You are here
Home > NLP Practice > NLP Approach to Teaching and Learning (Part 2)

NLP Approach to Teaching and Learning (Part 2)

“Anak saya itu lho, kalau disuruh belajar kok susaaaaaaahnya minta ampun. Kerjaannya cuma main game terus seharian,” keluh seorang ibu.

“Wah, ibu pasti senang banget ya?” ujar saya.

“Loh, gimana sih? Ya pusing lah. Seandainya saja dia bisa belajar seperti main game itu, nggak usah disuruh-suruh. Seharian konsen terus.”

“La itu, emang gimana dia bisa main game seperti itu?” tanya saya.

“Tahu deh.”

Halo para pembaca! Bagaimana kabar Anda? Seberapa bahagia Anda hari ini? Jika Anda ingin amat sangat bahagia, seperti apa kah rasanya itu?

Dalam perjalanan saya mengeksplorasi pembelajaran, saya merasa begitu berhutang budi pada NLP, sebanyak NLP berhutang budi pada Milton Erickson. Ya, Milton Erickson adalah the master of utilization, alias jagonya pemanfaatan apapun yang terjadi pada diri klien sehingga menjadi solusi. The solution is in the problem itself. Alih-alih meributkan soal mengapa sesuatu menjadi “masalah”, mendingan dijadikan dasar solusi deh. Begitu kira-kira prinsip dasarnya.

Kok bisa?

Tentu bisa, jika meyakini asumsi dalam NLP yang mengatakan bahwa selalu ada maksud baik di balik setiap perilaku, dan setiap perilaku pasti memiliki manfaat di konteks tertentu.

Maksud loe Ted??

Ups, maaf kalau terlalu nge-NLP banget. OK, kita lebih membumi sekarang. Silakan jawab pertanyaan saya. Apa menurut Anda manfaat dari sebuah ‘masalah’ yang disebut dengan fobia?

“Ah, mana ada manfaatnya?” begitu barangkali reaksi Anda jika baru pertama kali mendengarnya.

Memahami NLP, saya yakin Anda akan segera berubah pikiran dan dengan tegas mengatakan: ADA!

Kok bisa?

Ya bisa. Fobia itu kan sebuah program otomatis yang membuat seseorang memunculkan reaksi fobik akibat adanya stimulus tertentu yang spesifik. Saya katakan otomatis, sebab saya yakin Anda tentu juga belum pernah menemukan seseorang yang lupa kalau dia fobia, bukan? Setiap kali dia melihat kancing, seketika itu pula ia pingsan. Tanpa jeda, tanpa berpikir. Otomatis. Padahal, berapa banyak pengalaman yang diperlukan seseorang agar bisa fobia?

Tepat. Cukup sekali!

Nah, saya membayangkan, betapa enaknya kalau kita bisa memahami cara kerja fobia, kemudian menerapkannya dalam proses belajar. Bukankah menyenangkan, sekali membaca buku dan ingat seumur hidup secara otomatis?

OK, bagaimana dengan procastination, alias suka menunda-nunda? Apa manfaatnya?

Aha, Anda sudah mulai menemukan kuncinya. Bukankah menarik jika seseorang yang kencaduan merokok, kemudian bisa menunda-nunda keinginannya merokok?

Nah, logika yang sama saya pergunakan untuk membimbing sang ibu tadi. Sang ibu sebenarnya sudah mulai menemukan kata kuncinya ketika ia berkata, “…seandainya dia bisa belajar seperti main game itu…”. Dengan menunjukkan perilaku yang penuh konsentrasi ketika bermain game, sejatinya kita bisa tahu bahwa sang anak sebenarnya memiliki kemampuan untuk mengalami flow dalam melakukan suatu kegiatan. Tinggal kita temukan saja deh struktur bagaimana ia bisa mengalami kondisi flow tersebut, dan mengganti isinya dengan kegiatan belajar.

“Anak ibu jago banget nggak sih kalau main game?” tanya saya.

“Ya iya lah. Dia ngerti betul setiap detil permainan itu, plus hafal tokoh-tokohnya, juga karakter dari masing-masing tokoh,” jawabnya.

Saya teringat sebuah cerita ketika Anthony Robbins (AR) membantu seseorang yang mengalami disleksia. Ia menemukan bahwa orang tersebut rupanya banyak menggunakan modalitas kinestetik dan hobi berselancar. Maka AR pun kemudian meminta orang tersebut merasakan dirinya sedang asyik berselancar di antara huruf-huruf yang dibacanya. Dan, BOOM! Tiba-tiba ia begitu lancar membaca!

Saya pun bertanya pada sang ibu, “Ibu tentu lebih tahu, bagaimana Ibu bisa memasukkan pelajaran melalui game yang dimainkan oleh anak Ibu, bukan?”

Sempat saya kemudian menerima kabar, bahwa sang anak sekarang sudah belajar dengan antusiasme yang sama dengan bermain game. Alih-alih menjadikan game sebagai musuh, sang ibu malah menjadikannya sebagai sahabat yang memudahkan proses belajar anaknya.

Jika Anda ingin tahu lebih banyak, mengapa tidak bergabung dengan kelas NLP for Teacher? Silakan klik di sini untuk informasi registrasinya.

Leave a Reply

Top