<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Indonesia NLP Society</title>
	<atom:link href="http://indonesianlpsociety.org/?feed=rss2" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://indonesianlpsociety.org</link>
	<description>Street Smart NLP</description>
	<pubDate>Wed, 01 Sep 2010 07:55:12 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5.1</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Bagaimana Mencegah Kejahatan yang Memanfaatkan Trance?</title>
		<link>http://indonesianlpsociety.org/?p=148</link>
		<comments>http://indonesianlpsociety.org/?p=148#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 01 Sep 2010 07:55:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teddi Prasetya Yuliawan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[NLP Practice]]></category>

		<category><![CDATA[ahli hipnosis]]></category>

		<category><![CDATA[ahli nlp]]></category>

		<category><![CDATA[belajar nlp]]></category>

		<category><![CDATA[kejahatan hipnotis]]></category>

		<category><![CDATA[mencegah hipnotis]]></category>

		<category><![CDATA[pakar hipnosis]]></category>

		<category><![CDATA[pakar nlp]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesianlpsociety.org/?p=148</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan
Artikel ini saya tulis sebagai rangkuman berbagai diskusi yang terjadi baik di milis Indonesia NLP Society, halaman Facebook saya, kelas yang saya isi, dan beberapa teman yang kontak langsung. 
Apakah kejadian yang beberapa kali muncul di berita ini menggunakan hipnosis?
Terus terang, informasi saya terbatas, karena saya belum berkesempatan untuk ketemu langsung dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan</p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Artikel ini saya tulis sebagai rangkuman berbagai diskusi yang terjadi baik di milis Indonesia NLP Society, halaman Facebook saya, kelas yang saya isi, dan beberapa teman yang kontak langsung. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Apakah kejadian yang beberapa kali muncul di berita ini menggunakan hipnosis?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Terus terang, </span><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">i</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">nformasi saya terbatas, karena saya belum berkesempatan untuk ketemu langsung dengan korban, apalagi pelaku yang katanya sudah tertangkap sebagian. Maka, penilaian saya ini sifatnya sementara sebab hanya didasarkan pada Informasi terbatas dari televisi dan rekaman videonya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN"><span id="more-148"></span>Jawaban saya: ya dan tidak. Ya, jika hipnosis hanya dipandang sebagai sebuah fenomena <em style="mso-bidi-font-style: normal;">trance</em> semata. <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Trance</em> adalah fenomena alamiah manusia, ketika seseorang berada dalam kondisi pikiran yang sangat terfokus, sangat rileks. Dalam kondisi ini, pikiran kritis ter-<em style="mso-bidi-font-style: normal;">by pass</em> karenanya seseorang dapat merespon berbagai stimulus berupa sugesti dan memunculkan perilaku seolah tanpa disadari. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Tanpa disadari?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Ya, karena lebih banyak perilaku manusia terjadi tidak disadari, dan jauh lebih sedikit yang disadari. Sebagai contoh, saat seseorang dipanggil oleh bosnya dengan nada suara tertentu, ia tidak sekedar menyahut. Tapi bisa langsung segera menyiapkan laporan yang memang sedang ditunggu-tunggu. Nah, dia ini <em style="mso-bidi-font-style: normal;">trance</em>. Sebab mestinya respon yang dilakukan secara sadar kan cukup menyahut. Tapi tanpa ia sadari, ia melakukan berbagai aktivitas untuk menyiapkan laporan secara otomatis, tanpa perlu berpikir secara ‘sadar’. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Kata ‘sadar’ sengaja saya beri tanda kutip, karena memang sampai sekarang ada banyak penafsiran. Apa sebenarnya yang dimaksud dengan sadar? Sebab setiap kali seseorang baru belajar hipnosis, ia pasti mengatakan, “Saya sadar sepenuhnya kok. Ingat betul apa yang dikatakan oleh terapis saya.”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Ya memang demikianlah. Orang yang mengalami hipnosis pasti sadar sepenuhnya apa yang terjadi. Ia mengikuti sugesti karena memang ia memutuskan untuk demikian, karena memang ia mengizinkannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Jadi, orang dihipnosis itu sadar atau tidak?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Saya katakan, sadar. Hanya sadar pada hal yang berbeda dari yang biasa ia sadari. Semisal, sebelum membaca tulisan ini Anda sedang menyadari pekerjaan Anda, maka saat membaca tulisan ini (yang sedang membuat Anda <em style="mso-bidi-font-style: normal;">trance</em>), maka Anda jadi menyadari apa yang Anda baca, namun pada saat yang sama tidak menyadari pekerjaan Anda. Sama persis dengan ketika Anda sedang terpaku pada tayangan di televis</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">i</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">, sampai-sampai tidak menyahut saat kawan Anda menyapa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Maka orang yang menjadi korban kejahatan biasanya sadar akan apa yang terjadi, hanya ia belum sadar jika ia sedang dikerjai. Ia hanya sadar sedang berbuat sesuatu, namun belum tahu makna dari kegiatannya itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Sebagai contoh, ada orang yang sedang memikirkan masa berlaku kartu jaminan asuransinya, tiba-tiba diminta oleh petugas bank untuk menunjukkan KTP, lalu yang ia tunjukkan adalah kartu asuransinya. Seperti itu pula lah yang terjadi dengan seseorang yang ditepuk, lalu si penjahat mengucapkan berbagai hal yang membingungkan, sang korban merasa “hang”, dan akhirnya mengikuti instruksi penjahat tersebut. Atau segerombolan penjahat mengepung seseorang dan melakukan berbagai aktivitas yang membingungkan, lalu di tengah kebingungan itu ia pun mengikuti instruksi yang diberikan. </span><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Ada banyak teori yang bisa menjelaskan mengapa hal seperti ini bisa terjadi. Namun karena saya tidak ingin menjadikan bahasan ini terlalu rumit, maka kita ambil gampangnya saja. Pikiran manusia beroperasi layaknya sebuah <em style="mso-bidi-font-style: normal;">loop</em> dalam program komputer. Sekali dinyalakan, maka ia harus tuntas. Jika tidak tuntas, atau dihentikan tiba-tiba, ia akan <em style="mso-bidi-font-style: normal;">hang</em>. Dalam kondisi <em style="mso-bidi-font-style: normal;">hang</em> alias nggantung inilah pikiran manusia terbuka untuk berbagai sugesti. Dari ranah psikologi kognitif kita belajar tentang <em style="mso-bidi-font-style: normal;">cognitive dissonance</em> alias sebuah kondisi pikiran yang tidak setimbang dan berusaha menyeimbangkan dirinya. Dan tepukan, pertanyaan terbuka, pembingungan, adalah beberapa cara yang bisa digunakan untuk menciptakan kondisi <em style="mso-bidi-font-style: normal;">hang</em> ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Loh, katanya hipnosis baru bisa bekerja atas persetujuan klien? Kenapa yang model <em style="mso-bidi-font-style: normal;">hang </em>begini bisa jalan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Ya, hipnosis baru bisa berjalan dengan persetujuan klien. Maka dari itu, para penjahat menggunakan pola kalimat yang sudah disusun sedemikian rupa sehingga klien setuju tanpa menyadari bahwa ia sedang ditipu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Misalnya, kalimat “Serahkan uang Anda 10 juta” tentu akan menimbulkan resistensi. Tapi kalau polanya diganti dengan, “Ibu dapat hadiah 1 miliar nih. Untuk mencairkannya cukup transfer ke rekening ini sejumlah 10 juta,” tentu akan lain ceritanya, padahal esensi keduanya sama. