You are here
Home > Communication > Dialog, Sebuah Pertukaran Makna

Dialog, Sebuah Pertukaran Makna

Ada beberapa jenis kata dalam bahasa Inggris yang mengandung arti percakapan. Salah satunya adalah dialogue. Meskipun memang seringkali yang lebih banyak digunakan adalah kata conversation. Tapi kali ini saya sungguh ingin menulis tentang dialog. Sebab sebagai sebuah bentuk percakapan, ia memiliki makna yang menarik, dan dalam.

Dialog, konon berasal berasal dari dua kata: dia dan logosDia, berarti saling atau melalui. Logos, berarti makna. Maka dialogos, atau dialog, berarti saling bertukar makna. Alias, pertukaran makna. Maka dalam bahasa Indonesia pun, istilah dialog telah diserap dan umunya dimakna sebagai sebuah percakapan yang mendalam. “Mari kita berdialog” biasanya adalah sebuah ajakan untuk berbicara yang lebih serius daripada “Mari kita mengobrol” atau “Mari kita bercakap-cakap”.

Sampai di sini, sebuah tanya tercetus dalam benak saya. Kalau dialog adalah jenis percakapan yang memungkinkan kita bertukar makna, apakah berarti ada jenis percakapan yang tidak demikian? Dengan kata lain, adakah percakapan yang masing-masing orang tetap memegang maknanya sendiri-sendiri, tanpa mempertukarkannya?

Pertanyaan ini kemudian membuat ingatan saya melanglang buana, jauh menelusuri jutaan pengalaman hidup. Dan jawabnya? Ya, memang ada. Ada percakapan bersama beberapa orang, yang meski begitu seru, tapi tak satu pun makna atau pemahaman baru yang saya dapatkan. Sementara ada percakapan dengan orang lain, yang acapkali singkat dan padat, namun berlimpah dengan makna. Orang-orang inilah yang sering saya sebut sebagai guru saya, siapapun dan apapun profesinya.

Dalam dialog, dua orang atau lebih seolah berada dalam sebuah aliran makna. Mereka terhubung dengan koneksi yang amat lancar, sehingga data yang satu mengisi data yang lain. Perasaan terhubung ini membesar seiring dialog berlangsung, hingga di akhir waktu terjadilah perubahan perasaan yang tak seperti sebelumnya. Senyum, adalah salah satu tandanya. Keduanya bertumbuh, sebab ruang berpikir yang ada telah meluas disebabkan kayanya makna baru yang terbentuk dalam kurun waktu bercakap itu.

Pernahkah Anda merasakan percakapan serupa ini?

Leave a Reply

Top