You are here
Home > NLP Reflections > NLP Untuk Kebebasan dan Keserbamungkinan

NLP Untuk Kebebasan dan Keserbamungkinan

Cukup lama saya ingin menulis artikel ini. Namun karena saya masih merasa ada bangunan ide yang masih membutuhkan penggodokan, maka baru hari inilah artikel ini selesai saya tulis.

Dan, apakah yang membuat artikel ini lengkap?

Sederhana. Yaitu sebuah pertanyaan yang diajukan oleh kawan baru saya, Pak Dr. Gunawan, yang saya kenal secara resmi 3 hari lalu, ketika mendalami hipnosis bersama Mbak Yu Issa Kumalasari.

Singkat cerita, ketika kami sedang break, forum diskusi utara-selatan pun diadakan (baca: ngobrol ngalor ngidul). Dari pembicaraan yang asyik masyuk tentang per-NLP-an itu, tibalah kami pada sebuah pertanyaan, ”Apa ujung dari semua per-NLP-an ini?”

Hmm…sebuah pertanyaan yang menarik. Ya, menarik karena saya sendiri sempat mengalami fase naik dan turun selama 4 tahun mendalami NLP. Sebuah kalimat yang sempat membuat saya ragu dan sering diucapkan oleh para pakar NLP adalah, ”You can be ANYTHING that you want to be!”

”Ah, benarkah demikian?” pikir saya ketika itu. Kalau benar kita bisa BEBAS menjadi APAPUN yang kita inginkan, lalu mengapa kah saya tidak jadi berangkat berguru pada Eyang Bandler bulan Juli lalu? Ups…kok jadi curhat. He..he..

Dan, pertanyaan sederhana itu seolah menjadi tombol pemicu integrasi berbagai pembelajaran yang telah saya lewati dalam pikiran-perasaan saya. Ia seolah menyatukan rangkaian yang belum terangkai dari jutaan jaringan neuron yang memegang informasi yang terpisah-pisah, menjadi sebuah jalinan yang harmonis.

Seketika sebuah firman Tuhan menyeruak dalam benak saya: seorang manusia, hakikatnya adalah rahmat bagi seluruh alam. Nah, kata ’seluruh’ ini, jika kita cermati dari sudut pandang NLP, jelas merupakan unspecified verb yang butuh untuk dijelaskan. Ia segera akan mengajak kita untuk mengalami trance dan menafsirkan dengan cara kita sendiri, berdasarkan transderivational search yang kita alami. Ia adalah alam keserbamungkinan yang tak terbatas.

Namun, benarkah ia tak terbatas?

Hmmm…renung punya renung…sebuah suara pun berbisik di telinga saya: Bukankah tak terbatas itu tidak sama dengan tak punya batasan?

Heh! Hah! Hoh! Hih! Huh!

Wow! Subhanallah…! Ini dia nih. Ini dia yang namanya hikmah. Datang dari sumber yang tak diduga-duga, hanya ketika kita sudah dianggap siap untuk menerimanya.

Tak terbatas, bukanlah tak punya batasan. Ya, ya, ya. Manusia memang punya potensi tak terbatas, persis seperti yang digaungkan oleh NLP. Namun bukan berarti ia tak punya batasan.

Loh, bagaimana bisa tak terbatas jika ia masih punya batasan?

Ya tentu bisa. Dan, apakah batasan itu?

Ia adalah rasa syukur yang kita haturkan atas apa yang sudah kita miliki. Rasa syukur yang menimbulkan kepasrahan, hanya ketika langkah telah diambil dan waktu telah terlewat. Bukan kepasrahan, jika ia terjadi sebelum kaki diayun.

OK, mari kita agak membumi sekarang.

Apakah saya bisa jadi presiden? Apakah saya bisa jadi pengusaha dengan omset 1 miliar per minggu? Apakah saya bisa menjadi presiden direktur dalam waktu 5 bulan? Apakah saya bisa memiliki rumah senilai 2 miliar? Dan seterusnya…

Apa jawabannya?

