You are here
Home > NLP Practice > Manfaat NLP bagi Para Sahabat

Manfaat NLP bagi Para Sahabat

Beberapa waktu lalu saya menulis sebuah status di Facebook, menanyakan manfaat belajar NLP pada para sahabat. Tidak disangka, jawaban yang muncul di komentar luar biasa. Belum lagi yang menulis di status dan me-mention saya. Berikut ini beberapa di antaranya. Selamat menikmati gairah yang terpancar dari kalimat mereka.


 

Dulu, saya sulit sekali untuk melobi orang pada saat pertama kali bertemu, tapi kini.. setelah belajar NLP, menjalin keakraban kilat itu begitu mudahnya. Hmm … Apa lagi ya, mas.. pola bahasa hipnotis itu membantu banget untuk membuat skrip iklan hehehe… Bgitu deh, mas Teddi Prasetya Yuliawan.. meski masih banyak lagi manfaat yg terus dirasa hingga hari ini. (Wira Ramli II)
 
Kemampuan interpersonal meningkat pak dan ketika memberi training jadi lbh menyatu dengan peserta. ūüôā (Anindityo Dwiprakoso)
 
Belajar NLP itu seperti minum air di samudra yang luas ya Mas. Buktinya sejak pertama kali belajar bersama mas Teddi tahun 2008, Sleight of Mouth , hingga sekarang masih terus belajar dan belajar. (Beta Sugiarso Ners-Coach)
 
Satu perubahan terbesar yg paling saya rasakan setelah mempelajari NLP adalah ketika saya bisa merubah persepsi saya saat melihat atau mengalami suatu hal, dgn memahami Frame dan Model of The World saya bisa mengatur sudut pandang mana yg harus saya gunakan untuk memaknai suatu kejadian yg saya alami, dan ini sangat bermanfaat bagi saya. (Muhammad Fariz Ibrahim)
 
Hampir semua aspek dalam hidup saya menjadi lebih baik setelah saya putuskan untuk pelajari NLP, mulai dari bagaimana saya memandang dunia, memaknai sebuah kejadian, teknik berkomunikasi dan merangkai kata untuk membantu profesi saya sebagai trainer dan coach.
 
Beruntungnya sambil saya terus pelajari NLP, ternyata NLP bisa juga digunakan untuk Coaching dan juga teknik Copy writing, sehingga semakin banyak saya pelajari NLP, semakin penasaran saya untuk terus mengetahui NLP lebih dalam. Terima kasih coach Teddi prasetya yuliawan sebagai inspirasi saya untuk belajar NLP dan coaching. (Dicka Christama)
 
Pertama saya belajar dulu, itu bingung. Disaat sekarang, bukan sekedar hanya komunikasi, pemahaman karakter dan arah motivasi saja yg didapat… Tapi lebih memahami bagaimana bagian didalam diri sendiri, seperti Ego, Hati, Kedewasaan dan Kemandirian…
Kedua untungnya masih terus belajar dan belajar… Satu diantaranya mau banget belajar dengan coach Teddi. (Haikal Rusli)
 
Pertama belajar dengan Mas Teddi, influencing with NLP. Tentang Rapport dipadu dengan Cialdini Principles. Jadi lebih memahami bahwa setiap orang adalah unik, dan kalau kita mau mengerti keunikan orang lain tersebut dan menyelaraskan diri dengannya maka keakraban bathin dari hati ke hati Insya Allah terbentuk. Josss.. (Andreas Anaya Pasolympia)
 
Senior2 saya yg berkecimpung di NLP seperti mas Teddi Prasetya Yuliawan mas ronny, kang asep, pak wiwoho, mereka adalah role model saya. Mereka menerapkan NLP di kehidupan sehari-hari mereka. Rumahtangga yg harmonis, sukses di pekerjaan, dan rendah hati. Sukses di karir, rumah tangga, dan masyarakat.
Saya beruntung pernah belajar NLP. Tidak hanya belajar tehniknya saja, filosofinya juga. Dan sekarang saya juga menerapkannya di kehidupan sehari-hari. Alhamdulillah banyak efek positif yg di dapat. Rumah tangga lebih harmonis, anak2 pada nurut dan lebih dekat, klien yg datang juga lancar, dan mudah menyesuaikan dengan berbagai golongan orang. Ada yg bilang belajar NLP mahal…tetapi hasil yg di dapat luar biasa. Untuk kelancaran karir, target sales tercapai, keluarga yg harmonis, hubungan dengan orang lain juga lancar dan banyak lagi keuntungan yg lain. Belajar NLP yuk… (Marta Listya)
 
