You are here
Home > Coaching > Aplikasi NLL dalam Coaching

Aplikasi NLL dalam Coaching

Artikel ini merupakan bahasan lanjutan dari artikel “Menyelami Lagi Neuro-Logical Level” (NLL). Dalam artikel tersebut, NLL yang bermula sebagai sebuah model unified theory of NLP, dan berfungsi sebagai sebuah ‘alat diagnostik’ kondisi klien, dapat juga kita gunakan sebagai metode untuk menyusun rencana. Sebuah rencana seringkali tak berjalan sebagaimana mestinya, sebab ia tak selaras dengan lapisan-lapisan pikiran dan perasaan dalam diri. NLL memungkinkan sebuah rencana memiliki makna yang mendalam sehingga menghadirkan energi besar untuk menjalankannya.

Nah, jika dalam artikel tersebut Anda diajak untuk mengaplikasikan NLL dalam menyusun rencana secara mandiri, saya ingin mengajak Anda untuk menggunakan NLL dalam konteks melakukan coaching terhadap klien. Kaidah dalam menggunakan NLL adalah, level yang di atas mengendalikan level yang di bawah. Tentu, ini sebuah asumsi. Jadi bukan kebenaran murni. Namun ini lah asumsi dasar yang digunakan dalam NLL. Jadi, ya, anggap saja benar lah ya. Hehe..

Sekedar penyegaran, inilah level-level dalam NLL:

NLL

 

 

 

 

 

Dan pertanyaan-pertanyaan coaching yang bisa kita mainkan antara lain adalah sebagai berikut:

 

Lingkungan

Di level lingkungan, seseorang berpikir atas kondisi di luar dirinya. Hal-hal yang terjadi padanya, namun tidak bisa dikendalikan. Misalnya: Atasan saya otoriter, suami saya tidak pengertian, anak-anak saya sulit diatur, gaji saya tidak naik-naik, inflasi tinggi, dll. Di level ini, kita mungkin belum bisa mengajak klien untuk secara langsung mengubah kondisi. Namun kita bisa mengajaknya untuk menyadari lebih luas, jernih, dan dalam tentang perannya dalam situasi tersebut.

  • Apa yang Anda pahami dari situasi ini?
  • Apa saja pelajaran yang bisa Anda ambil dari kondisi ini?
  • Bagaimana berbagai hal saling terkait dalam pandangan Anda?
  • Apa kontribusi Anda dalam situasi ini?

Pertanyaan-pertanyaan ini akan mengajak klien untuk kesadaran yang lebih baik, dan karenanya siap untuk melakukan perubahan.

 

Perilaku

Lingkungan tidak bisa dikendalikan, sebab ia memang ada di luar lingkaran pengaruh. Kita bisa mengubah lingkungan, melalui apa yang kita lakukan. Maka pertanyaan coaching di level ini adalah:

  • Apa yang bisa Anda lakukan dalam kondisi ini?
  • Apa yang telah Anda lakukan sejauh ini? Bagaimana hasilnya?
  • Apa saja hal yang Anda tahu mungkin memberikan dampak, namun belum Anda lakukan?
  • Apa saja tindakan lama yang perlu Anda hentikan?
  • Apa saja tindakan lama yang perlu Anda pertahankan?
  • Apa saja tindakan baru yang perlu Anda mulai?
  • Bagaimana tindakan baru ini Anda perkirakan dapat menimbulkan dampak yang diharapkan?

Di tahapan ini, klien mungkin dapat merencanakan banyak perilaku yang bisa ia lakukan untuk mendapatkan hasil. Nah, ada kalanya, beberapa tindakan yang direncanakan adalah tindakan yang belum pernah dilakukan sebelumnya, dan karenanya belum diyakini akan dapat dijalankan secara konsisten.

 

Kemampuan

Perilaku atau tindakan, dikendalikan oleh kemampuan, keterampilan, kompetensi yang dimiliki klien. Sebaik apapun panduan layanan pelanggan yang ditetapkan oleh perusahaan, misalnya, tidak akan dapat dijalankan dengan baik oleh para frontliner jika mereka tak terlebih dahulu dibekali dengan seperangkat keahlian untuk melakukan layanan prima. Di titik ini, lakukan eksplorasi bersama klien Anda akan hal-hal berikut ini:

  • Apakah Anda sudah memiliki kemampuan yang memadai untuk melakukan hal itu?
  • Apa saja kemampuan baru yang Anda butuhkan?
  • Pada siapa Anda bisa belajar kemampuan itu?
  • Apa saja kemampuan lama yang perlu Anda naikkan levelnya?

Pun ketika seseorang telah memiliki kemampuan, ada saja kemungkinan ia tak bisa mengeluarkan kemampuan tersebut secara optimal, sebab masih adanya penghalang dalam diri. Maka kita perlu mengajak klien untuk menelaah level…

 

Keyakinan

Keyakinan adalah hubungan kausal yang dianggap benar oleh seseorang. Orang tua saya guru, begitu pun saudara-saudara saya. Lalu terbentuklah keyakinan bahwa kami adalah keluarga guru. Ketika berkeinginan untuk membuat sebuah usaha, keyakinan ini berbisik, “Apa bisa ya? Kami ini kan keluarga guru.” Secara logika, keyakinan ini sungguh tak masuk akal, dan tak berhubungan sama sekali. Namun ia adalah hubungan kausal yang dianggap benar, yaitu ‘karena kami keluarga guru, rasanya sulit untuk menjadi pedagang’.

Nah, contoh-contoh lain amat banyak: Saya kan lulusan SMA, mana bisa jadi manajer. Saya kan anak baru, mana mungkin dapat nilai tinggi. Saya kan sudah tua, tidak bisa kerja cepat. Saya kan masih muda, ya memang masih lambat.

