You are here
Home > Neuro-Linguistic Programming > NLP Basic > NLP and The Structure of Hypnosis (3)

NLP and The Structure of Hypnosis (3)

Milton Model Continued

Selain memanfaatkan pelanggaran Meta Model, Erickson rupanya juga menggunakan beberapa bentuk hypnotic language yang lain. Maka Bandler dan Grinder pun menemukan beberapa mode berikut ini.

Tag Questions

Membaca sampai di halaman ini, Anda tentu penasaran dengan apa yang akan Anda pelajari, bukan?

Nah, saya baru saja menggunakan tag question. Model ini akan menarik perhatian pikiran sadar dan karenanya membuka jalan bagi inti pesan yang ingin kita sampaikan untuk masuk langsung ke unconscious. Dengan demikian, kemungkinan munculnya resistensi dari rekan bicara Anda dapat dihindari.

Sebuah keuntungan bahwa bahasa Indonesia memiliki lebih sedikit macam jenis tag question, tidak seperti dalam bahasa Inggris. Beberapa di antaranya adalah:

Iya, bukan?

Betul, bukan?

Anda tidak bisa melakukan itu sekarang, betul?

Apakah Anda mau membantu kami minggu depan, atau tidak?

Dan, dari eksplorasi yang saya lakukan, saya mendapati bahwa dalam bahasa Indonesia, kata ”bukan” dapat menjadi lebih ampuh efeknya ketika disingkat menjadi ”kan” saja.

Anda tentu setuju dengan kesimpulan saya ini, kan?

Double Binds

Model yang satu ini memungkinkan Anda untuk dapat memberikan setidaknya dua buah pilihan kepada rekan bicara Anda, yang ketika ia memilih salah satu atau yang lain, kesemuanya tetap merupakan pilihan yang Anda inginkan.

Bapak ingin barang pesanannya nanti saya antar langsung ke rumah atau ke kantor?

Ibu ingin membeli baju ini setelah atau sebelum berkeliling?

Anda ingin memesan 2 atau 3 buah?

Kamu akan mengerjakan PR sebelum atau sesudah makan malam?

Nak, mau dimandikan ayah atau bunda?

Apakah Anda ingin berhenti merokok dalam minggu ini atau minggu depan, Anda sudah tahu bagaimana akan melakukannya, bukan?

Tidak peduli pilihan mana yang akan diambil, kesemuanya mengandung presuposisi bahwa Anda setuju dengan pilihan tersebut, hanya belum setuju dengan waktu, tempat, ataupun jumlahnya.

Conversational Postulate

Bisakah Anda membaca uraian berikut ini dengan lebih lambat?

Maukah Anda menutup pintu?

Sudikah Anda untuk mengambilkan segelas air?

Ia tampak seperti sebuah pertanyaan dengan jawaban ”ya” atau ”tidak”, namun ia mampu mem-by pass pikiran sadar dan mempengaruhi unconscious untuk memunculkan keinginan melakukan perilaku yang ditanyakan. Menggunakan model ini akan mengurangi efek citra otoriter yang bisa timbul di dalam pikiran si pendengar.

Quotes

Sebelum belajar NLP, saya hanya pernah mendengar seorang rekan mengatakan adanya beberapa teknologi baru transformasi diri yang dapat digunakan secara praktis. Maka ketika saya tanyakan kepadanya perihal kebenaran informasi tersebut, ia pun berkata, ”Betul kok. Saya membacanya di sebuah buku yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Isinya tentang berbagai teknik-teknik praktis untuk transformasi diri.”

Bukankah Anda merasa lebih nyaman dengan model penjelasan di atas? Tentu, bukan? Begitu banyak pembicara hebat tidak pernah melepaskan diri untuk menggunakan model yang satu ini. Secara logika, quote akan mengajak pikiran sadar si pendengar untuk mendisasosiasi pesan yang disampaikan oleh pembicara sehingga inti pesannya dapat langsung masuk ke dalam unconscious.

Para ulama dan ahli agama sebenarnya sangat ahli dalam melakukan hal ini, terutama ketika mengutip ayat-ayat dari kitab suci maupun nasihat dari orang-orang bijak.

Nah, coba rasakan efeknya jika Anda mendengar kalimat seperti ini:

Eh, kemarin bos bilang kalau kamu harus bantu aku selesaikan tugas ini.

