You are here
Home > Neuro-Linguistic Programming > NLP Basic > ”Membaca” Manusia ala NLP (Part 2)

”Membaca” Manusia ala NLP (Part 2)

Aha! Terima kasih Anda masih penasaran dengan meta program, sehingga menunggu-nunggu kehadiran artikel kedua ini.

So, Anda sudah siap dengan ini?

OK, kita mulai petualangan kita ya J. Sembari Anda merasakan duduk yang nyaman di tempat Anda, Anda boleh mendengar musik atau apapun yang membuat Anda semakin nyaman sekaligus bergairah, untuk kemudian mulai membaca dan memahami bahasan kita kali ini.

Meta Program ala LAB Profile

Tercatat ada puluhan meta program yang ditemukan oleh para pakar NLP sejak pertama kali didalami oleh Leslie Cameron Bandler dan Richard Bandler. Dalam bukunya, Figuring Out People, Michael Hall berhasil mengumpulkan 60 meta program yang ia telaah dari para ahli dan temuannya sendiri.

Wow, begitu banyakkah yang harus kita pelajari untuk dapat ’membaca’ orang dengan NLP?

Tenang, karena NLP bertujuan untuk memudahkan hidup kita maka ada saja orang-orang yang mengembangkan NLP untuk digunakan secara mudah pula. Dalam hal Meta Program, Rodger Bailey lah orangnya. Tidak saja ia melakukan analisa terhadap meta program yang penggunaanya paling universal, ia juga melakukan riset terhadap meta program ini secara empiris dengan menggunakan metode ilmiah ala akademisi.

Nah, hasil penelitian ini kemudian disebutnya sebagai LAB Profile, alias Language and Behavior Profile. Mengapa disebut demikian? Sebab menggunakan meta program sebenarnya adalah mencermati struktur bahasa seseorang untuk dapat memprediksi perilaku yang akan ia lakukan dalam konteks tertentu. Lebih jauh lagi, kita dapat membangun rapport dan mempengaruhi pola pikir dan perilaku orang lain dengan menggunakan struktur bahasa sesuai meta program yang ia gunakan. Untuk mempelajari lebih lengkap mengenai LAB Profile, Anda bisa membaca buu Words that Change Minds tulisan ….

Dalam LAB Profile, Rodger Bailey mensortir puluhan meta program menjadi hanya 14 meta program saja. Dari yang 14 tersebut kemudian dikelompokkan menjadi 2 bagian besar, yaitu Ciri Sifat Motivasi dan Gaya Kerja. Kita bahas satu-satu, OK!

Ciri Sifat Motivasi

Meta program yang ada di dalam kelompok ini akan membantu Anda untuk dapat mengenali bagaimana setiap orang memicu motivasi dari dalam diri dan menggunakan struktur bahasa yang tepat untuk menyentuh tombol motivasi tersebut.

Proaktif-Reaktif

Sebelum kita lanjutkan, saya ingin menggaris bawahi satu hal mengenai meta program yang satu ini. Meskipun kita bicara kata ‘proaktif’, mohon jangan samakan pengertiannya dengan proaktif ala The 7 Habits, sebab memang proaktif dalam konteks meta program kali ini memiliki definisi yang berbeda.

Orang Proaktif adalah orang yang mengambil inisiatif pertama kali dalam setiap kesempatan. Mereka cenderung bertindak dengan sedikit atau bahkan tanpa berpikir panjang sama sekali. Orang dengan meta program ini sangat baik untuk terjun ke lapangan dan menyelesaikan berbagai tugas hingga tuntas, karena mereka tidak akan menunggu orang lain untuk memulai.

