You are here
Home > Neuro-Linguistic Programming > NLP Basic > NLP and The Structure of Hypnosis (2)

NLP and The Structure of Hypnosis (2)

”Bagaimana seorang hipnotis bekerja?” tanya seorang kawan.

”Dengan mengucapkan kata-kata,” jawab saya.

”Hanya itu? Bagaimana dengan bandul, kursi malas, dll?” tanyanya penasaran.

”Ya, cuma itu, tanpa bandul dan kursi khusus. Hanya memang kata-katanya itu ada rahasianya,” sambung saya.

”Rahasia? Apa tuh?”

Seorang hipnotis adalah pakar dalam menggunakan kata-kata yang mampu mengarahkan pikiran-perasaan seseorang untuk ”masuk ke dalam” dan mencari maknanya sendiri. Kata-kata inilah yang kemudian disebut sebagai hypnotic language pattern dalam NLP. Hypnotic language adalah jenis kata-kata dan susunan kata yang mampu membuat pendengarnya mengalami trance. Nah, jika Anda buka kembali bab mengenai Meta Model, maka pelanggaran-pelanggaran Meta Model itulah beberapa jenis susunan kata yang memiliki efek seperti ini. Kata ”motivasi”, contohnya. Ia adalah sebuah nominalisasi, yang untuk memahaminya, kita harus mengalami TDS dan mencari sendiri makna yang kita miliki terhadap kata tersebut.

Hampir semua kata-kata yang merupakan hasil evaluasi dari sesuatu memiliki efek hipnotik. Dalam NLP, kata-kata yang demikian disebut dengan evaluative words, sementara kata-kata yang memiliki efek sebaliknya disebut dengan sensory-based words.

Dan, bagaimana persisnya kita bisa memainkan hypnotic language dalam komunikasi kita? Mari kita mulai petualangan kita di…

Milton Model: The Reverse Meta Model

Setelah melakukan modeling, John Grinder pernah mengungkapkan bahwa Milton Erickson telah menyediakan sebuah model komunikasi yang paling ampuh yang pernah ia gunakan. Betapa tidak? Erickson telah merevolusi cara kerja hipnosis—dan juga komunikasi—sehingga menjadi begitu fleksibel dalam mengatasi berbagai persoalan. Itu baru soal pola bahasa. Erickson juga mengajarkan hal penting lain yang menjadikannya seorang hipnoterapis yang tidak pernah gagal: behavioral flexibility.

Loh, itu kan salah satu pilar NLP?

Memang, sebab kebanyakan prinsip-prinsip dan presuposisi NLP sebenarnya diadaptasi dari prinsip yang diajarkan oleh Erickson. Ia mengajarkan kita untuk menghargai unconscious mind seseorang, meyakini bahwa setiap perilaku selalu memiliki maksud baik, bahwa setiap orang mengambil keputusan berdasarkan pilihan terbaik yang ia miliki saat itu, bahwa setiap orang memiliki segala sumber daya yang dibutuhkan untuk mengubah dirinya, begitu juga dengan teknik-teknik membangun keakraban seperti pacing-leading.

Nah, kebalikan dari Meta Model yang melakukan proses pencacahan (chunk down) terhadap berbagai distorsi, generalisasi, dan delesi dari informasi, Milton Model justru melakukan ketiga proses tersebut secara brilian. Bukannya menggunakan kata-kata yang semakin spesifik, Milton Model malah menghaturkan informasi yang semakin umum (chunk up). Mengingat-ingat pelajaran Bahasa Indonesia SMP dulu, Meta Model adalah kata-kata dalam kelompok hiponim, sedangkan Milton Model adalah kata-kata dalam kelompok hipernim. Inilah sebabnya, Milton Model seringkali disebut dengan ”the precise use of vague words”.

Menggunakan Milton Model, kita memfungsikan distorsi, generalisasi, dan delesi dengan tujuan yang presisi. Kita memberi ruang terbuka untuk diisi oleh pendengar dengan melakukan pencarian ke dalam. Oleh sebab itu, Milton Model dasar adalah menggunakan pelanggaran Meta Model yang bertujuan. Mari kita bahas kembali Meta Model satu per satu, namun kali ini dengan sudut pandang yang berbeda.

Distortion

Nominalization.

Menggunakan nominalisasi, kita menghentikan sebuah proses yang berubah-ubah menjadi sesuatu yang statis, sehingga dapat bertahan secara permanen dalam diri seseorang. Kata-kata yang bercetak tebal berikut ini adalah nominalisasi yang disengaha.

Anda tahu bahwa Anda sudah memiliki kemampuan dan keterampilan yang dibutuhkan untuk melakukan perubahan, karenanya Anda pasti dapat melakukannya dengan mudah.

Mind Reading.