Saya sudah bilang kepada atasanmu, dan dia bilang dia setuju kamu kasih saya harga segitu.

Saya tidak tahu Anda bagaimana, tapi yang jelas saya sudah mendengar pengakuan dari 10 orang peserta training saya yang mengatakan bahwa training ini telah mengubah kehidupan mereka.

Selectional Restriction Violation

Aturan linguistik mengatakan bahwa sebuah obyek selalu memiliki kategori tempat ia masuk di dalamnya. Sebagai contoh, harimau, singa, kucing, anjing, burung bangau, termasuk dalam kategori hewan. Sementara, mawar, melati, kamboja, rumput, pohon mangga, termasuk dalam kategori tumbuhan. Nah, memahami kategorisasi seperti ini, pikiran sadar kita akan dengan segera melakukan proses seleksi terhadap kata-kata yang kita dengar, apakah ia masuk ke dalam kategori yang seharusnya. Maka ketika terdapat kata-kata yang tidak pada tempatnya, pikiran sadar kita pun ’bingung’ dan karenanya dapat dengan mudah ter-by pass.

Dengarkan hati Anda berbicara…

Tidakkah Anda mendengar jeritan hutan belantara yang tebabat habis itu?

Cinta ini membunuhku…

Hati-hati, di sini, dinding pun bisa mendengar.

Jangan khawatir, mobilku ini sudah tahu harus kemana.

Jelas organ yang bernama hati tidak mungkin bisa berbicara. Jelas hutan belantara tidak mungkin bisa menjerit seperti manusia. Jelas konsep abstrak seperti cinta tidak mungkin bisa membunuh. Jelas dinding tidak memiliki telinga, apalagi bisa mendengar. Kesemuanya itu adalah pelanggaran terhadap kategorisasi yang akan membingungkan pikiran sadar, dan karenanya Anda dapat langsung mengantarkan inti pesan ke unconscious.

Embedded Command

Embedded command adalah sebuah cara yang kita lakukan untuk memberikan perintah secara tersamar.

Caranya?

Cukup dengan memberikan penekanan khusus terhadap kata-kata yang kita ingin perintahkan. Sesuai dengan kaidah kongruensi suara, maka pada kata-kata tersebut, kita berikan tekanan dengan nada yang rendah dengan volume yang lebih tinggi dibanding kata-kata lain. Proses yang terakhir ini dinamakan dengan Analogua Marking.

Anda tentu tahu, bahwa melakukan hal ini sebenarnya adalah sebuah hal yang amat mudah.

Bacalah kalimat di atas dengan penekanan pada kata-kata yang bercetak tebal.

Bukankah Anda merasakan sebuah perbedaan yang luar biasa?

Membaca sampai halaman ini, Anda boleh mulai berlatih dengan lebih intensif berbagai hal yang sudah Anda pelajari.

Embedded Question

Model ini memiliki kemiripan dengan embedded command, hanya ia menggunakan bentuk kalimat tanya. Seperti halnya embedded command, analogue marking merupakan titik krusial untuk memastikan model ini efektif.

Saya penasaran, kapan Anda akan mulai untuk memperbaiki proses kerja seperti yang Anda janjikan?

Saya tidak tahu apakah Anda ingin memberikan penjelasan dalam bentuk tertulis kepada saya.

Saya bertanya-tanya, mengapa pesanan saya belum juga sampai hingga hari ini.

Bentuk pertanyaan ini juga merupakan perintah tersamar yang bersifat sangat halus dan menghindarkan resistensi dari si pendengar. Ingin lebih ampuh lagi? Gabungkan dengan double bind.

Saya tidak tahu apakah Bapak Ibu lebih menyukai saya memberikan materi dalam bahasa Indonesia atau bahasa Inggris.

Saya juga tidak tahu apakah Anda ingin memulai latihan memberikan embedded question sekarang atau satu jam lagi.

Utilization

Utilisasi adalah keahlian yang khas dari Erickson. Inilah salah satu model mutakhir yang, menurut saya, menjadikannya tidak pernah gagal dalam melakukan hipnosis. Betapa tidak? Memahami utilisasi berarti Anda menggunakan segala yang terjadi pada diri rekan bicara dan hal-hal lain di sekeliling sebagai jalan untuk membimbingnya ke arah trance.