Sisi lain, orang Reaktif menunggu orang lain mengambil peran terlebih dahulu atau menunggu hingga datang sebuah situasi yang mereka anggap tepat. Terkadang, mereka bahkan melakukan analisa secara mendalam tanpa mengambil tindakan apapun. Hal ini mereka lakukan karena mereka ingin memahami betul situasi dan kondisi yang sebenarnya. Orang Reaktif yakin betul akan adanya kesempatan dan keberuntungan. Dalam tingkat yang ekstrim, mereka bisa menghabiskan banyak waktu hanya untuk menunggu.

Mengenali Pola

Mengenali orang Proaktif, Anda akan menemukan mereka banyak menggunakan kalimat-kalimat pendek. Mereka berbicara seakan-akan mereka memegang kendali atas kehidupan mereka. Kalimat-kalimat tersebut begitu jelas dan to the point. Dalam titik yang ekstrim, mereka seolah memborbardir dengan kalimat-kalimat yang mereka luncurkan.

Sementara itu, orang Reaktif banyak berbicara dengan kalimat-kalimat panjang yang terkadang tidak terselesaikan. Mereka banyak menggunakan kalimat-kalimat pasif, merasa bahwa dunia lah yang mengatur diri mereka. Kalimat-kalimat mereka panjang, tampak selalu melakukan analisa yang mendalam terhadap suatu hal.

Teknik Mempengaruhi

Mempengaruhi orang Proaktif, Anda harus menggunakan banyak kata-kata atau frase seperti: lakukan saja, terjun bebas, langsung, mengapa harus menunggu, sekarang juga, ambil inisiatif, ambil peran, tunggu apa lagi, selesaikan sekarang.

Sedang kan untuk orang Reaktif, Anda perlu memakain kata-kata seperti: mari kita pikirkan hal ini, sembari Anda memikirkan ini, Anda harus benar-benar memahami, ini akan memberi Anda jawaban tentang, pikirkan kembali keputusan Anda, Anda mungkin bisa mempertimbangkan.

Konteks Yang Cocok

Orang Proaktif amat tepat jika bekerja dalam pekerjaan yang membutuhkan keputusan tepat dan taktis. Dalam kondisi demikian, orang seperti ini akan segera mengambil tindakan yang dibutuhkan tanpa perlu berpikir panjang lagi. Sebaliknya, dalam pekerjaan yang berkaitan dengan keharusan untuk melakukan analisa secara mendalam, orang Reaktif lah yang akan bisa bekerja secara efektif. Mereka akan betah berlama-lama mengurai data hingga menghasilkan suatu kesimpulan yang paling tepat. Namun jika sebuah kesimpulan sudah didapat, serahkan pada orang Proaktif untuk mengeksekusinya. Sementara ketika kondisi kritis terjadi secara terus-menerus, maka orang Proaktif selayaknya menyerahkan para orang Reaktif untuk melakukan analisa karena pasti lah ada yang salah dalam sistem kerja yang ada. Dan orang Proaktif tidak akan betah melakukan pekerjaan analisa seperti ini.

Kriteria

Saya pernah bertanya kepada seorang peserta training, “Apa hal yang menyebabkan Anda mau membaca sebuah artikel dari awal sampai habis?”

Ia menjawab, “Mmm…judulnya menarik, paragraf awalnya menggelitik, panjang hanya sekitar 2-3 halaman saja, dan banyak humornya.”

Saya pun merespon, “OK, saya punya sebuah tulisan nih. Kalau kamu baca judulnya, kamu pasti tertarik. Kalau tidak percaya, coba saja baca paragraf awalnya yang menggelitik dulu. Tidak panjang kok, cuma 2 halaman. Dan dijamin kamu pasti terpingkal-pingkal membacanya.”

Yap, inilah yang disebut dengan Kriteria. Kriteria adalah suatu standar yang digunakan oleh seseorang untuk menentukan apa yang ia anggap sebagai hal yang bagus, jelek, benar, salah, dll. Kriteria bisa menjadi anchor yang maut untuk memicu ketertarikan seseorang, sebab ia tersimpan dalam memori dan terangkai dengan berbagai serial pengalaman emosional lain yang pernah kita alami selama kita hidup.

