You are here
Home > Coaching > Coaching Insight > Coaching Insight #1: Coaching Menumbuhkanku

Coaching Insight #1: Coaching Menumbuhkanku

Saya pertama kali mengenal istilah coaching sebagai sebuah proses dan coach sebagai profesi pada sekitaran tahun 2007. Tiga tahun sejak pertama kali belajar NLP. Di tahun itu, saya menemukan beberapa buku tentang coaching, dan mulai mempelajarinya satu demi satu. Berbekal sedikit pemahaman tentang NLP, saya merasa sudah memahami coaching.

Ya, merasa. Dan ternyata, memang cuma merasa. Maka pada tahun 2013, 6 tahun setelahnya, saya memutuskan untuk belajar coaching secara komprehensif pada L. Michael Hall, saya pun tertunduk malu. Karena 6 tahun mempelajari coaching secara mandiri, bahkan berani mengadakan kelas-kelas coaching, I thought I know about it, while in fact, I almost know nothing.

Sebagai seorang trainer, saya mungkin boleh sedikit merasa memiliki kompetensi yang lumayan. Namun sebagai seorang coach, saya jauh dari kompeten. Delapan hari belajar dan berlatih, saya disadarkan akan sisi-sisi dalam diri saya yang perlu dibenahi. Utama adalah: niat dan keterampilan mendengar.

Ya, dari seluruh kompetensi coaching, mendengar adalah kompetensi yang merupakan fondasi dari yang lain. Mendengar dengan baik, maka sisanya akan jauh lebih mudah. Jika sepanjang sesi klien berputar-putar tak tentu arah, hampir dipastikan karena coach belum sanggup memfasilitasi proses dengan baik. Dan belum sanggupnya itu, dipastikan karena proses mendengar yang belum utuh dijalankan.

Dan saya, yang beberapa tahun melatih diri menjadi seorang trainer yang perlu banyak bicara, sungguh perlu membedah diri, menyadari, menelaah, hingga menimbulkan identitas baru sebagai seorang coach. Sebab soal mendengar ini rupanya bukan hanya tentang coaching. Ini adalah tentang diri saya sehari-hari. Saya yang sulit mendengar ketika coaching, adalah saya yang sama ketika bekerja, berteman, berkeluarga. Maka ketika perlahan-lahan, saya disadarkan akan betapa liarnya pikiran saya kesana kemari kala klien saya berbicara, ketika itulah saya mulai mendapati bahwa segala jawaban klien memang telah dimilikinya sendiri. Ia hanya tak mampu mendengarnya. Dan saya, sebagai coachnya lah, yang bertugas membantunya. Maka ketika saya mampu menjernihkan pikiran saya, membuka telinga dan hati, seketika jawaban itu tampak di hadapan.

Dan tanpa perlu menggurui, klien pun menyadari sendiri apa yang terjadi. Di titik inilah, coaching telah menumbuhkan diri saya. Proses coaching melahirkan diri saya yang baru. Diri yang tak merasa perlu membuktikan kepandaian dirinya dengan banyak bicara. Diri yang merasa aman dan nyaman untuk menjadi mitra bertumbuh, dan mengapresiasi apa yang klien temukan sendiri.

Akhirnya, bukan hanya klien yang bertumbuh, saya pun bertumbuh dalam tiap sesi yang kami lalui.

Leave a Reply

Top