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Cukup ya contohnya, karena saya tidak ingin justru jadi inspirasi bagi orang yang berniat jahat. Yang ingin tahu lebih lanjut mari kita kopi darat saja.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Pada intinya begini. Level kesadaran manusia itu berlapis. Sekiranya sesuatu masih berada di batas norma, maka ia sangat mungkin ditembus. Namun jika sudah masuk ke dalam level keyakinan, maka umumnya manusia punya mekanisme pertahanan diri yang kokoh. Dan memang inilah salah satu fungsi pikiran asadar (<em style="mso-bidi-font-style: normal;">unconscious</em>), melindung sang diri dari berbagai hal yang mengancam. Misalnya, Anda buat seseorang <em style="mso-bidi-font-style: normal;">trance</em> lalu minta dia untuk telanjang di depan umum. Saya jamin sangat sulit, kalau enggan mengatakan tidak bisa. Namun dengan sedikit trik dan “kesabaran” pelaku, seorang lelaki bisa mengajak seorang gadis berhubungan seksual di luar nikah secara suka rela. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Pake hipnosis? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Nggak perlu. Pake rayuan biasa—yang tentunya juga punya efek <em style="mso-bidi-font-style: normal;">trance</em>—juga bisa. Bukankah Anda pernah mendengar ABG yang menikah karena hamil sebelum menikah?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Sisi lain</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">, fakta seperti ini pula lah yang menjelaskan mengapa para korban, cepat atau lambat, pasti akan sadar akan apa yang terjadi pada mereka, karena sugesti yang dimasukkan memang tidak permanen, akibat berlangsung dengan sangat cepat. Sebab jika tidak cepat dan pakai <em style="mso-bidi-font-style: normal;">post hypnotic suggestion</em> segala, tentu korban akan cepat sadar sedang dikerjai. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Lalu, bagaimana dengan jawaban yang “tidak”? Alias kejahatan tersebut bukanlah menggunakan hipnosis?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Penjelasan saya seperti ini. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Kata “trance” sudah ada dalam bahasa Inggris sejak dulu. Dalam banyak novel berbahasa Inggris, kata ini banyak digunakan, menandakan<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>ia adalah kondisi alamiah yang memang sudah disadari oleh manusia sejak dulu kala. Sementara itu, kata hipnosis sendiri adalah kata gubahan James Braid, memodifikasi nama <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Hypnos</em> sang dewa tidur. Yang kemudian ketika disadari tidak tepat mewakili ilmu yang sebenarnya, maka ia ganti menjadi <em style="mso-bidi-font-style: normal;">neurypnology</em>. Cuman karena kata hipnosis sudah kadung popular, plus (mungkin) kata penggantinya relatif kompleks, maka sampai sekarang orang mengenal ilmu ini sebagai hipnosis. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Nah, maka saya pribadi berpendapat bahwa hipnosis adalah ilmu yang memanfaatkan <em style="mso-bidi-font-style: normal;">trance</em> secara sistematik dan saintifik. Sehingga, sebuah kejahatan baru bisa disebut sebagai kejahatan hipnosis jika memang pelakunya secara sadar menggunakan ilmu sistematik ini yang juga ia pelajari secara sistematik. Namun karena fenomena <em style="mso-bidi-font-style: normal;">trance</em> adalah fenomena alamiah, maka sangat mungkin ada banyak orang yang mampu memanfaatkannya tanpa belajar ilmu hipnosis. Nah, dalam konteks inilah saya tidak sepakat jika dikatakan kejahatan penipuan dan perampokan sebagai kejahatan hipnosis. Kecuali jika memang pelakunya tahu persis ilmu hipnosis ini.</span><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">Penjelasan yang terakhir ini saya anggap perlu, agar masyarakat dapat menilai hipnosis secara <em style="mso-bidi-font-style: normal;">fair</em> dan tidak <em style="mso-bidi-font-style: normal;">gebyak uyah</em> alias menyamaratakan semua praktisi hipnosis. Bahwa mungkin saja ada praktisi hipnosis bersertifikat yang melakukan kejahatan, tentu mungkin-mungkin saja. Meskipun menurut saya ia kurang cerdas. La wong hasil ngobyek di ruang praktik jauh lebih gedhe dan halal kok. Hehehe…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Anyway, </span><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">sebuah </span><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">pertanyaan </span><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">yang jauh lebih penting </span><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">kemudian adalah: bagaimana mencegah dan mengatasinya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Ya sama dengan cara mencegah dan mengatasi kondisi <em style="mso-bidi-font-style: normal;">trance</em> lain. Berikut ini tips dari saya, melengkapi tips dari para pakar dan kawan-kawan yang juga sudah mempublikasikan pemikirannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Waspada</span></strong><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Apa sih waspada? Dalam bahasa NLP, waspada adalah kondisi <em style="mso-bidi-font-style: normal;">uptime</em>, yakni ketika seluruh pikiran dan perasaan kita fokus pada hal-hal yang ada di luar diri. <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Trance</em> terjadi ketika Anda mulai “masuk” alias berpikir ke dalam diri. Bagi orang yang berpengalaman, akan sangat mudah menandai apakah seseorang sudah <em style="mso-bidi-font-style: normal;">trance</em> atau belum. Kegiatan seperti bengong, melamun, SMS-an, BBM-an, dkk jelas masuk dalam kategori <em style="mso-bidi-font-style: normal;">trance</em> karena seseorang umumnya sedang membayangkan sesuatu, mendengarkan sesuatu (<em style="mso-bidi-font-style: normal;">self talk</em>), atau merasakan sesuatu dalam dirinya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Nah, maka dari itu, mulai sekarang dan seterusnya, setiap kali Anda berada di tempat-tempat umum, usahakan untuk sesedikit mungkin berpikir ke dalam. Sadari apa yang ada di sekeliling. Lihat apa yang Anda lihat, dengar apa yang Anda dengar, rasakan apa yang Anda rasakan, di luar diri Anda. Anda akan merasakan tubuh Anda dalam kondisi yang seimbang. Efeknya adalah ekspresi Anda yang juga berubah menjadi lebih percaya diri, <em style="mso-bidi-font-style: normal;">firm</em>. Maka kemungkinan Anda untuk jadi sasaran pun lebih kecil.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Berdoa</span></strong><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Jika Anda sudah biasa berdoa sebelum berpergian, silakan sadari apakah setelah berdoa Anda menjadi lebih waspada dan yakin dengan diri Anda. Jika sudah, bagus. Jika belum, maka Anda perlu berdoa dengan penghayatan yang lebih dalam.