You are here
Home > NLP Reflections > NLP Memang Tidak ‘Ilmiah’

NLP Memang Tidak ‘Ilmiah’

Terus terang, saya penasaran dengan artikel saya ini. Penasaran bukan pada hasil akhirnya, melainkan pada respon yang akan saya dapatkan dari pembaca. Bisa jadi sih, tidak ada respon apa-apa. Bisa jadi juga, akan muncul respon yang pro maupun kontra.

Saya teringat ketika melakukan riset kualitatif beberapa tahun yang lalu. Ketika itu, proposal yang saya ajukan mendapat komentar yang cukup menarik dari pembimbing saya. Beliau ini memang merupakan orang “langka” pada waktu itu, sebab memang di tempat kami kuliah masih jarang para dosen yang mendalami ‘metodologi’ kualitatif. Nah, saya merasa perlu memberi tanda kutip pada kata metodologi, sebab itulah komentar pertama yang diberikan oleh pembimbing saya ketika ia membaca proposal saya.

“Teddi, kualitatif itu bukan sekedar metode, tapi metodologi, a way of thinking.”

Dan, saya pun tersenyum, sebab menyadari bahwa saya masih menggunakan way of thinking-nya kuantitatif, padahal ingin melakukan sebuah eksplorasi. Saya menggunakan asumsi-asumsi adanya faktor-faktor yang akan diklarifikasi (kuantitatif), sementara saya inginnya melakukan sebuah petualangan yang entah berakhir seperti apa (kualitatif).

Jadilah kemudian saya mengajukan proposal yang telah direvisi. Membaca revisi saya, plus menandai target waktu penyelesaian saya, beliau pun berkata, “Kamu yakin rancangan ini operasional? Bisa dijalankan dalam waktu yang cukup singkat ini?”

“Insya Allah yakin Pak,” jawab saya.

“OK lah kalau kamu yakin. Saya hanya ingin mengatakan, bahwa sesuatu juga tidak bisa dikatakan ilmiah, jika ia tidak operasional.”

Saya mempercayai perkataan beliau, sebab beliau adalah seorang pembelajar, seorang penggila studi, dan peneliti mumpuni puluhan tahun. Seperti halnya ketika saya pernah baru mengetahui, bahwa yang namanya ‘signifikan’ 1 dan 5 persen itu sebenarnya tidaklah lebih dari kesepakatan di antara para ilmuwan saja. Ia bukanlah harga mati untuk menjustifikasi apakah sebuah penelitian dapat dikatakan valid atau tidak.

Pada pembimbing saya itulah, saya kemudian belajar banyak bahwa kata ‘ilmiah’ hakikatnya adalah sebuah nominalisasi dan generalisasi. Ilmiah menurut standar apa? Bagaimana persisnya hal itu bisa dikatakan sebagai ilmiah atau tidak? Ilmiah menurut siapa? Ilmiah di konteks yang mana?

Itulah sebabnya, dalam setiap jurnal hasil penelitian selalu dituliskan definisi operasional dari variabel yang ingin diteliti. Ya, sebab siapapun boleh menggunakan istilah yang sama, namun dengan pengertian yang sama sekali berbeda.

Ketika mendalami NLP, saya sempat terpikir untuk bercita-cita melakukan riset yang memungkinkan NLP ‘diakui’ keilmiahannya. Ya, maka waktu itu saya sempat cukup bersemangat ketika menemukan Steve Andreas, salah seorang NLP developer, mengajak orang-orang bergabung dalam NLP R & R Project, alias NLP Research and Recognition. Sampai, saya pun berubah pikiran.

Kok, berubah pikiran?

Ya, karena saya ingat pelajaran saya soal nominalisasi tadi itu. NLP dikatakan pseudo-science, lah, memangnya yang science itu sendiri yang bagaimana? La wong yang namanya metode ilmiah itu terus berkembang dari waktu ke waktu kok. Maka metode kualitatif seperti etnografi yang dulunya dianggap tidak ilmiah, malah sekarang menjadi alternatif dalam riset pemasaran. Bukankah modeling-nya NLP itu ya mirip-mirip etnografi?

