You are here
Home > Coaching > Antara Coaching dan Kecerdasan Emosi

Antara Coaching dan Kecerdasan Emosi

Menarik ketika saya menelaah ulang Primal Leadership, sebuah karya masterpiece dari 3 orang pakar kepemimpinan: Daniel Goleman, Richard Boyatzis, dan Annie McKee. Meski buku tersebut tidak membahas tentang coaching, namun apa yang ketiganya paparkan tentang proses pengembangan kecerdasan emosi sungguh begitu erat kaitannya dengan coaching. Saya bahkan berani mengatakan, bahwa kecerdasan emosi, faktor penentu kesuksesan yang lebih besar daripada IQ itu, hanya bisa berkembang melalui coaching.

Kok begitu?

Mari kita telaah ya.

Kecerdasaan emosi, tutur 3 pakar ini, sangat banyak melibatkan jaringan sirkuit yang berada di antara pusat pengendali otak di lobus prefrontal dan sistem limbik—sistem yang mengelola perasaan dan dorongan emosi. Maka keterampilan seseorang yang terkait dengan area limbik ini, menurut riset, paling bagus dipelajari lewat proses yang memotivasi, latihan yang teratur, dan umpan balik yang berkesinambungan. Sisi lain, pembelajaran yang melibatkan neokorteks, yang terkait dengan kemampuan analisa dan teknis, melibatkan proses belajar secara konseptual. Maka mempelajari hal yang bersifat analitis memang bisa kita lakukan, misalnya, melalui proses membaca buku atau mengikuti pelatihan. Namun proses seperti ini akan amat jauh dari memuaskan jika ditujukan untuk membangun kecerdasan emosi.

Masalahnya, kebanyakan model pelatihan yang ada saat ini, bahkan untuk tujuan yang terkait dengan keterampilan kecerdasan emosi seperti kepemimpinan, hanya fokus pada proses pembelajaran yang memuaskan neokorteks semata. Sebab sistem limbik, pengendali emosi itu, memang memiliki desain yang lebih primitif dibandingkan dengan neokorteks, dan karenanya menyerap informasi lebih lama. Neokorteks memungkinkan seseorang merasa paham akan kepemimpinan hanya dengan membaca buku atau mengikuti pelatihan 2-3 hari. Namun jangan heran jika enam bulan kemudian belum ada perubahan perilaku yang signifikan. Sebab apa yang dipelajari oleh neokorteks, perlu diinternalisasi di sistem limbik sebelum ia mewujud menjadi perilaku.

“Mengedukasi otak emosional untuk mempelajari kepemimpinan, karenanya, memerlukan model pembelajaran yang berbeda dibandingkan dengan otak analitis,” urai ketiga pakar ini. “Kepemimpinan memerlukan banyak latihan dan pengulangan.”

 

Ingin Menjadi Pemimpin? Berlatihlah Sejak Remaja

“Pintu gerbang awal untuk membentuk keterampilan kepemimpinan terbuka di masa remaja dan membentang hingga usia 20 tahun,” tutur Goleman, Boyatzis, dan McKee. Selama periode ini, otak—organ terakhir yang terbentuk secara anatomis—terus membangun fondasi koneksi jaringan sirkuit yang membentuk kecerdasan emosi. Karenanya, para remaja yang rajin melatih diri untuk berkomunikasi secara efektif dengan berorganisasi, misalnya, akan memiliki fondasi keahlian komunikasi persuasive yang kokoh saat kelak menjadi pimpinan.

Wah, bagaimana dengan mereka yang saat remaja kurang mengembangkan keterampilan kepemimpinan seperti ini?

Tentu tidak ada kata terlambat. Hanya saja, memerlukan motivasi yang lebih besar, sebab pengulangan yang diperlukan tentu juga lebih banyak. Kemampuan otak untuk membentuk jaringan baru terus berlangsung sepanjang hidup, hanya saja memerlukan lebih banyak energi di usia yang semakin dewasa. Mengapa? Karena jaringan baru ini harus ‘bertempur’ melawan jaringan lama yang telah banyak terbentuk sebelumnya. Ingat, sistem limbik memerlukan waktu lebih lama untuk belajar, namun dengan hasil yang lebih permanen. Tugas belajar di usia dewasa menjadi berlipat, sebab kita perlu merombak pola lama, baru kemudian memasukkan pola baru.

Nah, sampai di sini, sudah mulai kelihatan kaitannya dengan coaching?

Ya. Coaching sebagai sebuah proses pembelajaran memang bukan one trial learning. Ia merupakan perjalanan untuk membangun kesadaran akan perubahan, lalu sedikit demi sedikit menginternalisasi dan membentuk pola berpikir dan bertindak yang baru.