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Caranya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Sebelum keluar rumah, duduk atau berdiri dengan tenang dan rileks. Bacalah doa dengan perlahan, hayati maknanya. Hadirkan rasa aman karena merasa yakin akan perlindungan Tuhan. Tuhan selalu punya skenario yang seringkali belum bisa kita pahami. Maka apapun yang terjadi adalah skenarioNya. Pun jika ada sesuatu yang tidak Anda inginkan terjadi, yakinlah bahwa Dia punya maksud baik. Tidak ada satu orang pun yang bisa menjahati Anda jika bukan karena izinNya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Mungkin Anda merasakan perasaan aman dan nyaman ini di satu titik di tubuh Anda. Maka silakan sebarkan ke seluruh tubuh. Dan rasakan ia membentuk selubung yang melindungi diri Anda. Semisal, saya biasa mengucapkan “Allahu Akbar” dan membayangkan sebuah selubung melindungi diri saya, sehingga saya begitu kecil. Jika saya kecil, maka orang lain pun kecil di hadapan kebesaran Tuhan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Sesampainya di tempat tujuan, Anda dapat melakukan proses berdoa yang sama untuk menjalankan aktivitas Anda. Semisal, Anda bekerja di kantor, toko, dll. Maka berdoalah agar pekerjaan Anda lancar dan aman serta mendatangkan banyak rezeki yang halal. Wah, bonus nih. Hehehe…</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Lakukan semua prosedur.</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Banyak kejahatan terjadi bukan hanya karena ada niat jahat pelakunya, tapi juga karena ada kesempata. Begitu kata Bang Napi. Jadi, jalankan berbagai aturan yang ada sesuai aturannya. Baik itu di pekerjaan atau jalanan. Sebab melanggar aturan sejatinya menggoyahkan <em style="mso-bidi-font-style: normal;">state</em> yakin Anda, tanpa Anda sadari. Misalnya, seorang kawan nekat melanggar lampu merah. Baru lewat, eh, ketahuan sama Pak Polisi. Karena takut, akhirnya ia menuruti semua perkataan beliau. Pun ketika akhirnya diminta untuk “berdamai” saja. Hehehe… </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Terdengar<span style="mso-spacerun: yes;">  </span>familiar? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Ya. Saya pun pernah mengalaminya. Saya menurut karena saya merasa bersalah. Maka keyakinan saya pun goyah. Nah, kondisi goyah seperti ini sangat mudah dikenali oleh pelaku kejahatan, untuk kemudian dimanfaatkan olehnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Intinya, menjalankan segala sesuatu sesuai prosedur memberikan Anda ketenangan dan keyakinan, dan ujungnya, kewaspadaan.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Cermati Tanda-tanda <em style="mso-bidi-font-style: normal;">Trance</em></span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Meskipun <strong style="mso-bidi-font-weight: normal;"><span style="mso-spacerun: yes;"> </span></strong>sudah waspada, bukan tidak mungkin jika pelaku tetap nekat untuk mengerjai Anda. Saya pun mengalaminya beberapa kali. Modusnya macam-macam, </span><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;;">seperti sudah saya jelaskan di atas, </span><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">namun prinsipnya adalah mereka selalu melakukan sesuatu yang mengajak Anda untuk masuk ke dalam, alias <em style="mso-bidi-font-style: normal;">trance</em> tadi itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Caranya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Membuat bingung. Misalnya dengan mengerumuni seseorang. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Membuat <em style="mso-bidi-font-style: normal;">hang</em>. Umumnya dengan menepuk bahu, menginjak kaki, mengajak bersalaman lalu melakukan gerakan lain, dll.<span style="mso-spacerun: yes;">  </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Membuka <em style="mso-bidi-font-style: normal;">loop</em>. “Eh, apa kabar? Udah lama nggak ketemu nih.” Pernyataan seperti ini akan membuat pikiran kita “terbuka” dan berusaha mencari sesuatu Informasi yang bisa menutupnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Dan banyak cara lain. Kejadian di Lampung itu sepertinya menggunakan berbagai kombinasi pola sehingga efeknya semakin kuat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Apa dong yang mesti dilakukan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Katakan pada diri Anda,”Tenang…tenang…tenang. Waspada!” sambil Anda mengatur nafas Anda, dan berikan hentakan pada kata terakhir. Stop “masuk” ke dalam, dan fokus ke luar, yang ada di sekeliling Anda. Setelah itu Anda sudah bisa mengendalikan diri Anda lagi, dan segera ambil tindakan yang diperlukan untuk mencegah efek kejahatan (jika memang ada indikasi kesana).</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Saya ingat pernah menerima sebuah telepon yang menggunakan metode membuka <em style="mso-bidi-font-style: normal;">loop</em>. Begitu menyadari mulai <em style="mso-bidi-font-style: normal;">trance</em>, saya pun segera melakukan hal di atas, sehingga bisa balik mengerjai sang penelepon. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Halo, siapa nih?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Halo! Apa kabar? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Ya, ini siapa?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Ah, lupa sama temannya. Kalau ada perlu aja baru ngontak. Sekarang lupa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Siapa ya?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Coba siapa coba. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Siapa sih?</span></em><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Coba siapa temen yang di kepolisian?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">(Di titik ini saya mulai sadar, dan berhasil melakukan utilisasi) </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Ooooh…Bejo! Apa kabar lu? Ah, belagu amat pake logat Batak segala!</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Eh, bukan!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Alah…gw apal kok aslinya elu. Mau apa? Pake ngaku-ngaku dari kepolisian lagi. </span></em><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Heh! Kamu jangan main-main ya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><em style="mso-bidi-font-style: normal;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Gini aja deh. Lu tahu siapa gua? Nanti gw kontak deh bos lu. Kalau lu butuh duit bilang aja. Dan cari yang halal.</span></em><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Tuuuuuut…dan telepon pun ditutup. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Alhamdulillah, saya dan kawan saya selamat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Kejadian lain dialami oleh seorang kawan di ATM. Saat ia ditepuk, menoleh, lalu ditegur dengan heboh, “Oi! Sombong amat sama teman lama!”, kawan saya sempat tertegun. Namun seketika sadar ia tidak mengenali orang tersebut, ia pun membalas dengan tepukan yang <strong style="mso-bidi-font-weight: normal;">lebih keras</strong> ke tangan sang pelaku, “Ah, sok kenal lu! Sana!”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Sang pelaku pun bengong sambil megang tangannya yang sepertinya kesakitan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt;"><span style="font-size: 10pt; line-height: 115%; font-family: &quot;Trebuchet MS&quot;,&quot;sans-serif&quot;; mso-ansi-language: IN;" lang="IN">Demikianlah. Karena <em style="mso-bidi-font-style: normal;">trance</em> adalah kondisi alamiah, maka setiap orang, praktisi hipnosis sekalipun, selalu bisa mengalaminya. Jika langkah-langkah preventif sudah dilakukan, maka pasrahkan saja semuanya. Jalani hidup dengan tenang dan ikhlas. Kalaupun kena juga, tentunya ada maksud baik Tuhan agar kita belajar sesuatu. </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesianlpsociety.org/?feed=rss2&amp;p=148</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Jatuh Cinta Lagi&#8230;</title>
		<link>http://indonesianlpsociety.org/?p=147</link>
		<comments>http://indonesianlpsociety.org/?p=147#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 20 Aug 2010 04:39:29 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teddi Prasetya Yuliawan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[NLP Practice]]></category>