Saya teringat sebuah pengalaman ketika bersama seorang kenalan yang meminta bantuan untuk saya coach. Setelah segenap proses menggunakan submodalitas, membimbingnya menuju sebuah state yang diinginkan, saya pun memasang sebuah anchor di salah satu lengannya. Entah bagaimana cara saya memasangnya, ketika kemudian saya melakukan brake state dan bermaksud melanjutkannya dengan future pacing, anchor yang telah saya pasang rupanya tidak bekerja sebagaimana saya harapkan.

”Apa yang terasa Pak?” tanya saya dengan penuh percaya diri sembari menekan anchor tersebut, mengharapkan sebuah reaksi akibat munculnya kembali state yang sudah berhasil ia capai.

”Sakit, Mas,” jawabnya singkat, tanpa menunjukkan ekspresi bahwa ia telah kembali ke state tersebut.

Ups, apa yang harus saya lakukan? Seketika pembelajaran saya mengenai utilisasi pun menyeruak, dan mendorong saya untuk berkata, ”Bagus. Dan, rasa sakit ini, akan membimbing Anda untuk merasakan kembali, sekarang, perasaan yang sudah berhasil Anda capai beberapa menit yang lalu. Sebuah perasaan, yang Anda tahu ingin Anda rasakan ketika tujuan Anda sudah terwujud.”

Seketika, ekspresi wajahnya pun berubah, dan memunculkan tanda-tanda kembalinya state yang saya ingin ia rasakan kembali.

Dalam komunikasi sehari-hari, berikut ini beberapa contoh yang dapat Anda eksplorasi lebih lanjut.

Saya tidak tertarik untuk membeli produk Anda.

Tentu, Ibu jelas tidak akan tertarik untuk membeli jika belum tahu apa saa fitur yang akan Ibu dapatkan. Mari saya jelaskan.

Apa itu NLP? Saya tidak percaya ia mampu membantu persoalan saya.

Sepakat. Saya juga tidak akan percaya jika belum mencobanya sendiri. Saya sarankan Anda untuk mencobanya, sekarang.

Saya tidak yakin bisa melakukannya.

Ya, Anda memang tidak yakin Anda bisa melakukannya.

Saya sulit sekali memahami cara berpikir anak buah saya.

Ya, tentu sulit memahami cara berpikir anak buah Anda ketika Anda belum mengerti cara yang tepat untuk melakukannya. Mari kita bahas beberapa cara yang belum Anda coba.

Pacing Current Experience

Anda tentu ingat tentang bahasan kita bahwa Anda tidak bisa menghipnosis seseorang yang tidak mempercayai Anda, bukan? Nah, dari sini ingatan Anda tentu juga melayang ke pelajaran kita tentang bagaimana membangun rasa percaya melalui keakraban (rapport). Dan, saya yakin Anda juga masih ingat bahwa proses membangun keakraban selalu diawali dengan proses yang dinamai dengan pacing dan leading, bukan?

Di sini lah model ini bekerja. Salah satu cara praktis untuk membangun kepercayaan—dan karenanya mengurangi resistensi—adalah dengan melakukan penyelarasan terhadap pengalaman yang sedang dialami oleh rekan bicara kita. Melakukan hal ini akan mengajak mereka untuk secara otomatis fokus ke dalam pengalaman internal mereka. Berikut ini adalah contoh dalam konteks melakukan induksi.

Sambil Anda duduk dan mendengarkan suara saya, Anda mungkin merasakan bagaimana kursi yang Anda duduki menopang tubuh Anda, dan memberikan kehangatan tertentu pada punggung Anda. Dan, ketika Anda merasakan kesemua itu, Anda mulai menyadari bahwa nafas Anda keluar dan masuk secara bergantian. Hanya ketika nafas Anda keluar dan masuk secepat yang Anda inginkan, bukankah Anda dapat merasakan bahwa tubuh Anda terasa semakin rileks dan santai? Maka ketika suara saya yang Anda dengar sejak tadi, bersamaan dengan suara-suara lain yang juga ada di sekeliling Anda, berpadu dengan ingatan Anda tentang baju yang sedang Anda kenakan saat ini, nafas Anda semakin teratur, keluar dan masuk, sehingga menjadikan tubuh Anda semakin rileks dan nyaman.

