You are here
Home > NLP Practice > NLP Approach to Teaching and Learning (Part 3)

NLP Approach to Teaching and Learning (Part 3)

Setelah pada 2 tulisan sebelumnya kita membahas konsep, maka pada tulisan kali ini saya akan mengajak Anda untuk mulai melakukan praktik latihan sederhana.

Pikirkan sebuah situasi ketika Anda merasa begitu mudah dalam mempelajari sesuatu.

Bagus.

Sekarang, apa yang Anda lihat? Adakah ia seperti sebuah film yang bergerak atau foto yang diam? Adakah ia berbingkai atau panoramik (tanpa bingkai)? Adakah ia berwarna atau hitam-putih? Adakah ia fokus atau blur?

Nah, bagaimana dengan suara yang Anda dengar? Seberapa keras ia terdengar? Adakah ia musik, kata-kata, atau keduanya? Adakah ia stereo atau mono? Berjeda atau terus-menerus?

Sembari Anda melihat dan mendengar pengalaman itu, apakah yang Anda rasakan? Di bagian manakah perasaan itu Anda rasakan di tubuh Anda? Seberapa besar intensitas perasaannya antara 1-10 (1 paling ringan, 10 paling tinggi)? Biasanya, sebuah perasaan memiliki arah atau putaran tertentu. Kemana kah arah perasaan ini di tubuh Anda? Adakah ia berputar ke dalam atau ke luar?

OK, omong-omong, Anda sudah sarapan pagi ini? Setelah sarapan itu, apa yang Anda rencanakan untuk makan siang atau malam nanti?

Nah, mari kita lanjutkan dengan latihan kedua. Pikirkan sebuah situasi ketika Anda merasa begitu sulit dalam mempelajari sesuatu.

Bagus.

Sekarang, sama seperti yang Anda lakukan sebelumnya, apa yang Anda lihat? Adakah ia seperti sebuah film yang bergerak atau foto yang diam? Adakah ia berbingkai atau panoramik (tanpa bingkai)? Adakah ia berwarna atau hitam-putih? Adakah ia fokus atau blur?

Nah, bagaimana dengan suara yang Anda dengar? Seberapa keras ia terdengar? Adakah ia musik, kata-kata, atau keduanya? Adakah ia stereo atau mono? Berjeda atau terus-menerus?

Sembari Anda melihat dan mendengar pengalaman itu, apakah yang Anda rasakan? Di bagian manakah perasaan itu Anda rasakan di tubuh Anda? Seberapa besar intensitas perasaannya antara 1-10 (1 paling ringan, 10 paling tinggi)? Biasanya, sebuah perasaan memiliki arah atau putaran tertentu. Kemana kah arah perasaan ini di tubuh Anda? Adakah ia berputar ke dalam atau ke luar?

OK, bagaimana dengan besok pagi, apa sarapan yang Anda rencanakan?

Nah, sembari Anda mengamati kembali kedua pengalaman itu, apa saja perbedaan yang Anda temukan? Apa perbedaan di antara 2 gambar yang Anda lihat? Bagaimana dengan suaranya? Apa pula perbedaan perasaan yang Anda rasakan?

Dalam NLP, gambaran, suara, dan perasaan yang Anda lihat, dengar, dan rasakan ketika Anda membangkitkan sebuah pengalaman disebut dengan state. Mudahnya, state adalah kondisi pikiran dan perasaan Anda dalam satu waktu tertentu. Uniknya, state inilah yang menentukan perilaku yang akan kita munculkan.

Loh, kok?

Ya. Cobalah Anda ingat pikiran-perasaan Anda ketika sedang kesal? Dalam kondisi yang masih seperti itu, apa perilaku yang Anda munculkan? Bagaimana Anda merespon orang lain yang datang membawa sebuah “masalah” kepada Anda? Bagaimana pula Anda merespon orang yang membawa berita “gembira” kepada Anda?

Bandingkan dengan ketika Anda sedang berada dalam kondisi pikiran-perasaan yang amat bahagia. Dalam kondisi seperti itu, bagaimana perilaku Anda terhadap orang lain? Apa yang Anda lakukan ketika seseorang menyerobot antrian Anda?

Aha, Anda dapat menemukan bedanya? Bagus sekali!

Demikianlah, state adalah filter sekaligus energi penggerak yang menentukan perilaku yang kita munculkan.

Lalu, apa hubungan bahasan ini dengan proses belajar-mengajar?

Amat sangat berhubungan, sebab dalam NLP, yang dinamakan dengan “mudah” dan “sulit” dalam belajar adalah soal apakah kita berada dalam state yang tepat untuk mempelajari sesuatu. Anda tentu sepakat kalau mempelajari matematika membutuhkan state yang berbeda dengan mempelajari musik, bukan? Mereka yang kesulitan dalam belajar, bisa jadi disebabkan oleh state yang tidak sesuai dengan materi yang akan dipelajarinya.

Bagaimana dengan mengajar?

Persis sama. Bukankah ketika Anda mengajar, maka Anda juga belajar? Dan, keduanya membutuhkan state yang berbeda pula, tergantung pada materi dan situasi kelasnya.

Nah, bagaimana persisnya kita bisa memunculkan state yang tepat untuk setiap proses belajar-mengajar?

Nantikan di artikel berikutnya, OK!

Namun jika Anda penasaran untuk merasakan langsung cara melakukannya, mengapa tidak bergabung dengan kelas yang membahasnya? Silakan klik DI SINI untuk informasi registrasinya.

Leave a Reply

Top