You are here
Home > NLP Reflections > Ketika Meta Model Menjadi Alat Untuk Berempati

Ketika Meta Model Menjadi Alat Untuk Berempati

Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan

Meta Model? Meta Model yang buat nanya-nanya itu?

Yak, tepat sekali!

Masak sih bisa buat berempati? Bukannya malah bikin orang sebel ya?

Ya, memang bisa bikin orang sebel, kalau belum tahu cara menggunakannya dengan benar.

Loh, memangnya gimana cara menggunakan Meta Model dengan benar?

Alhamdulillah, sudah 2 kali modul The Art of Communication Mastery saya gelar di MP Bookpoint. Isinya? Membahas abis aplikasi Meta dan Milton Model. Dan, alih-alih para peserta yang belajar dari saya, saya malahan belajar banyak dari dinamika yang terjadi di kelas. Inilah salah satu hal yang membuat saya ketagihan membagikan ilmu NLP. Saya jadi bisa mendorong diri saya untuk mempraktikkan apa yang akan saya bagikan, sementara saya mendapat limpahan ilmu yang luar biasa hasil eksperimentasi para peserta.

Lalu, bagaimana bisa saya berkesimpulan bahwa Meta Model adalah alat untuk berempati? Nah, bagi Anda yang belum mengenal Meta Model, silakan merujuk pada artikel INI terlebih dahulu sebelum melanjutkan membaca.

Begini ceritanya.

Meta Model berangkat dari sebuah asumsi bahwa yang namanya kata-kata adalah merupakan surface structure dari deep structure yang dimiliki oleh seseorang. Dengan kata lain, kata-kata adalah sebuah simbol yang mewakili apa yang sebenarnya ada dalam benak sang pengucap. Karena fungsinya mewakili, maka ia tidak akan pernah sama dengan yang diwakili, yakni isi yang ada di benak sang pengucap tadi, alias deep structure. Nah, deep structure sendiri sebenarnya juga merupakan sebuah simbol, yaitu simbol dari pengalaman asli yang dialami oleh seseorang.

Ah, mari kita cermati contoh berikut ini. Di hadapan Anda ada sebuah meja. Nah, ketika Anda menceritakan kepada rekan Anda mengenai meja yang ada di hadapan Anda itu, apakah rekan Anda pasti dapat segera menghadirkan meja yang persis sama dalam pikirannya? Tentu tidak, kan? Mengapa? Sebab kata-kata yang Anda gunakan untuk menjelaskan mengenai meja, hanyalah merupakan simbol dari gambaran mental mengenai meja yang ada di dalam benak Anda. Padahal, gambaran mental itu sendiri sudah merupakan simbol hasil reduksi dari benda asli yang bernama meja.

Kok reduksi?

Ya. Apakah gambaran meja dalam benak Anda adalah meja itu sendiri? Apakah gambaran Jakarta dalam sebuah peta bisa kita sebut sebagai Jakarta itu sendiri? Jelas tidak, kan?

Nah, inilah sebenarnya yang dimaksud oleh salah satu presuposisi terkenal dalam NLP, “The map is NOT the territory.” Maka apa yang kita ceritakan kepada orang lain, sejatinya bukanlah merupakan kebenaran mutlak, melainkan kebenaran hasil persepsi kita terhadap sebuah kejadian yang kita alami.

Uniknya, manusia tidak pernah mendasarkan responnya pada kejadian asli yang ia alami. Manusia justru menyandarkan responnya pada gambaran mental alias representasi internal alias deep structure yang ia miliki terhadap kejadian tersebut. Jadi, ketika Anda senang terhadap seseorang, bukan orang itu sebenarnya yang menyebabkan munculnya perasaan senang dalam diri Anda, melainkan representasi internal yang Anda buat terhadapnya lah yang menjadikan Anda senang. Begitu juga ketika Anda merasa sedih karena baru saja mengalami sebuah kejadian. Bukan kejadian itu sendiri yang menyebabkan Anda sedih, melainkan gambaran mental Anda tentang kejadian itulah yang menjadi pangkalnya.

Sampai di sini, menjadi masuk akal mengapa banyak ajaran pengembangan diri mengatakan bahwa kita bisa memilih respon yang kita munculkan, apapun kejadian yang kita alami. Kejadian adalah netral, kita tinggal memilih mau menyimpannya sebagai memori yang biasa-biasa saja atau luar biasa.

Lalu, apa hubungannya dengan Meta Model tadi?

Sangat erat nan harmonis. Untuk dapat berkomunikasi secara nyambung denagn seseorang, tentunya kita perlu memahami bagaimana seseorang sedang dan akan memunculkan respon yang kita harapkan.

Nah, bagaimana caranya memahami hal ini? Ya dengan memahami apa sebenarnya yang ada di dalam deep structure­-nya donk. La wong semua perilaku adalah respon dari deep structure.

Terus, bagaimana caranya kita bisa memahami deep structure seseorang? Ya gunakan Meta Model. Kan Meta Model memang dirancang untuk itu. Deep structure kita kan merupakan hasil proses delesi, distorsi, dan generalisasi yang secara alamiah terhadi dalam diri kita. Nah, berarti tinggal kita manfaatkan saja pola-pola pertanyaan dalam Meta Model yang memang sudah menyediakan hal itu. Maka ketika seseorang berkata,

“Ah, semua laki-laki itu penipu!”.

Dan kita menjawab,

“Semua? Bagaimana dengan ayahmu?”

Kita tidak sedang iseng ingin membuat orang tersebut kesal bin sadar. Kita justru sebenarnya sedang ingin memahami apa sih yang sebenarnya ada di dalam benaknya sehingga ia mengatakan hal tersebut. Nah, ketika ia menjawab,

“Ya nggak donk. Yang penipu itu 3 orang mantan pacarku itu!”

Kita pun menjadi paham bahwa sudah terjadi proses generalisasi dalam pikirannya, sementara hanya 3 orang saja yang ia anggap penipu. Maka sebagai seorang Meta Model-er sejati, kita selayaknya tidak berhenti sampai di sini. Kan tujuan kita untuk memahami sudah tercapai, ya sekalian saja kita bantu rekan kita ini untuk memiliki sebuah peta yang lebih kaya pilihan tentang laki-laki. Misalnya,

“Oh, berarti tidak semua laki-laki ya? Itu artinya masih banyak donk laki-laki jujur yang bisa menjadi pendamping hidupmu.”

Wah, luar biasa ya ternyata Meta Model itu. Mulia sekali.

Tentu. Kalau cara menggunakannya seperti ini, tidak akan ada tuh yang namanya Monster Meta Model. Justru orang yang menggunakan Meta Model akan dipandang sebagai orang yang menyenangkan karena telah berjasa memperkaya peta banyak orang.

One thought on “Ketika Meta Model Menjadi Alat Untuk Berempati

  1. wah.. mantap pak teddy,singkat tapi sudah membuka jalan pemahaman meta model sekaligus mencerahkan bagi saya..
    o.. ya pak teddy,tadi saya baru pesan buku the art of enjoying life di toko serambi,jadi makin ngiler ingin tau lebih dalam ttg nlp

Leave a Reply

Top