Memanfaatkan mind-reading secara tepat akan memunculkan semacam keyakinan dalam diri rekan bicara terhadap keahlian Anda.

Anda tentu bertanya-tanya tentang manfaat yang bisa Anda dapatkan dalam jangka panjang, bukan?

CauseEffect.

Guna menciptakan sebuah keterkaitan antara berbagai kondisi yang sudah diciptakan, Anda dapat menggunakan kata-kata kunci hubungan sebab-akibat untuk mengaplikasikan model ini.

Jika Anda mau melakukan latihan ini dengan serius, maka hasil yang akan Anda dapatkan pun menjadi semakin luar biasa.

Yakinlah, setiap ujian yang telah Anda lewati akan membuat Anda semakin matang dari waktu ke waktu.

Complex Equivalence.

Menggunakan model ini, kita dapat menciptakan tautan antara sebuah perilaku yang diinginkan dengan suatu kondisi tertentu yang diharapkan.

Mengeluarkan sedakah berarti menunjukkan kepedulian Anda terhadap keberlangsungan kehidupan orang lain.

Presuppositions.

Setiap kalimat selalu mengandung asumsi. Maka tantangannya bukan apakah kita akan memasukkan sebuah asumsi atau tidak, melainkan bagaimana kita memasang sebuah asumsi yang tepat untuk mengarahkan rekan bicara kepada perilaku dan kondisi yang diinginkan. Model ini sangat mungkin untuk dapat dikombinasikan model-model lain.

Ketika Anda selesai melakukan latihan nanti, Anda saya minta untuk menuliskan insight yang Anda dapatkan.

Dalam kalimat ini, kita berasumsi bahwa para pendengar pasti akan melakukan latihan sekaligus mendapatkan insight dari latihan tersebut.

Jika Anda mau menggali makna dari kejadian itu, Anda akan merasakan sebuah ketenangan yang luar biasa.

Asumsinya, si pendengar saat ini belum menggali dari kejadian yang dialami, dan karenanya masih belum merasakan ketenangan.

Generalization

Universal Quantifiers.

Memaksimalkan penggunaan model ini akan membuat proses pembelajaran yang sudah dilalui menjadi seolah ditempeli dengan sebuah seal sehingga memiliki efek permanen.

Setiap hal yang Anda temui besok pasti akan memberikan Anda pengalaman-pemgalaman baru.

Mulailah perubahan, dan Anda akan mendapati semua orang memunculkan respon yang berbeda kepada Anda.

Modal Operators.

Penggunaan modal operator akan menciptakan sebuah kondisi urgensi untuk melakukan/tidak melakukan perilaku yang diinginkan.

Sembari Anda mendengar suara-suara yang Anda dengar di ruangan ini, Anda boleh mulai merasa rileks dan nyaman.

Anda bisa melakukan hal itu dengan mudah, ketika Anda memutuskannya sekarang.

Lost Performer.

Anda sebenarnya sudah sering menggunakan model ini, ketika Anda mengatakan kalimat-kalimat yang berasal dari keyakinan, adat istiadat, dll. Rasakan saja bagaimana kalimat-kaliatm di bawah ini menimbulkan efek tertentu pada diri Anda.

Di balik setiap kesulitan selalu ada kemudahan.

Orang sabar disayang Tuhan.

Deletion

Simple Deletion.

Menggunakan penghapusan secara sengaja akan menciptakan efek generalisasi bagi rekan bicara akan kondisi yang diharapkan.

Anda merasa nyaman.

Anda merasa bahagia.

Anda tahu, bahwa Anda tahu.

Comparative Deletion.

Menggunakan model perbandingan tanpa menyebutkan pembanding juga akan memunculkan efek generalisasi terhadap kondisi positif yang Anda inginkan.

Anda merasa lebih bahagia.

Bukankah Anda lebih tahu tentang diri Anda sendiri?

Unspecified Noun or Verbs.

Model ini mensyaratkan kita untuk menggunakan kata benda dan kata kerja yang bersifat umum untuk memunculkan efek distribusi kondisi yang diharapkan ke seluruh konteks yang mungkin.

Anda akan mendapati bahwa orang-orang akan memandang Anda dengan cara yang berbeda mulai dari sekarang.

Jika Anda tidak memperhatikan kepentingan rakyat, maka tunggu saja kehancurannya.

Mudah, bukan?

Nah, selain melakukan ’pelanggaran’ Meta Model, Bandler dan Grinder rupanya juga menemukan model-model lain dalam hypnotic language yang digunakan oleh Milton Erickson. Dan, menggunakannya secara kombinasi akan menjadikan efek hipnotiknya semakin kuat.

Apakah model-model itu? Anda akan temui di artikel selanjutnya…

One thought on “NLP and The Structure of Hypnosis (2)

Leave a Reply

Top