Dan yang paling panjang adalah dari Bu Rita Anggorowati:

Saya diminta bercerita tentang apa yang membuat saya sedemikian tertarik untuk memperdalam NLP. Ehm, siapa saya ya? Sampai diminta? *tutup muka*¬†🙈

Baiklah, meski saya tidak yakin bahwa cerita saya akan menarik untuk dibaca, tapi saya akan bertutur tentang apa yang saya rasa.

Perjalanan hidup yang membawa saya berkenalan dengan Neuro Linguistik Programming (NLP). Karena saya tidak percaya kebetulan. Semua sudah Allah atur dan rencanakan. Sebagai seorang yang pernah mengenyam pendidikan Bahasa Inggris dimana saya mempelajari psikolinguistik dan memang memiliki tingkat kepekaan berbeda atas bahasa dan gesture serta cara bicara (karena memang mungkin dasarnya dulu memang orangnya baper-an😂🙈), saya tertarik dengan fakta bahwa rasa itu bisa diatur. Siapa yang atur? Ya kita yang punya badan, pikiran dan perasaan. Karena kita yang memiliki kuasa untuk mengontrol apa yang berada dalam genggaman kita. Ini yang perlu dimaknai.

Kenapa?
Karena seringkali, justru kita dikontrol oleh emosi dan perasaan serta suasana keadaan sekitar. Denger gosip sedikit, resah. Lihat orang emosi, deg degan. Denger lagu sedih, nangis. Baper.
Lalu hasilnya apa? Capek. Stress. Bete.

Nah, saya –yang banyak berinteraksi dengan orang-orang, rekan kerja, kolega, siswa dan banyak lagi– pernah berada di posisi yang sama. Peran saya di kehidupan sehari-hari, menuntut untuk bisa berada dalam kondisi yang tenang. Baik dalam berkomunikasi, berinteraksi maupun mengambil keputusan. Lha, kalau baperan terus kan ya susah, tho? *tepok jidat*

Saya perlu bisa mengatur emosi dan perasaan, agar saya bisa tenang dalam segala suasana (udah berasa iklan Coca cola, kan?)¬†😁

Banyak cara saya lakukan. Berdzikir, berdoa, meminta pada Sang Maha. Baca referensi dari mulai self-help book, buku pengembangan diri, kepemimpinan, dan banyak lagi.

Lalu, perkenalan dengan NLP melalui buku The Art of Enjoying Life dan penulisnya, Mas Teddi Prasetya Yuliawan, buat perjalanan pembelajaran saya dalam proses mengatur diri saya semakin berwarna. Sekali lagi, tidak ada yang kebetulan. Ini jalan Allah ar Rahman. Bisa kenal dan belajar langsung dengan penulis bukunya sekalian.

Semakin saya gali dan baca, semakin nyata banyak tidak tahunya saya. Maka saya terus bersemangat untuk belajar. Untuk menjadi saya yang lebih baik. Setidaknya, bagi diri saya sendiri. Yang pada akhirnya nanti, semoga saja, keberadaan diri saya ini bisa bermanfaat bagi siapa saja yang mengenal saya.

Jadi, kalau saya banyak posting dengan tagar #aturrasa #aturpikir #jagalaku#jagakata dalam status-status saya, itu karena saya masih perlu ingatkan diri saya untuk atur diri saya sendiri. Supaya tidak baperan lagi dan gampang kebawa emosi. Seandainya status itu bermanfaat, alhamdulillah. Kalau tidak pun, minimal manfaatnya saya rasakan sendiri.

Makasih lho sudah baca sampai tamat.
Semoga bermanfaat.

Saya belajar #NLP lagi, ya. Belajar untuk mengatur diri saya.

#ayosenyum¬†😊

Leave a Reply

Top