Tentu saja tidak ada hubungan antara suara yang Anda dengar dengan kondisi rileks! Namun karena sugesti untuk rileks dimasukkan setelah proses pacing, maka ia menjadi tidak kentara dan seolah begitu logis, sehingga diterima begitu saja oleh unconscious.

Beberapa contoh lain adalah:

Anda duduk di ruangan ini.

Anda bersama dengan saya di ruangan ini.

Jantung Anda berdetak.

Anda mendengar penjelasan saya.

Anda membaca brosur yang saya berikan.

Anda mencermati proposal yang saya ajukan.

Linkage Language

Setelah Anda lakukan pacing terhadap pengalaman yang sedang berlangsung, Anda dapat melakukan leading dengan menyambungkan kalimat pacing dengan kalimat leading menggunakan kata sambung yang bersifat kausal. Saya katakan kausal, karena ia memang berfungsi untuk menciptakan transisi dari satu state ke state lain, seakan-akan ia memiliki tautan yang berarti.

1. Simple Conjunction. Gunakan kata hubung seperti kata ”dan” untuk mentautkan sebuah perilaku dengan pengalaman yang diharapkan. Kata

· Sambil Anda duduk, mendengarkan saya, DAN mulai penasaran dengan apa yang akan saya sampaikan, Anda boleh mencermati berbagai contoh yang saya berikan.

· Sementara Ibu mengamati brosur yang saya berikan, mendengarkan uraian saya, DAN bertanya-tanya tentang mana produk yang kiranya cocok dengan kebutuhan Ibu, izinkan saya untuk mencatat kapan saya bisa mempelajari kebutuhan Ibu dengan lebih komprehensif.

2. Disjunction. Sedikit berbeda dengan simple conjunction, Anda dapat menggunakan kata ”tetapi” untuk menggiring rekan bicara Anda ke dalam sebuah proses yang mirip.

· Saya tidak tahu apakah Bapak sudah pernah menggunakan produk serupa, atau belum pernah, atau berkeinginan namun belum sempat mencoba, tetapi yang pasti produk kami telah mengalami perbaikan sejak pertama kali diluncurkan dulu.

· Bisa jadi Anda pernah mencoba proses transformasi yang melibatkan NLP, atau metode lain yang mirip, atau belum pernah sama sekali, tetapi keputusan Anda sudah tepat untuk mencobanya sekarang.

· Pilihan yang Anda buat dulu bisa jadi dirasa kurang tepat saat ini, dan Anda merasa menyesalinya, atau ingin mengulanginya lagi, tetapi yang jelas saya ingin Anda tahu bahwa Anda telah membuat keputusan berdasarkan pilihan terbaik yang tersedia saat itu.

3. Adverbial clause atau implied causative. Dalam model ini Anda dapat menggunakan kata-kata penunjuk waktu untuk menciptakan kondisi trance. Beberapa kata-kata yang dapat digunakan adalah: saat, sementara, selama, sesudah, sebelum, akan membuat, dll.

· Saat Anda memilih untuk hadir di ruangan ini, saat itulah Anda sudah mempelajari cara untuk mengendalikan pikiran-perasaan Anda sendiri.

· Sementara Anda mempelajari dengan lebih seksama materi yang saya sampaikan, Anda boleh memikirkan aplikasinya dalam kehidupan Anda sehari-hari.

· Selama beberapa hari ke depan, Anda dapat mulai menerapkan cara-cara baru dalam meningkatkan produktivitas, yang baru saja kita pelajari.

· Sebelum kita beranjak ke acara penandatanganan kontrak, mari kita cermati dulu klausula-klausula yang kami usulkan.

Ambiguity.

Seperti kita tahu, bahasa yang kita gunakan terkadang memiliki berbagai macam makna yang menimbulkan lebih dari satu penafsiran pada diri di pendengar. Satu sisi, ia memang dapat menimbulkan salah tafsir. Namun jika digunakan secara tepat dan bertujuan, ia justru akan memunculkan kebebasan pada pendengar untuk memilih tafsir yang tepat bagi dirinya, dan karenanya memudahkannya untuk masuk dalam kondisi trance. Model bahasa seperti inilah yang kita sebut dengan ambigu. Kalimat ambigu jelas akan mengecoh pikiran sadar, sehingga inti pesan dapat masuk langsung ke unconscious.

Setidaknya ada beberapa jenis ambiguitas yang dapat kita manfaatkan dalam proses komunikasi.

