivasi dan komitmen serupa bisa jadi belum terlalu besar disebabkan oleh kondisi nyaman yang dialami. Inilah yang menjadi dasar seorang Coach harus menggelitik klien dengan berbagai pertanyaan sehingga ia terinspirasi dan terdorong menemukan pencerahan sendiri.

So, sudah siap mencoba SEKARANG?

Leave a Reply

Top