You are here
Home > Neuro-Linguistic Programming > NLP Basic > Mencicipi NLP Essentials 2 – Relationship Excellence

Mencicipi NLP Essentials 2 – Relationship Excellence

Sesuai janji di artikel sebelumnya, kita akan lanjutkan bahasan tentang NLP for Excellent Life ya..

Setelah kemarin kita bedah tentang Personal Excellence, kita lanjut ke tahap berikutnya, yakni Relationship Excellence..

Menarik untuk diselami, bahwa para pelopor NLP menyimpulkan bahwa para terapis ahli yang dimodel sejatinya bukanlah semata pakar dalam terapi. Melainkan juga mereka adalah para komunikator ulung.

Sebab terapi, sejatinya adalah proses mengkomunikasikan ide dari terapis kepada kliennya. Bagaimana tidak? Sedang para klien adalah orang yang sedang berada dalam kondisi psikologis tidak stabil, kok ya bisa-bisanya mereka membangun hubungan, yang menimbulkan kepercayaan, sehingga klien bersedia terbuka, dan membuka diri, untuk kemudian menemukan pembelajaran baru.

Tidak mengherankan, kalau kemudian model dan teknik yang digunakan oleh para terapis handal itu bisa diaplikasikan juga ke dalam kehidupan sehari-hari.

Jika di Personal Excellence kita mempelajari 2 kompetensi: Kesadaran Diri dan Manajemen Diri, maka di Relationship Excellence kita membedah 2 kompetensi lagi:

1. Kesadaran Relasi.

2. Manajemen Relasi.

Apa sih maksudnya sadar relasi?

Pernah ketemu orang yang senengnya ngomooooong terus, padahal yang diajak bicara sudah gak tahan ingin segera mengakhiri?

Pernah juga kah menawarkan sebuah ide yang orang lain tolak padahal kita kira ia sepakat?

Nah, inilah contoh-contoh kondisi kurang sadar relasi. hehe..

Kesadaran relasi berarti kemampuan untuk menyadari apa yang terjadi pada rekan bicara, sehingga bisa menyelaraskan diri dengannya, yang berujung pada tumbuhnya kepercayaan.

Tanda lahirnya kepercayaan dalam NLP adalah hadirnya keakraban, alias rapport.

Lalu bagaimana membangun keakraban itu? Dengan menyelaraskan diri dengan rekan bicara.

NLP nya? Pacing dong. Caranya? Matching-mirroring dong.

Dulu saya sempat terkecoh, bahwa teknik matching-mirroring adalah aktivitas meniru-niru rekan bicara, agar ia merasa bahwa kita sama dengannya, sehingga kemudian bisa kita arahkan alias leading.

Padahal, esensinya jauh dari itu.

Pacing adalah cara kita memahami model dunia orang lain. Karena peta bukan wilayah, sementara orang merespon petanya, maka untuk bisa memahami orang lain, kita mesti memahami peta yang ia gunakan.

Nah, karena tubuh dan pikiran satu kesatuan yang saling mempengaruhi, maka ketika kita menyesuaikan gerakan tubuh dengan rekan bicara, dan memasang niat memahami, sembari menjernihkan pikiran serta melahirkan rasa tersambung, state kita pun terbentuk.

Kita pun jadi bisa merasakan apa yang orang lain rasakan.

Dan karena state berkaitan dengan pikiran, pikiran kita pun diarahkan untuk bisa mengakses kondisi yang mirip, sehingga bisa lah kita memahami apa yang sedang ada dalam pikirannya.

Maka di #NLPEssentials 2, kita tidak hanya latihan meniru-niru. Kita belajar untuk menyesuaikan diri, hingga mampu menyelaraskan emosi.

Nah, jika rapport sudah mulai terbangun, apakah akan selaras seterusnya?

Ya belum tentu. Sebab manusia itu dinamis.

Pernah nggak lagi asyik ngobrol, eh tiba2 rekan bicara kita berubah air mukanya karena mendengar kalimat terakhir yang kita ucapkan?