Mengenali Pola

Untuk memunculkan kriteria seseorang, kita bisa menanyakan beberapa pertanyaan berikut:

* Apa yang Anda inginkan dari sebuah… (pekerjaan, keluarga, hubungan, dll)?

* Apa yang penting dari sebuah…?

* Apa yang harus ada dalam sebuah…?

Satu hal yang harus diingat dalam menggunakan meta program ini adalah: urutan yang disebutkan oleh seseorang belum tentu merupakan urutan kriteria berdasarkan tingkat kepentingannya. Untuk itu, jika situasinya memungkinkan, Anda perlu berdiskusi lebih dalam mengenai mana di antara sekian kriteria tersebut yang paling penting dibandingkan dengan yang lan.

Teknik Mempengaruhi

Jika Anda sudah mendapatkan kriterianya, gunakan kata-kata dalam kriteria tersebut secara tepat sama dengan kata-kata aslinya. Ingat, tepat sama! Well, Anda tentu bisa mengubahnya sesuai dengan gramatikal kalimat Anda, namun kata-nya sendiri harus tepat sama. Mengapa? Kembali kepada konsep kriteria tadi. Sebuah kriteria memiliki ikatan emosional di dalamnya. Dan kata yang mewakili kriteria tersebut adalah anchor bagi kondisi emosional tadi. Anda tentu ingat prinsip anchor yang efektif, bukan?

Omong-omong soal peserta training saya tadi, dia pun mengambil artikel tersebut dari tangan saya, dan saya melihatnya membaca artikel tadi tanpa henti ketika break. Sebuah kebetulan yang menarik bahwa ia mengucapkan kriteria membaca artikel sesuai dengan urutan tingkat kepentingannya. Sekali tekan, langsung jos… J

Kegunaan Kriteria

Kita adalah makhluk kriteria. Cobalah mengingat-ingat pengalaman Anda membeli sebuah barang, memilih pasangan hidup, memilih teman bergaul, menonton film, dll. Mengapa Anda membeli barang tersebut alih-alih barang yang lain? Mengapa Anda memilih si dia sebagai pasangan hidup alih-alih orang lain yang sudah mengantri menunggu keputusan Anda? Mengapa Anda memilih sekelompok orang tertentu untuk Anda ajak bergaul daripada sekelompok yang lain? Mengapa Anda menonton film-film dengan jenis tertentu dan bukannya jenis yang lain?

Temukan kriteria Anda dalam berbagai konteks. Dan, kapanpun Anda memiliki kesulitan untuk mengambil keputusan dalam konteks tersebut, gunakan saja kriteria yang sudah Anda identifikasi. Mau lebih mantap? Gunakan permainan submodality untuk mendramatisasi efek dari kriteria Anda.

Omong-omong soal peserta training saya tadi, dia pun mengambil artikel tersebut dari tangan saya, dan saya melihatnya membaca artikel tadi tanpa henti ketika break. Sebuah kebetulan yang menarik bahwa ia mengucapkan kriteria membaca artikel sesuai dengan urutan tingkat kepentingannya. Sekali tekan, langsung jos… J

Mendekati-Menjauhi

Seorang Ibu pernah bertanya kepada seorang terapis mengapa ia begitu sulit menyuruh anaknya untuk membereskan tempat tidur. Segala hadiah sudah ia iming-imingkan. Tidak juga sang anak mau membersihkan tempat tidur tanpa harus disuruh.

Sang terapis pun tersenyum, dan bertanya satu hal yang membuat sang Ibu tertegun.

Well, Anda ingat kisah manajer kita di artikel yang lalu? Tidak semua orang memiliki karakteristik yang sama dalam setiap situasi. Demikian pula dengan sang manajer yang begitu ambisius mengejar target, namun begitu ketakutan jika berbicara soal masa depan anak-anaknya.