Sisi lain, penelusuran saya terhadap literatur NLP menghantarkan saya pada beberapa pernyataan para co-founder NLP yang justru tidak berminat untuk menjadikan NLP ‘ilmiah’. Bandler sendiri bahkan menuliskan bahwa ia heran pada peneliti psikologi yang (waktu itu) berusaha menjadikan NLP ilmiah sebagaimana ilmu fisika dan matematika, sementara Einstein sendiri sudah mengembangkan tentang relativitas di dalam fisika.

Di titik inilah, sementara ini menyimpulkan bahwa NLP belum berminat untuk menjadikan dirinya ‘ilmiah’, sebab justru NLP itu muncul karena para pendirinya ingin keluar dari mainstream pemikiran ilmiah pada saat itu. La kok saya yang bukan siapa-siapa ini malah ingin meng-‘ilmiah’-kan NLP, sementara NLP sendiri ingin agar kita memiliki sudut pandang lain selain dari metode ‘ilmiah’ yang sudah ada. Mari kita daftar beberapa di antaranya:

  • Ketika penelitian berfokus meneliti orang-orang yang mengalami masalah, NLP berfokus pada orang-orang yang berhasil mengatasi masalahnya.
  • Ketika penelitian ingin melakukan generalisasi dan standardisasi terhadap ‘isi’, NLP justru ingin menekankan generalisasi terhadap dari struktur pengalaman.
  • Ketika penelitian mendalami para people-helper yang standar, NLP menyelami mereka yang exceptional.
  • Juga ketika penelitian berusaha memisahkan behavior dari people-helper tersebut dari belief dan intention-nya melalui metode observasi, NLP justru mengintegrasikannya dan mengatakannya sebagai the difference that makes a difference, perbedaan yang membedakan.

Tentu, itu belum semua, tapi setidaknya cukup untuk membuka mata saya bahwa NLP memang tidak perlu di-‘ilmiah’-kan, dengan standar yang ada saat ini. Jika memang ia bekerja, maka biarkanlah ia bekerja.

Bagaimanapun, ketika saya menulis artikel ini, sudah begitu banyak penelitian yang pada akhirnya membenarkan pendekatan-pendekatan. Sementara, beberapa orang peneliti yang konon pernah meneliti NLP dan mengatakannya sebagai ‘tidak valid’, justru dipertanyakan kualifikasi dan kedalaman pemahamannya tentang NLP.

Sudah lewat 3 tahun sejak saya menyelesaikan penelitian saya itu. Dan, saya masih ingat betul soal metode dan metodologi itu. Mirip seperti kata-kata, “Jika orang hanya memiliki palu, maka setiap hal akan dianggap sebagai paku.” Maka pemahaman kita akan manusia pun akan berkembang, ketika kita memiliki berbagai cara pandang yang variatif, selain cara pandang ‘palu’ saja.

Sampai di sini seorang kawan pun bertanya, “Jadi, kamu sudah tidak ingin lagi menjadikan NLP ilmiah?”

Saya hanya bisa menjawab, “Roti unyil buatan Ibu saya itu rasanya lebih enak ketika dibuat dengan tangan, daripada pakai mixer.” Ya, tergantung apa ‘ilmiah’ yang dimaksud lah. Lagian, ketika saya mengatakan roti unyil buatan Ibu saya enak, saya juga tetap bisa mengatakan kalau roti unyil yang dijual di kantor saya juga enak kok.

6 thoughts on “NLP Memang Tidak ‘Ilmiah’

  1. saya sbg pmula dlm per-NLP-an mnganggap kalo ilmiah dlm map saya adlh ilmu itu sndiri yg bs dipraktekan scra lngsung dn faidah yg didpt sgt byk..Byk yg dianggap ilmiah oleh map org byk namun keilmiahan hnya terdominasi oleh teori belaka

  2. kk saya mau bertanyan apa maksudnya melakukan generalisasi pada penelitian kuantitatif?
    tolong ya ka di jawab secepat nya thx

  3. @ Hilman: Loh, ruh penelitian kuantitatif kan memang usaha untuk melakukan generalisasi to? Makanya digunakan statistik. Sementara penelitian kualitatif fokus pada keunikan setiap kasus. Jadi saling melengkapi.

  4. Pingback: Apakah NLP Ilmiah?

Leave a Reply

Top