		<category><![CDATA[ahli nlp]]></category>

		<category><![CDATA[belajar nlp]]></category>

		<category><![CDATA[cinta]]></category>

		<category><![CDATA[mencintai]]></category>

		<category><![CDATA[nlp]]></category>

		<category><![CDATA[nlp bahasa indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[nlp dan cinta]]></category>

		<category><![CDATA[pakar nlp indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesianlpsociety.org/?p=147</guid>
		<description><![CDATA[ 
Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan
Wit ing trisno, jalaran sako kulino.
Demikian bunyi pepatah Jawa yang seringkali saya dengar. Secara bebas, ia dapat diterjemahkan dengan: pohon cinta tumbuh karena terbiasa. Umumnya, pepatah ini muncul untuk mengomentari pasangan suami-istri yang menikah setelah menjadi teman cukup lama (misalnya, teman sekantor, satu sekolah, dll). Karena sering bertemu dan berbagi cerita, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:TrackMoves /> <w:TrackFormatting /> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:DoNotPromoteQF /> <w:LidThemeOther>EN-US</w:LidThemeOther> <w:LidThemeAsian>X-NONE</w:LidThemeAsian> <w:LidThemeComplexScript>X-NONE</w:LidThemeComplexScript> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> <w:SplitPgBreakAndParaMark /> <w:DontVertAlignCellWithSp /> <w:DontBreakConstrainedForcedTables /> <w:DontVertAlignInTxbx /> <w:Word11KerningPairs /> <w:CachedColBalance /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> <m:mathPr> <m:mathFont m:val="Cambria Math" /> <m:brkBin m:val="before" /> <m:brkBinSub m:val=" " /> <m:smallFrac m:val="off" /> <m:dispDef /> <m:lMargin m:val="0" /> <m:rMargin m:val="0" /> <m:defJc m:val="centerGroup" /> <m:wrapIndent m:val="1440" /> <m:intLim m:val="subSup" /> <m:naryLim m:val="undOvr" /> </m:mathPr></w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" DefUnhideWhenUsed="true"   DefSemiHidden="true" DefQFormat="false" DefPriority="99"   LatentStyleCount="267"> <w:LsdException Locked="false" Priority="0" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Normal" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="heading 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 7" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 8" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="9" QFormat="true" Name="heading 9" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 7" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 8" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" Name="toc 9" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="35" QFormat="true" Name="caption" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="10" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Title" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="1" Name="Default Paragraph Font" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="11" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtitle" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="22" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Strong" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="20" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Emphasis" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="59" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Table Grid" /> <w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Placeholder Text" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="1" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="No Spacing" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" UnhideWhenUsed="false" Name="Revision" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="34" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="List Paragraph" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="29" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Quote" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="30" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Quote" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 1" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 2" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 3" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 4" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 5" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="60" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Shading Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="61" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light List Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="62" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Light Grid Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="63" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 1 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="64" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Shading 2 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="65" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 1 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="66" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium List 2 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="67" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 1 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="68" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 2 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="69" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Medium Grid 3 Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="70" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Dark List Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="71" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Shading Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="72" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful List Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="73" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" Name="Colorful Grid Accent 6" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="19" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Emphasis" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="21" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Emphasis" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="31" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Subtle Reference" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="32" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Intense Reference" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="33" SemiHidden="false"    UnhideWhenUsed="false" QFormat="true" Name="Book Title" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="37" Name="Bibliography" /> <w:LsdException Locked="false" Priority="39" QFormat="true" Name="TOC Heading" /> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--> <!--[if gte mso 10]></p>
<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-priority:99;
	mso-style-qformat:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
	mso-para-margin:0in;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:11.0pt;
	font-family:"Calibri","sans-serif";
	mso-ascii-font-family:Calibri;
	mso-ascii-theme-font:minor-latin;
	mso-fareast-font-family:"Times New Roman";
	mso-fareast-theme-font:minor-fareast;
	mso-hansi-font-family:Calibri;
	mso-hansi-theme-font:minor-latin;
	mso-bidi-font-family:"Times New Roman";
	mso-bidi-theme-font:minor-bidi;}
</style>
<p><![endif]--></p>
<p class="MsoNormal">Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan</p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family: " lang="IN">Wit ing trisno, jalaran sako kulino</span></em><span style="font-family: " lang="IN">.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: " lang="IN">Demikian bunyi pepatah Jawa yang seringkali saya dengar. Secara bebas, ia dapat diterjemahkan dengan: <em>pohon cinta tumbuh karena terbiasa</em>. Umumnya, pepatah ini muncul untuk mengomentari pasangan suami-istri yang menikah setelah menjadi teman cukup lama (misalnya, teman sekantor, satu sekolah, dll). Karena sering bertemu dan berbagi cerita, pasangan-pasangan ini pun rupanya juga berbagi rasa, yang berujung pada pernikahan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span id="more-147"></span><span style="font-family: " lang="IN">Saya ingat betul pepatah ini, karena saya pun mengalami hal yang sama. Pertama kali mengenal istri saya, saya belum menunjukkan ketertarikan untuk menjadikannya sebagai pasangan hidup. Begitu pula sebaliknya. Namun seiring waktu berjalan, persahabatan yang kami bina akhirnya menumbuhkan benih-benih cinta yang entah kapan kami tebar.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: " lang="IN">Entah mengapa beberapa waktu belakangan<span> </span>pepatah Jawa yang satu ini mencuat kembali dalam benak saya. Bedanya, saya menyadari makna yang berbeda. Ia bukan lagi sekedar menjelaskan tentang romantika cinta sahabat yang menjadi kekasih, namun lebih jauh dari itu. Ia justru merupakan sebuah nasihat yang teramat dalam bagi para pasangan yang sudah bertahun-tahun menikah, untuk terus menyemai cinta sampai akhir hayat.