Di level ini, Anda bisa mengajak klien Anda untuk mengeksplorasi:

  • Apa yang ada di benak Anda tentang hal ini?
  • Apa yang Anda yakini benar mengenai hal tersebut?
  • Apa cara pandang yang Anda gunakan?
  • Apa yang Anda rasakan saat memikirkannya?
  • Apa cara pandang baru yang Anda perlukan?
  • Ada kah cara berpikir yang lebih baik?
  • Saya penasaran, mengapa Anda bisa sampai pada kesimpulan itu?

Keyakinan memiliki posisi yang cukup dalam, karenanya memerlukan kesabaran dan ketenangan dalam mendampingi klien mengeksplorasinya. Di level ini, amat sering klien segera mendapatkan sebuah pencerahan. Pun jika belum, silakan lanjutkan ke tahap selanjutnya, yaitu:

 

Identitas Diri

Identitas diri sebenarnya adalah sebentuk keyakinan juga. Hanya saja ia lebih mendalam sebab menyangkut keyakinan yang lebih fundamental, yakni keyakinan tentang diri: bagaimana seseorang mendefinisikan dirinya sendiri. Jika karena lahir dalam keluarga guru, seseorang kemudian mendefinisikan diri sebagai ‘saya ini kan guru, tidak layak berdagang’, maka kemampuan seperti apapun akan sulit terbentuk. Pekerjaan yang berhubungan dengan penjualan pun sulit dijalankan, sebab akan selalu melahirkan pertentangan batin. Istilah ‘konflik batin’ kerap merupakan indikasi adanya pertentangan antara identitas diri dengan tindakan yang dilakukan.

Di tahap ini, Anda dapat bermitra dengan klien Anda untuk mengeksplorasi:

  • Bagaimana Anda memandang diri Anda saat ini?
  • Apakah cara pandang ini mendukung Anda untuk mencapai hasil yang diinginkan?
  • Bagian mana kah dari identitas diri Anda yang belum selaras?
  • Seperti apa kah rasanya konflik batin itu Anda rasakan?
  • Mungkinkah Anda bisa memperluas definisi identitas diri itu, sehingga lebih selaras?
  • Identitas diri seperti apa yang Anda perlukan?
  • Apakah Anda mengizinkan diri Anda untuk memiliki identitas diri yang baru ini?

Mengeksplorasi identitas diri merupakan hal yang amat menantang, bagi coach maupun klien. Sebab ia menyangkut desain diri yang telah bertahun-tahun terbentuk. Berita baiknya, tak selalu hasil yang baru menuntut perubahan identitas diri secara radikal. Yang lebih sering saya alami adalah kita cukup membantu klien untuk memperluas definisi identitas dirinya, bukan menggantinya secara total. Misalnya, seorang klien sulit untuk berkomunikasi secara straight forward, sebab memiliki identitas diri bahwa ‘saya adalah orang yang baik, nice person, tidak suka menyakiti hati orang lain dan membuat orang lain kesulitan karena keterbukaan saya’. Dampaknya, ia kerap tidak berkata terus terang kala dihadapkan pada sebuah permasalahan, dan berakibat pada munculnya masalah yang lebih besar di waktu lain. Dalam kasus ini, mengubah identitas diri yang ia miliki bukanlah sesuatu yang krusial, sebab identitas tersebut sejatinya adalah hal yang baik. Yang ia perlukan adalah memperluas definisinya, misalnya, menjadi bahwa justru karena saya ini orang baik, saya harus berterus terang akan kondisi yang terjadi, agar tidak berakibat jangka panjang yang lebih fatal. Dan karena saya orang baik, maka saya akan terbuka pada rekan saya, daripada membiarkannya melakukan kesalahan yang dampaknya akan besar.

Di level ini, jika masih kita dapati adanya ganjalan, kita bisa melanjutkan perjalanan eksplorasi ke ranah…

 

Spiritualitas

Spiritualitas adalah level berpikir tentang kaitan yang lebih besar antara diri dengan kehidupan. Kita meyakini bahwa kita hanyalah bagian kecil dari desain yang lebih besar. Kita meyakini bahwa keberadaan kita di sebuah situasi, tempat, posisi, tidaklah kebetulan, melainkan ada untuk menjalankan sebuah misi. Maka eksplorasi yang dapat dilakukan antara lain adalah:

  • Apa kaitan kondisi ini dengan hal yang lebih besar?
  • Menurut Anda, ini semua tentang apa?
  • Apa misi Anda dalam kondisi ini?
  • Apa tugas Anda yang sebenarnya?
  • Bagaimana tugas yang Anda jalankan di sini, berdampak pada yang lain?

Eksplorasi di level ini akan benar-benar mengangkat klien ke sebuah cara pandang yang jauh lebih luas, dan menyadari keberadaannya saat ini.

Saya tidak lahir di keluarga pedagang. Saya pun sulit melihat diri saya sebagai pedagang. Namun kenyataan bahwa saya dihadapkan pada peluang ini, jangan-jangan merupakan tanda bahwa saya memiliki tugas yang memang harus saya tunaikan. Mungkin, gurunya para pedagang? Pedagang yang juga guru? Mengajari para pedagang cara berdagang yang etis? Memberi contoh bahwa kita bisa menjadi guru sekaligus pedagang?

 

Demikianlah. Kata kuncinya, kenali posisi klien dalam konteks NLL, lalu ajak ia bermain dan mengeksplorasi level-level lain, sehingga akhirnya selaras dan melahirkan motivasi tinggi.

Leave a Reply

Top