Inilah meta program Mendekati-Menjauhi. Mereka yang Mendekati sangat fokus terhadap tujuan yang ingin mereka capai. Mereka berpikir berdasarkan tujuan, ingin mendapatkan sesuatu. Karena mereka begitu fokus pada tujuan ini lah, mereka umumnya orang-orang yang pandai menempatkan prioritas. Dalam kasus yang ekstrim, orang Mendekati agak kesulitan dalam menentukan hal-hal yang harus dihindari. Mereka seringkali dianggap naif karena tidak pernah memperhitungkan berbagai hambatan yang mungkin muncul.

Sementara itu, orang Menjauhi bergerak karena menghindari kondisi yang tidak mereka inginkan. Mereka amat mudah terpacu ketika ada sebuah masalah yang harus diselesaikan. Tenggat waktu pekerjaan adalah tombol motivasi orang Menjauhi. Sisi lain, orang Menjauhi amat ahli dalam troubleshooting. Karena fokus pada penghindaran, orang Menjauhi cenderung sulit untuk menentukan prioritas. Dapat dipahami, karena mereka senantiasa terganggu dengan setiap masalah yang muncul dan berkeinginan untuk segera menyelesaikannya.

Mengenali Pola

Menggali meta program ini, Anda bisa bertanya, “Mengapa memiliki hal tersebut (kriteria) penting bagi Anda?” atau “Apa yang akan terjadi pada diri Anda jika kriteria tersebut terpenuhi?”

Pada orang Mendekati, Anda akan menemui jawaban yang menjabarkan tujuan-tujuan yang ingin mereka capai atau hal-hal yang bisa mereka dapatkan. Sementara pada orang Menjauhi, Anda akan mendapati jawaban mengenai hal-hal yang ingin mereka hindari, masalah-masalah yang tidak ingin mereka hadapi, dll.

Teknik Mempengaruhi

Pada orang Mendekati, gunakan kata-kata seperti: mendapatkan, mencapai, termasuk di dalamnya, memungkinkan Anda untuk, keuntungan, dll.

Sementara pada orang Menjauhi, pakailah kata-kata seperti: menghindari, tidak akan mengalami, memperbaiki, menjaga Anda dari, tidak sempurna, mari kita cari tahu dimana kesalahannya, dll.

Konteks Yang Cocok

Anda membutuhkan orang Mendekati untuk pencapaian melebihi target. Orang Menjauhi bisa saja menjalankan pekerjaan sales, misalnya, tapi ia tidak akan melebihi target—sesuatu yang disukai oleh perusahaan Anda. Pastikan pekerjaan yang seperti ini ditangani oleh orang Mendekati.

Sisi lain, biarkan orang Menjauhi untuk menyelesaikan berbagai permasalahan yang timbul, karena mereka memiliki passion dalam soal ini. Anda akan membuat orang Mendekati lari jauh-jauh jika dihadapkan pada soal troubleshooting.

Dan, Anda ingin tahu apa yang dikatakan oleh sang terapis kepada sang ibu? “Sudahkah Anda mengancamnya, benar-benar mengancamnya, untuk mengurangi uang saku atau hal apapun yang ia senangi?”

Wuih, benar-benar belum terpikirkan oleh sang Ibu, karena ia memang ingin lebih banyak memotivasi anak-anaknya untuk mencapai sesuatu alih-alih menghindari sesuatu.

“Bisakah ini bekerja?” tanya sang Ibu penasaran.

“Mengapa tidak? Tidak semua orang bisa terpacu karena hadiah. Ada kondisi tertentu mereka justru terpicu karena rasa sakit yang cukup sakit tapi tidak terlalu menyakitkan,” jawab sang terapis.

Sang Ibu pun pulang. Seminggu kemudian, ia menelepon sang terapis, untuk mengabarkan kesuksesannya.

Dan…meta program yang selanjutnya adalah….

Leave a Reply

Top