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: " lang="IN">Kok? </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: " lang="IN">Ya. Pohon cinta tumbuh karena terbiasa. Dimulai dari menanam bibit, memupuk, menyirami, hingga menjaganya dari serangan hama, proses menumbuhkan dan memelihara pohon persis seperti proses menumbuhkan dan memelihara cinta. Jika kita ingin sebuah pohon tetap berbuah, maka tiada lain yang bisa dilakukan selain terus melanjutkan proses pemeliharaan sepanjang hayat. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: " lang="IN">Maka pepatah ini menjadi sangat relevan bagi para pasangan yang sudah menikah beberapa tahun (atau bertahun-tahun) dan merasakan kehampaan, <em>flat</em>, bahkan kebosanan. Yang muncul seringkali adalah kalimat:</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family: " lang="IN">Cinta kami sudah mulai pudar. Saya merasa kehilangan rasa cinta. Tidak seperti dulu lagi. Saya tidak mencintainya lagi. </span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: " lang="IN">Dan seterusnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: " lang="IN">Well, maaf jika saya mengecewakan Anda yang barangkali mengatakan kalimat-kalimat seperti itu. Tapi saya katakan, “Bukan cinta yang hilang. Bukan cinta yang mati. Tapi cinta yang sudah tidak Anda pupuk sejak lama, hingga ia perlahan-lahan kering layaknya pohon, berhenti berbuah, dan berakhir pada kematian.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: " lang="IN">Ya. Mereka yang merasa kehilangan rasa cinta sejatinya tidak lah kehilangan rasa cinta. Melainkan membiarkan cinta itu tak terpelihara, sehingga ia menguap dan mati. </span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span style="font-family: " lang="IN">“Love is a verb,” </span></em><span style="font-family: " lang="IN">nasihat dari salah seorang guru saya. Belakangan, saya menemukan kalimat ini begitu popular, bahkan menjadi salah satu judul buku penulis kondang sekaligus konselor perkawinan, Gary Chapman. Siapapun yang pertama kali meneluarkan kalimat indah ini, saya sepakat. Seribu persen sepakat!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: " lang="IN">Kok?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: " lang="IN">Ya. Seperti yang saya tulis di artikel soal cinta sebelumnya, “Everyday I Love You”, cinta memang sebuah nominalisasi. Sebuah kata kerja atau kata proses yang dibendakan, sehingga<span> </span>seolah ia adalah benda mati yang tak bisa berubah. Padahal, jelas tidak ada benda bernama cinta, yang bisa datang dan pergi, hilang dan kembali. Yang ada adalah cinta yang ditumbuhkan, dipelihara. Ketika dibiarkan, jangan heran jika ia redup dan mati. Maka memahami cinta seperti ini membuat saya yakin betul bahwa cinta memang tak lain sebuah proses mencintai. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: " lang="IN">Ah, cukup ah teorinya. Praktiknya gimana donk? Biar kita bisa menumbuhkan dan memelihara cinta setiap saat? Biar cinta kita tidak gersang dan mati?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: " lang="IN">Yuuuk…mari…</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: " lang="IN">Latihan berikut ini bisa Anda lakukan sendiri, atau dibantu oleh <span> </span>orang lain. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: " lang="IN">Ambil posisi duduk yang rileeeeeks dan santaaaai. Duduk yang nyaman. Boleh sambil buka atau tutup mata, yang mana yang membuat lebih mudah berkonsentrasi. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: " lang="IN">Sambil menikmati nafas yang masuuuuk, keluaaar, masuuuuk, dan keluaaaar, silakan mengingat kembali saat Anda merasakan perasaan cinta yang begitu mendalam. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: " lang="IN">Setiap orang tentu memiliki pengalaman yang berbeda-beda. Dan saya menemukan beberapa cirinya adalah perasaan tenang, ikhlas, lega, dikarenakan telah memberikan apa yang Anda berikan pada orang yang Anda cintai, sepenuhnya. Ya, cinta adalah hasil dari proses memberi secara tulus. Sehingga ia tidak memiliki kaitan dengan apapun yang akan Anda terima setelahnya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: " lang="IN">Cinta juga tidak ada hubungannya dengan nafsu. Nafsu memiliki, apalagi nafsu seksual. Cinta adalah sebuah perasaan yang murni, nyaman, dan berdiri sendiri. Tidak tergantung pada syarat apapun. Cinta adalah perasaan yang sederhana. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: " lang="IN">Aha, Anda sudah mulai merasakannya? Bagus sekali. Bagaimana rasanya di pikiran Anda? Di tubuh? </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: " lang="IN">Di bagian mana saja tepatnya Anda merasakannya? Tentu setiap orang unik. Saya sendiri merasakan sebuah perasaan yang mengalir, nyaman, dari diri saya kepada orang yang saya cintai. Anehnya, semakin saya memasrahkan untuk memberi rasa cinta ini, semakin kuat gelombang yang kembali kepada diri saya.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: " lang="IN">Maka yang kemudian saya rasakan biasanya adalah perasaan tersambung. Koneksi perasaan yang kuat antara saya dan dia. Sehingga apapun yang saya alami ketika bersamanya, pahit ataupun manis, selalu menghadirkan perasaan cinta baru. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: " lang="IN">Seorang sahabat pernah mengajarkan, “Setiap konflik dalam percintaan adalah jalan untuk memperbarui cinta. Cinta yang lebih kokoh dari sebelumnya.”</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: " lang="IN">Maka saya penasaran, bagaimana Anda merasakan semuanya dalam pikiran dan tubuh Anda. Bagaimana perilaku Anda berubah karenanya? Seberapa tenang Anda menjalani kehidupan Anda berbekal dengannya? </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: ">Nah, sementara Anda terus menikmati apa yang Anda rasakan sekarang, bukankah Anda ingin menyimpannya di dalam diri Anda? Menyimpan perasaan ini di suatu tempat di dalam diri, yang dapat dengan mudah Anda akses, kapan pun Anda membutuhkannya. Sehingga bahkan tanpa perlu Anda sadari, ia dapat muncul dengan sendirinya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: ">Lanjutkan proses ini hingga Anda selesai. Dan Anda boleh membuka mata lalu kembali ke ruangan ini sekarang.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: "> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: ">Nah, bukankah ia begitu indah sampai-sampai Anda tak ingin membuka mata? </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: ">Ya, demikianlah yang saya rasakan, setiap kali saya melakukannya, setiap minggu. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: ">Setiap minggu?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: ">Ya iya lah. Memelihara pohon saja harus disirami setiap hari. Apalagi cinta? Yang efeknya jauh lebih besar untuk hidup kita? </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: ">Anda bisa melakukannya satu demi satu untuk setiap orang yang Anda cintai, ataupun sekaligus, misalnya sekalian untuk satu keluarga. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: ">Nah, ini yang anehnya nih. Meskipun saya hanya melakukannya untuk beberapa orang saja, saya jadi lebih mudah memunculkan rasa cinta ini untuk hal-hal lain. Misalnya, mencintai pekerjaan. Meskipun dengan kadar yang tentunya berbeda. Buktikan sendiri deh. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: ">Dan, seiring dengan proses latihan yang Anda lakukan terus-menerus setelah ini, Anda bisa jadi tidak memerlukan langkah-langkah formal seperti yang Anda jalani sebelumnya. Karena ia bisa muncul hanya dengan Anda cukup memikirkannya saja. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: ">Tips nih. Setiap kali muncul perbedaan pendapat, pertengkaran, dan lain sebagainya, aksesnya perasaan ini sebelum Anda melanjutkan proses perdebatan itu. Sehingga alih-alih menjadi ‘pembunuh’ cinta, proses tersebut malah akan semakin menguatkan cinta Anda. Sebab bukan cinta sejati jika baru dirasakan saat kondisi senang saja. Baru disebut cinta sejati jika ia dapat dirasakan dalam kondisi apapun, susah dan senang. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span style="font-family: ">Selamat mencinta!</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesianlpsociety.org/?feed=rss2&amp;p=147</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Everyday I Love You…</title>
		<link>http://indonesianlpsociety.org/?p=143</link>
		<comments>http://indonesianlpsociety.org/?p=143#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 14 Jun 2010 04:07:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teddi Prasetya Yuliawan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[NLP Reflections]]></category>