Nah, perubahan kondisi ini, jika tidak dikenali dan dikelola, bisa merusak kepercayaan.

Maka kita perlu terampil mengenali sinyal-sinyal perubahan state rekan bicara kita, sehalus apapun itu.

Caranya? Sensory acuity dong. Latihan deh kita, mulai dari visual, auditorial, hingga kinestetikal. Akan disadari, perilaku manusia itu pasti memiliki pola. Dan kita bisa berlatih mengenali polanya.

Berbekal kesadaran relasi, kita beranjak ke Manajemen Relasi.

Apa nih maksudnya?

Manajemen Relasi adalah keterampilan mengelola hubungan, mengelola dialog, agar kita pesan yang diterima oleh rekan bicara, sesuai dengan apa yang kita niatkan.

Sebab komponen komunikasi ada verbal dan non verbal, apa yang terucap kadang dimaknai secara berbeda oleh orang lain.

Bagaimana agar kita bisa memahami pesan orang lain dengan tepat? Kita perlu kemampuan untuk melakukan klarifikasi dengan jeli. NLP nya? Meta Model dong. Model legendaris yang melahirkan model dan teknik lain dalam NLP. Inilah jantungnya NLP.

Bahkan ekstrimnya, menurut saya, bukan praktisi NLP kalau menganggap remeh Meta Model. La wong ini intinya.

Meta Model adalah teknik bertanya secara presisi, untuk mendapatkan informasi berkualitas. Namun sebelum bertanya, praktisi NLP harus cukup peka untuk menangkap pola komunikasi yang sedang digunakan rekan bicara.

Maka Meta Model sejatinya adalah tentang kepekaan kita saat mendengar.

Jika informasi yang didapat sudah lengkap, saatnya kita menyampaikan apa yang kita ingin katakan, secara efektif.

Di titik inilah kita belajar dari Milton Erickson, yang tiap kata yang digunakan begitu presisi. Pola kalimat yang dipakai mengandung banyak asumsi yang disisipkan.

Inilah Milton Model, alias Hypnotic Language.

Ada buanyak sekali pola dalam Milton Model, yang jika kurang memahami esensinya, akan tidak efektif menghasilkan makna.

Saya pernah mendapati seorang rekan menggunakan Milton Model dengan serampangan, yang justru malah berakibat negatif. Atau minimal, tidak berdampak.

Ya, karena memang ia bukan sekedar pola kalimat yang mudah ditiru. Mesti dipahami esensinya, dan dilatih hingga terampil menggunakannya secara alamiah.

Lalu, proses komunikasi pun dilengkapi dengan teknik Reframing. Teknik ini cukup kesohor.

Cuma ya itu, kadang suka kecampur2 dengan teknik2 lain. Atau dianggap sekedar positive thinking.

Padahal, ada filosofi yang dalam di dalamnya.

Semua model dan teknik ada di buku sih. Jadi bisa dipelajari di sana. Tujuan pelatihan bukan menambah informasi, melainkan melatih pola yang benar, dan membedah esensi.

Maka para penggemar bela diri, itu hadir tiap minggu untuk latihan jurus yang itu2 lagi. Tidak bosan2. Sebab memang hanya itulah satu-satunya cara membangun keahlian.

Nah, di #NLPEssentials 2 – Relationship Excellence, kita pulang dengan membawa 2 keterampilan:

1. Keterampilan memahami orang lain.

2. Keterampilan dipahami orang lain.

Seru, kan?

OK, sampai di sini dulu. Silakan diskusi di grup jika ada pertanyaan ya.

Oia, bulan Oktober ini #NLPEssentials akan diadakan pada 15, 16, 22, dan 23 Oktober.

Tidak setiap bulan kami adakan. Jadi, saya tidak tahu seberapa ingin Anda menguasai keterampilan untuk menjadi pribadi unggul? Pribadi yang mandiri, bermanfaat, dan menyenangkan bagi orang-orang di sekitar.

Salam…

One thought on “Mencicipi NLP Essentials 2 – Relationship Excellence

Leave a Reply

Top