You are here
Home > Coaching > Coaching Insight > Coaching Insight #2: Pertanyaan Itu pun, Untukku

Coaching Insight #2: Pertanyaan Itu pun, Untukku

Seorang klien, disebut coachable, ketika ia memang telah berada dalam kondisi psikologis yang siap untuk melakukan perubahan. Maka kondisi klien, sebenarnya sama dengan kondisi saya sebagai coach. Sama-sama orang sehat, yang sedang ingin menjadi lebih baik.

Nah, di sini serunya nih. Karena kondisi saya sama dengan klien, maka sebagaimana klien datang ke seorang coach, ia pasti memiliki kondisi yang memerlukan bantuan orang lain. Jika ia bisa memfasilitasi dirinya sendiri, tentu ia tak membutuhkan saya. Ketika seorang klien memiliki sebuah hambatan dalam dirinya, begitu pula saya.

Bingung?

Ya wajar, karena cerita saya memang belum selesai. Heheheā€¦

Saya mendapati bahwa beberapa klien, membawa kondisi yang sebenarnya pun saya alami. Karena saya orang luar, maka saya bisa melihat dan memahami apa yang sebenarnya terjadi, lalu memfasilitasinya untuk juga memahami kondisinya. Lucunya, cukup sering klien mengemukakan sebuah kondisi yang persis dengan yang juga saya miliki. Sehingga ketika saya mengajukan pertanyaan kepadanya, saya pun disadarkan, bahwa pertanyaan-pertanyaan itu pun untuk diri saya sendiri.

Contoh. Ketika seorang klien menetapkan sebuah target, yang ia ungkapkan seringkali adalah target yang belum spesifik. Maka saya pun memfasilitasinya dengan pertanyaan-pertanyaan yang akan membantunya menyusun target yang lebih spesifik. Nah, saya pun rupanya sering mengalami hal yang sama, yakni memiliki target yang tak kunjung saya kejar sebab ia memang belum spesifik.

Contoh lain, setelah klien memasang target, saya akan memfasilitasi untuk menelaah alasan yang ada di balik keinginan untuk mencapai target tersebut. Sebab alasan yang kuat akan mendorongnya menyusun rencana dengan sungguh-sungguh dan menjalankannya. Cukup sering klien yang awalnya mengeluhkan target yang tak kunjung dikejar ternyata memang memiliki alasan yang lemah. Nah, di titik ini pula saya sering berkaca, bahwa saya pun kerap menginginkan sesuatu, namun belum merenungkan alasan kuat yang akan mendorong saya untuk menggapainya.

Maka sungguh, saya kerap merasa mendapatkan manfaat yang sama besarnya dari proses coaching yang saya jalani bersama klien. Amat sering saya mensyukuri, dan menyadari seolah-olah klien-klien ini dihadirkan di hadapan saya, bukan saja untuk saya bantu, namun pada saat yang sama justru untuk membantu saya menyadari kondisi saya sendiri.

Leave a Reply

Top