 

Ingin Hasil yang Lebih Permanen?

Para mahasiswa di Weatherhead School of Management di Case Western Reserve University wajib mengikuti serangkaian mata kuliah untuk membangun kompetensi kepemimpinan mereka. Dan bagian dari mata kuliah tersebut adalah meminta mereka untuk mengikuti pemetaan kecerdasan emosi, memilih kompetensi mana yang akan dikuatkan, kemudian dipandu untuk meningkatkannya melalui proses pembelajaran yang sangat disesuaikan dengan kondisi individual setiap orang. Pengukuran dan pembelajaran ini dilakukan secara berkala hingga mereka lulus.

Dan hasilnya sungguh mengejutkan. Bahkan hingga 2 tahun setelah proses perubahan dilakukan, mereka masih menunjukkan tingkat perbaikan kompetensi hingga 47 persen untuk kompetensi kesadaran diri, dan 75 persen untuk kompetensi manajemen relasi.

Simpulan dari riset ini: sekali seseorang mempelajari keterampilan kecerdasan emosi secara bertahap, ia akan mampu mengembangkannya sendiri. Proses belajarnya memang memerlukan waktu, namun hasilnya jauh lebih permanen. Goleman, Boyatzis, dan McKee menyebutnya sebagai deep learning. Dan proses yang memfasilitasi terjadinya deep learning ini adalah coaching.

Loh, kok tiba-tiba jadi coaching?

Nah, ini dia serunya. Boyatzis mengembangkan sebuah model yang menggambarkan bagaimana proses yang paling efektif untuk membentuk kecerdasan emosi dan kepemimpinan. Sebuah proses yang ia sebut sebagai Self Directed Learning. Proses ini terdiri dari beberapa tahap, yang kesemuanya dilakukan secara mandiri. Ya, coaching pun, sejatinya adalah proses perubahan yang dilakukan secara mandiri oleh klien. Coach adalah fasilitator yang membantu klien untuk menjalani setiap tahapan, namun keputusan untuk benar-benar menjalankan setiap rencana tetap ada di tangan klien.

Self Directed Learning diawali dengan menjawab pertanyaan pertama tentang Diri Ideal Saya, “Seperti apa kah diri ideal yang saya inginkan?” Pertanyaan ini mengajak kita untuk keluar dari masa kini dan memikirkan kemungkinan di masa depan.

Berangkat dari sini, kita berlanjut ke perjalanan kedua, yakni menjawab pertanyaan tentang Diri Saya Saat Ini, “Siapa saya? Apa saja kekuatan yang saya miliki, yang mungkin mendukung saya untuk menjadi diri ideal saya? Apa saja kelemahan yang saya miliki, yang perlu saya isi agar dapat menjadi diri ideal saya?” Pertanyaan ini mengajak kita untuk menelusuri potensi dan peluang perbaikan dari diri kita saat ini.

Pemahaman akan kondisi ideal dan kondisi saat ini memberikan kita gambaran atas ruang-ruang pembelajaran yang perlu dilalui. Maka langkah ketiga adalah menyusun Agenda Pembelajaran, yang dapat mengembangan kekuatan yang telah dimiliki dan pada saat yang sama mengkompensasi kekurangan yang ada. Agenda pembelajaran ini disusun sedemikian sehingga diperkirakan dapat secara bertahap mengurangi jarak antara diri ideal dan kondisi saat ini.

Setelah rencana disusun, langkah selanjutnya adalah bereksperimen menjalankan perilaku-perilaku, pola berpikir dan merasa yang baru, yang telah didesain di agenda pembelajaran. Pola-pola baru ini perlu dilatih secara berkesinambungan, sebab ia sejatinya adalah proses membangun jaringan neural baru yang memang memerlukan waktu dan kesungguhan.

Menarik untuk dicermati, bahwa Boyatzis meletakkan proses kelima di tengah, yakni proses untuk mengembangkan hubungan yang penuh rasa percaya, yang dapat membantu, mendukung, serta menguatkan setiap langkah dalam proses ini. Dan hubungan seperti ini, secara profesional dapat dipenuhi oleh proses coaching, oleh seorang coach.

Simpulannya, kecerdasan emosi, keterampilan pokok dalam kepemimpinan, hanya dapat dibangun melalui proses terstruktur yang bersentuhan langsung dengan dunia nyata. Karenanya, ia tak cukup hanya dipenuhi melalui pelatihan beberapa hari. Ia harus dijalani secara berkesinambungan. Dan coaching, adalah proses yang sangat ideal untuk hal ini.

 

Leave a Reply

Top