		<category><![CDATA[aplikasi nlp]]></category>

		<category><![CDATA[belajar nlp]]></category>

		<category><![CDATA[cinta]]></category>

		<category><![CDATA[mencintai]]></category>

		<category><![CDATA[nlp]]></category>

		<category><![CDATA[nlp dan cinta]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesianlpsociety.org/?p=143</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan
 
Judul di atas mungkin mengingatkan Anda pada sebuah lagu. Lagu yang cukup populer beberapa tahun lalu, plus merupakan sedikit lagu yang saya sukai yang dinyanyikan oleh kalangan boyband. Maka sembari Anda mengingat bagaimana lagu tersebut dinyanyikan, plus merasakan suatu sensasi tertentu dalam tubuh dan pikiran Anda, saya akan menceritakan mengapa saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan</p>
<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--> <!--[if gte mso 10]></p>
<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
	mso-para-margin:0in;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-ansi-language:#0400;
	mso-fareast-language:#0400;
	mso-bidi-language:#0400;}
</style>
<p><![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Judul di atas mungkin mengingatkan Anda pada sebuah lagu. Lagu yang cukup populer beberapa tahun lalu, plus merupakan sedikit lagu yang saya sukai yang dinyanyikan oleh kalangan <em>boyband.</em> Maka sembari Anda mengingat bagaimana lagu tersebut dinyanyikan, plus merasakan suatu sensasi tertentu dalam tubuh dan pikiran Anda, saya akan menceritakan mengapa saya memilih tema cinta untuk artikel saya kali ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Ya, cinta adalah sesuatu yang unik untuk dibicarakan. Bukan saja ia adalah tema yang begitu marak dibahas dalam keseharian, ia adalah sebuah ranah yang seringkali dipahami secara parsial. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span id="more-143"></span><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Saya teringat ajaran bijak dari Almarhum Buya Hamka, sang ulama fenomenal penulis Tafsir Al Azhar. Bahwa cinta memberimu energi, alih-alih melemahkanmu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Walah, la saya jadi bingung ini. Yang saya tahu, kalau dulu saya atau teman-teman saya lagi jatuh cinta, maka pikiran melayang kemana-mana, tubuh terasa loyo, sehingga produktivitas malah menurun drastis. (nostalgia mode on&#8230;)</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Lalu mengapa Buya Hamka malah mengatakan kalau cinta itu memberi energi begitu besar bagi kita? Seharusnya kalau punya energi segitu besar, maka bukannya loyo, justru kita bisa meningkatkan produktivitas berkali-kali lipat donk. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Lalu mengapa ada sepasang suami istri yang saling mencintai, lalu pada titik tertentu justru merasa kehilangan cinta dan memilih untuk bercerai? Padahal semestinya cinta memberi keduanya energi besar untuk mempertahankan rumah tangga, dengan berbagai romantika yang telah dibangun, apapun yang terjadi?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Nah, karena saya adalah NLPers, maka saya pun memulai perjalanan saya untuk mencari jawaban pertanyaan-pertanyaan di atas dengan menggunakan khasanah NLP yang ciamik ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><em><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Apa sih cinta menurut NLP?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><em><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Walah, ya ndak tahu. </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><em><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Kok ndak tahu?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><em><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">La NLP itu siapa juga saya belum pernah ketemu. Maka bisa saya cerita dia punya pendapat apa tentang cinta?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Maka cara yang saya anggap paling mudah adalah dengan melakukan <em>self modeling</em> terhadap pengalaman cinta yang saya alami. Untuk memulai, saya pilih cinta yang saya rasakan pada mantan pacar saya, yang kini telah memberi saya 1 orang anak. Hehehe&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Saya ingat-ingat, saat saya jatuh cinta, sekarang, ada sebuah sensasi yang aneh dalam diri saya. Campuran dari rasa gembira, cemas, memiliki, semangat, dan lain-lain yang saya tidak bisa jelaskan satu per satu, kecuali bahwa saya mengetahui bahwa ia berbeda dari perasaan-perasaan lain. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Aha! Anda familiar dengan kalimat terakhir di atas, bukan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Yes, cinta adalah sebuah <em>state of mind</em>. Sebuah kondisi pikiran-perasaan yang sensasinya terasa dalam tubuh sebagai hardware-nya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Apakah hanya itu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Mmm&#8230;saya pun kemudian mengajukan beberapa pertanyaan dengan kerangka Neurological Level. Dan wuih! Canggih betul! Rupanya cinta yang saya alami bukan sekeder sebuah <em>state of mind</em> yang berada di level <em>behavior atau capability</em>, melainkan jauh tinggi hingga level <em>belief</em>, <em>identity</em>, hingga <em>spirituality.</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Di level <em>belief</em> saya meyakini bahwa perasaan cinta yang saya semai bersama istri saya membuat hidup saya lebih hidup. Ia adalah sebuah program yang begitu kokoh, sehingga membuat saya menafikan berbagai hal lain yang memungkinkan saya tidak mencintainya. Semisal, berbagai hal yang kurang saya sukai sangat sulit untuk saya ingat-ingat, sementara hal-hal yang saya sukai begitu mudah saya ingat. Yang belakangan ini saya sering katakan pada teman-teman peserta di kelas Practicing NLP Course, bahwa kalau orang sudah cinta, maka ia seringkali lupa kalau suami/istrinya suka ngupil, bangun siang, malas gosok gigi, dan lain sebagainya. Hehehe&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Sementara itu, saya pun merasakan bahwa cinta memberi saya identitas diri. Saya adalah makhluk suami pecinta. Saking demikian, saya seringkali begitu mudah merasa bersalah ketika melakukan sebuah perilaku yang tidak masuk daftar perilaku seorang pecinta. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Namun demikian, ada lagi yang lebih tinggi. Sebuah level yang baru saya pahami kurang lebih setahun terakhir, saat saya mulai memahami perintah Tuhan yang mengatakan, “Tidaklah aku ciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” Maka cinta saya pada istri saya adalah perwujudan ketundukan saya untuk beribadah kepada-Nya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Walah, kok kayaknya berat beneeer ya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Hehe&#8230;nggak kok. Ini sederhana saja. Sangat sederhana bahkan. Saya tuh begitu meyakini bahwa Tuhan itu Maha Besar, Maha Kuasa. Maka Dia jelas tidak mungkin iseng atau salah menjodohkan, sehingga saya saat ini menikah dengan istri saya. Dia jelas punya skenario yang mesti saya jalani, saya alami, sampai saat saya dipanggil di usai waktu nanti. Maka jika saya kemudian merasa berat, atau kesal, atau marah, atau hal-hal lain yang kurang nyaman saya alami dalam pernikahan saya, jelas ia disebabkan karena belum mampunya saya memahami skenario yang Dia ciptakan. Maka dari itu perintah-Nya untuk “hanya beribadah tanpa mempertanyakan mengapa” menjadi masuk akal. Sebab bertanya mengapa akan menggiring saya pada jawaban-jawaban yang belum tentu masuk akal dengan kapasitas berpikir saya saat ini. Namun seiring dengan perjalanan waktu, baru lah saya bisa memahaminya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><em><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Eh, kok tiba-tiba sampai sini sih ngomongnya? Jadi caranya gimana donk biar bisa “everyday I love you”?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Tenaaang. Saya baru aja mau mulai nih. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Berdasarkan pemahaman di atas, maka saya pun sampai pada kesimpulan bahwa cinta adalah sebuah kondisi yang bisa dikendalikan. Sebuah kondisi yang tidak terjadi begitu saja, melainkan kita diberi kemampuan untuk mengontrolnya. Maka apakah kita mencintai atau tidak mencintai bukanlah sesuatu yang terjadi secara kebetulan. Ia adalah sebuah <em>state of mind</em> yang sejatinya kita ciptakan sendiri, dan karenanya bisa kita bangkitkan kembali saat ia mulai meredup.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><em><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Wah, mulai asyik nih</span></em><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">. <em>Gimana tuh caranya?</em></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Mari kita selami sama-sama. Jika Anda mencintai seseorang karena apa yang ia lakukan dan Anda kecewa saat ia kemudian melakukan hal lain yang tidak Anda inginkan, maka cinta Anda berada di level <strong><em>behavior</em></strong>. Sesuai ajaran Om Robert Dilts, sebuah kondisi di satu level biasanya bisa dikendalikan oleh kondisi di minimal satu level di atasnya. Dalam konteks<span> </span>contoh ini, adalah level <strong><em>belief</em></strong><em>. </em>Maka Anda perlu mengevaluasi kembali: apa yang Anda yakini tentang cinta? Apa yang cinta berikan pada Anda? Apa yang seharusnya Anda lakukan saat Anda mencintai?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Nah, sebuah pelajaran yang baru-baru ini saya pahami tentang cinta adalah: <em>love is about giving</em>. Meyakini bahwa cinta adalah soal memberi, saya pun jadi lebih mudah menyemai buah cinta saya setiap kali sebuah ujian datang. Sebab saya jadi tidak peduli pada apakah saya akan menerima sesuatu atau tidak. Kenikmatan saya datang dari apa yang saya berusaha berikan. Anehnya, saat saya berlatih melakukan ini, yang saya dapatkan pun jauuuuuh lebih banyak, dan jauuuuuh lebih nikmat!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Lalu, bagaimana donk kalau ternyata ada orang yang memiliki keyakinan tentang cinta yang membuatnya kurang fleksibel dalam mencintai?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Ya naik lagi deh, ke level<em> identity</em>. Silakan evaluasi identitas yang Anda pasang pada diri Anda. Masih terkait dengan pengalaman saya, karena saya mulai meyakini bahwa cinta adalah soal memberi, maka saya sebagai pecinta adalah seorang pemberi. Identitas diri saya adalah seseorang yang memang hanya fokus memberikan, tanpa peduli apa yang saya dapatkan. Saya adalah kantong bocor, yang memang sengaja saya bocorkan, agar saya tidak perlu menghitung-hitung berapa yang saya berikan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Wuih, berat kah?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Ya, memang perlu latihan. Saya pun belum secara utuh, pun belum dalam semua konteks. Konon, orang-orang yang sudah mencapai level pencerahan sudah memiliki identitas seperti ini dalam semua konteks kehidupannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Nah, bagaimana kalau yang “bermasalah” adalah identitas dirinya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Ya naik lagi, ke level tertinggi, <em>spirituality</em>. Dalam konteks kisah saya, saya pun mulai melatih diri untuk menginstal bahwa saya mencintai istri saya karena saya mencintai Tuhan. Saat Anda mencintai seseorang, bukankah Anda akan menjaga baik-baik sebuah barang yang ia titipkan pada Anda, apapun caranya? Itu baru orang. La kalau Anda mencintai Tuhan, bukankah Anda akan menjaga suami/istri yang Ia amanahkan pada Anda, apapun caranya? Beranikah Anda seenaknya meninggalkan titipan-Nya begitu saja? Apalagi jika Anda meyakini bahwa Ia Maha Mengawasi setiap hal yang Anda lakukan? Apalagi jika Anda juga meyakini bahwa Ia selalu punya maksud baik dengan memasangkan Anda dengan titipan-Nya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Nah, kalau sudah begini, bukankah cinta adalah sesuatu yang mulia? Cinta bukan sekedar basa basi di lagu atau sinetron yang ujung-ujungnya hubungan fisik semata. Cinta meliputi segala hal yang saat ini ada dalam hidup dan kehidupan, yang merupakan titipan-Nya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Tuing!!! Jreng!!!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">AHA! Saya pun baru paham untaian hikmah dari Buya Hamka yang saya sebutkan tadi, bahwa cinta merupakan sebuah energi yang besar bahkan tak terbatas. Alih-alih loyo, cinta akan membuat seseorang selalu berada dalam <em>state of mind </em>terbaik, <em>peak performance</em>-nya untuk memberi tanpa pernah berharap menerima. Yang anehnya, saat hal ini dilakukan, ia justru tidak pernah berhenti menerima. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Ah, bukankah lagu Boyzone yang satu ini memang indah? Saya tidak tahu Anda, yang jelas energi cinta saya seolah mengalir tiada henti saat saya mendengarkannya berulang-ulang dalam diri saya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Hmmm&#8230;</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesianlpsociety.org/?feed=rss2&amp;p=143</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Apa yang Baru di NLP Talks?</title>
		<link>http://indonesianlpsociety.org/?p=142</link>
		<comments>http://indonesianlpsociety.org/?p=142#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 09 Jun 2010 03:45:37 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teddi Prasetya Yuliawan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[News and Events]]></category>