Yak, tepat. Bisa!

Tapi…apakah ia akan benar-benar terjadi?

Tergantung.

Kok tergantung?

Ya, tergantung pada apakah langkah untuk meraihnya telah diayun, apakah sumber dayanya telah dimaksimalkan, dan apakah setiap pembelajaran yang diperoleh telah diaplikasikan lagi.

Nah..nah..nah..di sini lah menariknya. Kok, mesti menunggu ketika langkah telah diayun, memaksimalkan sumber daya, dan mengambil pembelajaran? Kan potensi kita tidak terbatas.

Aha! Ya, begitulah. Dia Yang Maha Menghendaki itu lebih tahu apa yang kita butuhkan, jauh lebih dari diri kita sendiri. Bukankah sebuah mobil tidak bisa tahu untuk apa ia bisa bermanfaat, manusia pembuatnya lah yang tahu? Sebab tugas sebuah mobil adalah melaju kemana pun ia bisa, semaksimal yang ia mampu.

Maka, di luar keserbamungkinan yang mungkin bisa dimiliki manusia, masih ada Yang Maha Menciptakan keserbamungkinan itu. Koneksikanlah outcome yang kita buat dengan-Nya, jalinlah rapport dengan-Nya, pekalah terhadap ayat-ayat-Nya, dan luweslah memaknai keputusan-Nya, maka segalanya dijamin pasti ekologis.

Sebab, the map is not the territory. Dan, bukankah kesuksesan, kekayaan, kebahagiaan, adalah peta yang kita ciptakan sendiri? Kalau kesemuanya hanyalah peta, apalagi syarat untuk mencapai peta-peta tersebut? Saya akan bahagia kalau punya uang banyak. Saya sukses kalau punya rumah besar. Saya kaya kalau bisa menyumbang sekian miliar. Dan seterusnya.

Hmm…tidakkah semua itu hanyalah sebuah peta dari peta? Bisakah kita sukses tanpa uang? Bisakah kita kaya tanpa harta? Bisakah kita bahagia tanpa materi?

Anda tentu sepakat untuk menjawab “Bisa”, bukan?

Ya, karena tidak ada satu pun dari hal-hal tersebut yang benar-benar nyata, selain ia nyata di dalam pikiran-perasaan kita sendiri.

Dan, di sinilah letak kebebasan dan ketidak terbatasannya. Ketika saya menggunakan NLP hanya untuk meraih apa yang tampak kasat mata, maka sebatas itulah kebebasan yang kita dapatkan. Namun ketika saya menggunakan NLP untuk mendapatkan apa yang tidak ada dalam peta saya, itu baru tak terbatas. Itu baru kebebasan.

Aha, bukankah kita sudah sering mendengarnya dalam ajaran agama: bebaskan lah dirimu dari belenggu materi dan keduniawian? Maka NLP adalah salah satu caranya. Bongkar peta-peta kuno dengan Meta Model. Mainkan kenyataan dengan submodalitas. Kreasikan dan instal peta yang kita inginkan dengan Milton Model. Buat ia menjadi otomatis dengan Anchor. Dan seterusnya.

Untuk tujuan apa?

Untuk menghadap pada Yang Maha Menciptakan kebebasan itu. Dan, ketika Anda menghadap-Nya, dekat dengan-Nya, maka ciptaan-Nya akan tunduk pada Anda, sebagaimana mereka tunduk kepada-Nya.

Di sinilah titik pencerahan yang saya dapatkan. Belum tentu ia sesuai dengan Anda. Maka saya hanya bisa menyarankan Anda untuk melanjutkan perjalanan, dan menemukan pencarian Anda sendiri.

One thought on “NLP Untuk Kebebasan dan Keserbamungkinan

  1. luar biasa… spritualis banget
    dulu saya pikir org belajar NLP cuman untuk masalah kenduniawian semata
    lanjut terus bro dengan tulisan semacam ini

Leave a Reply

Top