You are here
Home > NLP Reflections > Mengapa Fitnah Itu Lebih Kejam Daripada Pembunuhan?

Mengapa Fitnah Itu Lebih Kejam Daripada Pembunuhan?

Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan

Si A itu galak.

Si B itu nyebelin lho.

Demikian 2 kalimat yang saya dengar beberapa waktu belakangan di sebuah kantor. Beruntung, alih-alih mode gosip, yang muncul dalam kepala saya adalah alarm Meta Model. Ya, 2 kalimat tersebut jelas-jelas mengandung pelanggaran Meta Model, yang tidak saja punya efek hipnotik pada pendengarnya, melainkan juga mengandung sugesti (content) yang berbahaya.

Wah, yang bener? Kalimat sederhana itu?

Betul.

Kok bisa?

Mari kita bahas satu per satu. Pertama, dua kalimat tersebut jelas mengandung lost performative. Keduanya sama-sama tidak diberi subyek pengucap, sehingga seolah-olah ia adalah pendapat banyak orang, bahkan semua orang. Padahal, apa benar demikian? Menurut siapa Si A dan Si B galak dan nyebelin? Apakah menurut sahabat mereka juga demikian? Bagaimana dengan suami/istri mereka? Atau orang-orang yang pernah mereka bantu?

Kedua, kata ‘galak’ dan ‘nyebelin’ adalah 2 kata yang tidak spesifik. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan galak? Apakah ia teriak-teriak? Atau marah-marah? Atau berkata ‘ketus’? Apa pula yang dimaksud dengan ‘nyebelin’? Apakah ia seorang yang usil? Tidak kooperatif dalam bekerja sama? Tidak peduli lingkungan?

Ketiga, kedua kalimat tersebut juga mengandung generalisasi dan delesi. Bagaimana tidak? Mungkinkah ada orang yang selalu galak setiap saat, setiap waktu, setiap tempat, kepada setiap orang? Anda tentu sepakat untuk menjawab tidak, kan? Ya, sebab kalaupun ada orang yang demikian, pastilah ia sudah lama meninggalkan dunia ini.

Loh, kok?

Ya iya lah. Kondisi marah adalah kondisi emosi yang sangat intens. Seluruh tubuh berada dalam titik yang ekstrim, sehingga tidak mungkin seseorang mampu bertahan dalam kondisi tersebut setiap saat kalau tidak mengalami stroke.

Keempat, keduanya juga menimbulkan efek nominalisasi, dengan menempelkan label ‘galak’ dan ‘nyebelin’ pada Si A dan Si B. Dengan demikian, seolah-olah yang namanya Si A dan Si B itu adalah benda yang statis, yang hanya punya satu macam sifat saja. Apakah mungkin ada orang yang demikian di dunia ini, sama sekali tidak punya sifat lain?

Dan, apakah masih ada pola-pola pelanggaran lain? Tentu, silakan Anda temukan.

Nah, semua hal ini tidak terjawab jika pendengar hanya mendengarkan kalimat tersebut. Karenanya, sesuai struktur kerja pikiran yang selalu berusaha untuk mencari sebuah penyelesaian dari loop yang sudah terbuka, maka pendengar pastilah akan mencari makna sendiri.

Makna apakah itu?

Ya tergantung pendengarnya. Ini yang dinamakan proses TDS alias transderivational search. Atau, mudahnya, proses pencarian ke dalam pikiran masing-masing pendengar, makna yang paling cocok dengan informasi tersebut. Maka Anda tentu bisa membayangkan berapa banyak kemungkinan persepsi yang muncul dalam benak para pendengar, kan?

Ya, sebanyak pendengar itu sendiri!

Ada yang langsung mengkaitkan dengan orang tergalak yang pernah ia temui. Ada yang teringat pada seseorang yang ia benci. Bahkan bisa jadi ada yang langsung mengakses perasaan kesal yang pernah ia alami pada orang lain, dan jutaan kemungkinan lain!

Lalu apa efeknya?

Tanpa disadari, para pendengar sedang menempelkan kondisi pikiran-perasaan yang telah ia akses terhadap memorinya tentang Si A dan Si B. Dan bahkan ketika mereka sebenarnya belumlah mengenal siapa keduanya, mereka sudah memiliki persepsi subyektif bin negatif tentang keduanya.

Astaghfirullah! Bukankah dengan mengucapkan 2 kalimat tersebut sebenarnya si pengucap sedang menciptakan fitnah? Bagaimana tidak? Tanpa disadari, si pengucap sudah menstimulus para pendengar untuk menciptakan gambaran, suara, dan perasaan mengenai Si A dan Si B, sementara kesemuanya itu belum tentu benar! Dan apa menurut Anda yang akan terjadi dengan para pendengar itu ketika mereka satu saat nanti berjumpa dan berinteraksi dengan Si A dan Si B? Anda tentu bisa menebak sendiri.

Benarlah sebuah ajaran Nabi Muhammad SAW yang mengatakan bahwa banyak orang yang berjalan ke neraka dengan wajah mereka, semuanya tak lain adalah karena lisan. Benarlah pula bahwa fitnah itu jauh lebih kejam daripada pembunuhan.

Maka mengapa kita tidak memohon ampun terhadap entah berapa banyak kalimat serupa yang pernah tanpa sengaja kita ucapkan? Dan, mengapa pula kita tidak mendeklarasikan diri untuk, mulai sekarang, senantiasa menjaga setiap kata yang terlontar dari mulut kita?

Ya, bukankah belajar NLP berarti belajar berkata baik?

9 thoughts on “Mengapa Fitnah Itu Lebih Kejam Daripada Pembunuhan?

  1. Mas Teddi,

    Artikelnya, enteng dan berisi.
    Bolehkah saya meng-copy-nya dan mengirimkannya kepada ‘handai tolan’?
    Pastinya nama penulis dan sumbernya akan tetap saya cantumkan.

    Thank U

  2. @ Abdur Rasyid: Terima kasih telah mampir. Semoga bermanfaat.

    @ Pak Satibi: Kok nggak jadi ketemuan kita?

    @ Zenu: Monggo…

  3. analisis sampeyan mengenai fitnah (bahasa indonesia) dan kaitannya dengan sugesti memang betul. tapi ini jadi ndak nyambung sama dalil “fitnah lebih kejam dari pembunuhan” yang kalau dari ayatnya berbunyi ”wal fitnatu asyaddu minal qotli” (Al-Baqarah 217)… mohon dibedakan mas.. karena fitnah yang dimaksudkan lebih kejam dari pembunuhan bukan seperti itu. suwun.

  4. @ prayasa_wana@yahoo.com alias wong bodho: Btw, di bagian mana ya saya menyebut dalil di artikel di atas? Cuman, saya jadi penasaran nih sama komentar njenengan. Kabari saya ya kalau artikel njenengan tentang hal itu sudah di-post di blog njengengan.

  5. Ikut komentar ya. Dalam mengkaji sebuah tafsiran disarankan atas 4 referensi yakni dari sisi bahasa asal al quran itu sendiri, dari hadits, history dan hubungan antar ayat. Dan baru saja mas Teddy melengkapi dari prilaku bahasa di masyarakat, jadi sah-sah saja yg di share mas teddy, dimana ada nilai kebaikan dan kebenaran harus berani mengatakan dan harus didukung dengan knowledge. Lanjutkan sharenya mas 🙂

Leave a Reply

Top