		<category><![CDATA[belajar nlp]]></category>

		<category><![CDATA[nlp indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[nlp talks]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesianlpsociety.org/?p=142</guid>
		<description><![CDATA[ 
Ya! Berkat dukungan 2 orang rekan kita, Uda Syamsul Hatta dan Kang Adang Adha, maka mulai Juni 2010 ini NLP Talks akan hadir dengan format baru. Jika sebelumnya NLP Talks belum konsisten hadir karena kesibukan pegiatnya (baca: saya, hehehe…) maka kini ia akan hadir SETIAP BULAN, apapun yang terjadi.
Wuih? Bener nih?
Insya Allah. Sebab salah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--> <!--[if gte mso 10]></p>
<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
	mso-para-margin:0in;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-ansi-language:#0400;
	mso-fareast-language:#0400;
	mso-bidi-language:#0400;}
</style>
<p><![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Ya! Berkat dukungan 2 orang rekan kita, Uda Syamsul Hatta dan Kang Adang Adha, maka mulai Juni 2010 ini NLP Talks akan hadir dengan format baru. Jika sebelumnya NLP Talks belum konsisten hadir karena kesibukan pegiatnya (baca: saya, hehehe…) maka kini ia akan hadir SETIAP BULAN, apapun yang terjadi.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Wuih? Bener nih?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span id="more-142"></span><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Insya Allah. Sebab salah satu kendala pada NLP Talks versi 1.0 adalah masih sulitnya mencari pembicara, plus mensinergikan jadwal beliau-beliau. Maka dari itu, NLP Talks mulai Juli nanti akan menghadirkan 2 orang pembicara. Satu pembicara tetap, satu pembicara tamu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Pembicara tetap adalah saya sendiri, yang akan membedah bab demi bab buku “NLP: The Art of Enjoying Life” dalam bentuk aplikasi praktis keseharian, sesuai dengan judulnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Lalu, pembicara tamunya siapa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="SV">Siapa saja yang mau, dengan 2 skenario:</span></p>
<ol style="margin-top: 0in;" type="1">
<li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="SV">Pembicara yang kita undang. </span></li>
<li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="SV">Pembicara yang mendaftarkan diri.</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="SV">Nah, karena skenario pertama memang sudah dari dulu ada, maka tentu Anda bertanya-tanya tentang skenario 2, kan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="SV">Ya, betul sekali! Anda boleh mendaftarkan diri Anda untuk berbagi di NLP Talks. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="SV">Adakah syaratnya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="SV">Tentu. Sederhana saja:</span></p>
<ol style="margin-top: 0in;" type="1">
<li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="SV">Tulis sebuah makalah sepanjang      minimal 5 halaman A4 dengan ukuran huruf 12 plus spasi 1,5. </span></li>
<li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="SV">Makalah boleh berisi:</span>
<ol style="margin-top: 0in;" type="a">
<li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="SV">Studi literatur NLP</span></li>
<li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="SV">Riset ilmiah terhadap NLP dan/atau       aplikasinya</span></li>
<li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="SV">Laporan studi kasus aplikasi NLP       dalam berbagai bidang</span></li>
<li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="SV">Hasil modeling menggunakan NLP       terhadap berbagai kekayaan budaya nusantara</span></li>
</ol>
</li>
<li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="SV">Kirim makalah dalam format PDF ke <a href="mailto:tpyuliawan@gmaill.com">tpyuliawan@gmaill.com</a>. </span></li>
<li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="SV">Makalah yang terpilih akan diundang      untuk membagikan ilmunya di NLP Talks sesuai jadwal yang tersedia.</span></li>
</ol>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="SV">Mudah, kan? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="SV">Aha, sambil Anda memikirkan ide yang akan Anda kirimkan, yuk, kita kumpul di NLP Talks 12 Juni 2010!</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesianlpsociety.org/?feed=rss2&amp;p=142</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Menclok: Cara Mudah Nikmati Jalanan</title>
		<link>http://indonesianlpsociety.org/?p=127</link>
		<comments>http://indonesianlpsociety.org/?p=127#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 05 May 2010 05:57:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teddi Prasetya Yuliawan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[NLP Practice]]></category>

		<category><![CDATA[NLP Reflections]]></category>

		<category><![CDATA[belajar nlp]]></category>

		<category><![CDATA[menclok]]></category>

		<category><![CDATA[nlp bahasa indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[nlp indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[pakar nlp indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[perceptual position]]></category>

		<category><![CDATA[teknik nlp]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesianlpsociety.org/?p=127</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan
 
Sudah hampir 8 tahun sejak saya pertama kali belajar mengemudi mobil.Tiga tahun di antaranya benar-benar mengemudi setiap hari, dengan jarak tempuh 60 km pulang pergi setiap harinya. Maka hampir 4 jam setiap hari saya berada di jalanan, menyelami kemacetan bersama Si Ceri—nama untuk mobil Daihatsu Ceria kami. 
Ada begitu banyak pelajaran [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan</p>
<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span></p>
<style>
st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
</style>
<p><![endif]--> <!--[if gte mso 10]></p>
<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
	mso-para-margin:0in;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-ansi-language:#0400;
	mso-fareast-language:#0400;
	mso-bidi-language:#0400;}
</style>
<p><![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Sudah hampir 8 tahun sejak saya pertama kali belajar mengemudi mobil.Tiga<span> </span>tahun di antaranya benar-benar mengemudi setiap hari, dengan jarak tempuh 60 km pulang pergi setiap harinya. Maka hampir 4 jam setiap hari saya berada di jalanan, menyelami kemacetan bersama Si Ceri—nama untuk mobil Daihatsu Ceria kami. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Ada begitu banyak pelajaran berharga, sebanyak jenis peristiwa yang acapkali saya alami. Macet, disenggol mobil lain, diserempet sepeda motor, dipotong secara tiba-tiba, dll. Itu yang kurang enaknya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Loh, kok kurang enak? Katanya NLPers itu bisa mengendalikan pikiran dan perasaannya? Jadi semua hal itu enaaaak.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span id="more-127"></span><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Hehehe&#8230;memangnya NLPers nabi? Lah, nabi juga bisa kesal. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">OK, lanjuuut.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Sisi lain, saya pun cukup banyak menemui berbagai fenomena kebijaksanaan di jalan, yang membuat saya berpikir ulang tentang, “Mengapa Tuhan mengatur saya untuk hidup di Jakarta nan padat ini?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Nah, kali ini saya hanya ingin fokus saja, bercerita tentang cara mudah untuk menikmati berbagai kejadian yang “mengesalkan” di jalanan. Kata tersebut sengaja saya beri tanda kutip sebab “kesal” memang sebuah pilihan. Mau kesal atau tidak, yang penting dapat hikmah. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Ya, saya sebut tips ini sebagai tips “Menclok”. Bagi Anda yang belum familiar dengan istilah ini, ‘menclok’ adalah kata lain dari melompat, alias nangkring dalam bahasa Jerman. Hehehe&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Teknik ini memungkinkan kita untuk belajar empati sekaligus menikmati kondisi jalanan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Kok bisa? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Yuuuk&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Anda pernah diserobot di jalanan yang membuat Anda benar-benar kaget dan kesal? Baguuus. Nah, sementara Anda memikirkan diri Anda yang sedang kesal, sekarang, apa yang Anda pikirkan? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Aha, tepat sekali! Yak, benar, seperti itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Nah, saya kurang tahu persis bagaimana Anda akan melakukannya sebentar lagi. Yang pasti, Anda dan pikiran Anda yang lebih tahu. Yaitu, sambil Anda memperhatikan gambar orang yang menyerobot Anda tersebut, Anda boleh KELUAR dari diri Anda, dan masuk ke dalam diri orang tersebut, SEKARANG!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><em><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Yak, baguuus. Anda sudah melakukannya dengan baik. Well, Anda baru saja menyerobot seseorang, bukan? </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><em><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Anda boleh bertanya pada diri Anda, apa tujuan Anda melakukan hal tersebut? </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><em><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Apa sebenarnya yang sedang terjadi sehingga Anda begitu terburu-buru? </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><em><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Apa hal yang jika orang yang baru saja Anda serobot tahu, maka ia pasti mengerti?</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><em><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Pikirkan sejenak, dan rasakan, sepenuhnya.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><em><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Bukankah ada sebuah sensasi ‘aneh’ dalam diri Anda? Sebuah sensasi yang mungkin belum pernah Anda rasakan sebelumnya.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><em><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Nah, sementara Anda MEMBAWA sensasi ini, Anda boleh KELUAR dari diri Anda, dan MASUK kembali ke dalam diri orang yang Anda serobot, SEKARANG!</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Aha! Selamat datang kembali!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Jadi, Anda tadi diserobot ya? Bagaimana perasaan Anda, sekarang? Bagaimana rasanya sensasi dalam diri Anda ketika memikirkan kejadian tadi itu? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Nah, bukankah Anda menyadari adanya sesuatu yang berbeda? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Baguuuus! Anda sudah melakukannya dengan baik. Lalu, kemana perginya perasaan kesal itu tadi?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Hehehe&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Ah, saya tidak percaya jika ia hilang begitu saja. Anda bisa saja memunculkannya kembali, namun saya yakin Anda tentu lebih memilih sebuah perasaan yang Anda bisa menikmatinya, kan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Well, saya sendiri dulu sempat berpikir, mengapa begitu banyak sepeda motor di Jakarta yang seenaknya berkendara? Seolah jalanan adalah milik mereka sendiri? </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Ya, dulu. Sampai akhirnya saya pun paham, karena saya memang wajib bayar pajak. Dan katanya pajak itu untuk membangun jalan. Maka artinya memang saya yang punya jalan. Hehehe&#8230; Tentunya bersama orang-orang lain juga. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Hal yang sama pun baru saja saya alami kembali 2 hari yang lalu, ketika Si Ceri dirawat di bengkel, sehingga kami berangkat kantor bersama Si Bito—nama untuk sepeda motor Honda Beat kami. Betapa jalanan yang padat memang melelahkan, panas, dan harus full konsentrasi agar bisa selamat. Maka tidak mengherankan ketika banyak pengendara sepeda motor sebenarnya sedang kelelahan di jalan, dan ingin segera menikmati indahnya rumah. Belum lagi jika ternyata ada keluarganya yang sedang sakit, atau ia sedang sakit perut dan kebeleeeet sekali, atau ada sebuah urusan yang menyangkut masa depannya, dan jutaan kemungkinan lain. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Demikianlah, beberapa hikmah yang saya temukan dengan teknik “Menclok”. Dan tentu tidak saja untuk urusan di jalanan. Saya seringkali menggunakannya dalam sebuah <em>meeting</em>, ketika ia berjalan belum sesuai harapan saya. Alih-alih kesal yang berdampak pada buntunya ide, maka saya pun “Menclok” sebentar sambil mengikuti jalannya pembicaraan. Alhasil, orang lain yang mulanya juga kesal, gara-gara melihat saya senyum-senyum, akhirnya pun turut tersenyum pula. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Nah, saya ingin tahu, apa saja ya yang Anda temukan setelah mempraktikkan tips ini?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN"> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesianlpsociety.org/?feed=rss2&amp;p=127</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Seni Berguru</title>
		<link>http://indonesianlpsociety.org/?p=114</link>
		<comments>http://indonesianlpsociety.org/?p=114#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 26 Apr 2010 07:53:11 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teddi Prasetya Yuliawan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[NLP Practice]]></category>