1. Phonological Ambiguity. Cukup banyak kata-kata yang memiliki pengucapan yang mirip, namun arti yang berbeda.

· Anda tahu, jika Anda beruang, tentu Anda akan dapat melakukan banyak hal yang Anda tahu baik untuk dilakukan. Kata ’beruang’ dapat ditafsirkan sebagai hewan atau memiliki uang.

· Apakah ada sangsi yang akan Anda rasakan ketika melakukan hal itu? Kata ’sangsi’ bisa memiliki ambiguistas makna dengan kata ’sanksi’.

· Manusia telah diberikan masa secukupnya untuk hidup. Kata ’masa’ memunculkan ambiguitas makna dengan kata ’massa’ yang berarti waktu.

Beberapa kata lain adalah buku-buku (berarti buku dan lipatan), bisa-bisa (berarti mampu dan racun), bang-bank (berarti panggilan dan tempat penyimpanan), daki-daki (berarti memanjat dan kotoran), pasang-pasang (berarti memasang, air laut yang naik, atau jodoh), haus-aus (berarti ingin minum dan menipis), tang-tank (berarti alat pertukangan dan alat perang), keranjang-ke ranjang (berarti alat membawa barang dan menuju ranjang), bunga-bunga (berarti tanaman dan keuntungan dari meminjamkan uang), dll. Selain menggunakan homofon seperti beberapa contoh di atas, model ini dapat juga digunakan dalam bentuk polisemi.

Memang, model ini akan lebih mudah kita temui dalam bahasa Inggris daripada bahasa Indonesia.

2. Synctactical Ambiguity. Model ini terjadi ketika sebuah kata tidak dapat kita tentukan segera fungsinya dalam sebuah kalimat (apakah ia sebagai subyek, predikat, obyek, dll).

· Shinta, istri Rudy, sakit keras. Shinta lah yang sakit.

· Shinta, istri, Rudy, sakit keras. Shinta, istri, dan Rudy lah yang sakit.

· Shinta! Istri Rudy sakit keras. Istri Rudy lah yang sakit.

3. Scope Ambiguity. Anda bisa mendapati model ini ketika Anda tidak dapat segera mengetahui konteks bagaimana sebuah porsi dalam suatu kalimat menjadi bagian dari porsi yang lain.

· Berbicara kepada Anda sebagai seorang ahli. Siapakah yang ahli? Saya atau Anda?

· Ia pergi bersama teman dan orang tuanya yang cerdas itu. Siapakah yang cerdas? Teman atau orang tuanya?

· Mendengar penuturan Anto dan Budi melakukan perbuatan itu. Siapa kah yang melakukan perbuatan itu?

4. Punctuation Ambiguity. Ditemui ketika terjadi saling tumpang tindih antara kalimat-kalimat yang berbagi 1 kata atau frase.

· Setelah kita membicarakannya (sekarang) saya harap Anda dapat mengerti. Membicarakannya sekarang atau sekarang saya harap Anda dapat mengerti?

· Sebelum kita mencermati pengalaman kita (dulu) pastilah kita menginginkan yang terbaik. Mencermati pengalaman kita dulu atau dulu pastilah kita menginginkan yang terbaik?

· Ini bukan cinta (sekedar) cinta biasa (lirik lagu ST 12). Ini bukan cinta, atau sekedar cinta biasa, atau buakn sekedar cinta biasa?

Demikian lah, beberapa bentuk bahasa hipnotik yang menurut saya dapat Anda aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Tentu masih banyak lagi bentuk-bentuk lain yang lebih spesifik penggunaanya terutama dalam konteks melakukan induksi formal.

Satu hal yang ingin saya tekankan adalah bahwa model yang tersedia di sini hanyalah sebuah model yang layak untuk kita model, namun bukan untuk diyakini sebagai sebuah kebenaran yang mutlak. Beberapa di antaranya yang sepertinya tidak terlalu bisa diaplikasikan di dalam bahasa Indonesia, selayaknya jangan terlalu dipaksakan. Lebih baik—dan saya mendorong Anda untuk melakukannya—kita mencermati gejala bahasa yang terjadi dalam bahasa asli kita, dan menemukan model-model baru yang bersifat hipnotik dan relevan dengan kehidupan sehari-hari.

Leave a Reply

Top