		<category><![CDATA[NLP Reflections]]></category>

		<category><![CDATA[basic nlp]]></category>

		<category><![CDATA[belajar nlp]]></category>

		<category><![CDATA[berguru]]></category>

		<category><![CDATA[berguru nlp]]></category>

		<category><![CDATA[indonesia nlp]]></category>

		<category><![CDATA[NLP Basic]]></category>

		<category><![CDATA[nlp dalam bahasa indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[nlp indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[pakar nlp indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[seni berguru]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesianlpsociety.org/?p=114</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan
 
Pak, saya sudah ikut training yang Bapak rekomendasikan. Kok saya nggak dapet apa-apa ya? Biasa aja tuh.
Ted, aku sudah baca buku yang katamu bagus, tapi nothing special tuh. 
Mas, saya sudah baca juga buku yang Mas ceritakan tadi. Tapi kok saya nggak bisa mendapatkan pelajaran seperti layaknya Mas ya?
Menyelesaikan kelas 2 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan</p>
<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--> <!--[if gte mso 10]></p>
<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
	mso-para-margin:0in;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-ansi-language:#0400;
	mso-fareast-language:#0400;
	mso-bidi-language:#0400;}
</style>
<p><![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 6pt 0.5in;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Pak, saya sudah ikut <em>training</em> yang Bapak rekomendasikan. Kok saya nggak dapet apa-apa ya? Biasa aja tuh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 6pt 0.5in;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Ted, aku sudah baca buku yang katamu bagus, tapi <em>nothing special</em> tuh. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 6pt 0.5in;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Mas, saya sudah baca juga buku yang Mas ceritakan tadi. Tapi kok saya nggak bisa mendapatkan pelajaran seperti layaknya Mas ya?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Menyelesaikan kelas 2 hari saya bersama Pak Wiwoho di bulan Maret lalu rupanya menghadirkan sebuah pencerahan yang selama ini menggelitik pikiran saya. Ya, 3 pernyataan di atas hanyalah rangkuman dari sekian banyak fenomena sejenis yang seringkali saya dengar dari beberapa orang yang meminta rekomendasi saya akan berbagai pelatihan atau literatur, yang rupanya belum memuaskan dahaga mereka akan ilmu yang didambakan. Sudah sejak beberapa lama sebenarnya saya merasa tahu jawabannya. Hanya saja, saya baru benar-benar mendapatkan sebuah jalinan ide yang terstruktur tepat setelah mengikuti kelas Pak Wi kembali.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span id="more-114"></span><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Sisi lain, entah sudah berapa banyak tulisan mengenai seni dan teknik mengajar yang ditulis, namun masih sedikit yang mengeksplorasi seni belajar. Maka meskipun saya tetap tertarik untuk menulis sebuah buku tentang seni menjadi guru, saat ini saya sedang begitu bergairah untuk menulis tentang seni menjadi murid. Sebab memang saya juga belum pernah mendengar ada yang namanya guru mumpuni yang datang ke dunia dengan sendirinya, tanpa pernah berguru pada seorang guru yang mumpuni pula. Maka kesimpulan saya pun sederhana: jauh sebelum menjadi seorang guru yang baik, seseorang mestilah menjadi seorang murid yang baik dulu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Apa yang ingin saya dapat?</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Setidaknya ada beberapa hal yang saya temukan dalam perjalanan saya menjadi murid, dari dulu hingga saat ini. Beberapa hal berikut ini adalah hal-hal yang saya rasakan amat membantu saya dalam proses mendownload ilmu dari sang guru. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Saya biasa memiliki beberapa tujuan dalam belajar, baik dalam hal membaca buku ataupun berguru secara langsung. Dua mode yang sering saya gunakan adalah: belajar tentang materinya dan belajar untuk menjadi trainer bagi materi tersebut. Dua tujuan ini jelas dua hewan yang beda sama sekali, maka salah menggunakan mode bisa menjadikan proses belajar salah sambung berat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Jika saya ingin belajar materinya, maka saya akan memasang <em>state</em> sebagai murid yang benar-benar bodoh. Meskipun saya sudah pernah mempelajari materi tersebut sebelumnya—dan ini memang selalu saya lakukan—saya kan menyimpannya di rumah dan sama sekali tidak saya bawa ke ruang kelas. Di kelas, saya akan duduk di depan, memasang tubuh tegak, memegang buku catatan, dan membiarkan wajah saya melongo, serta sering-sering berkata, “Oooo&#8230;gitu tho?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Melakukan hal ini akan membuat pikiran dan perasaan saya layaknya spons yang siap menyerap setiap detil ilmu yang diajarkan. Karena saya benar-benar menyingkirkan filter-filter yang menganggu, seperti filter merasa tahu, filter membandingkan, dll. Filter-filter ini baru saya pasang lagi setelah saya benar-benar selesai belajar.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Maka saat menggunakan mode ini, saya benar-benar bisa asyik masyuk belajar, meskipun gurunya begitu menjemukan alias memang kurang atraktif dalam mengajar. Karena setiap hal adalah hal baru bagi saya, maka tidak ada hal yang membosankan, melainkan semuanya adalah pelajaran yang menggairahkan. Saya bahkan sangat jarang bertanya jika sedang dalam mode ini. Saya benar-benar pasrah ilmu yang diajarkan diinstal ke dalam pikiran saya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Pada intinya, saya selalu mengawali proses belajar dengan benar-benar menjadikan diri saya seorang murid. Dalam khasanah ilmu agama, ada sebuah pakem yang mengatakan, “Seorang murid itu bagaikan mayat di hadapan gurunya.” Alias, pasrah betul, dan benar-benar memposisikan guru selayaknya seorang guru. Hormat pada pribadinya, hormat pada ilmunya. Lepaskan pikiran dari memikirkan kekurangannya, fokuskan hati untuk menerima kemumpuniannya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Sementara itu, cukup sering juga saya mengulang untuk belajar pada seorang guru, demi mengetahui bagaimana caranya sang guru mengajarkannya. Dalam hal ini, saya memang ingin memodel cara beliau mengajar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Nah, kalau ini yang saya inginkan, maka state yang saya pasang ada 2. Pertama, <em>state</em> pengamat alias posisi 3 di Perceptual Position. Kedua, state pelaku alias posisi 1. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Sebagai pengamat, maka saya akan duduk di belakang, dan seringkali melipat tangan saya, untuk menjadi pengamat yang benar-benar obyektif. Saya tidak peduli ada materi yang diajarkan, melainkan fokus pada bagaimana beliau mengajarkannya. Yang saya perhatikan adalah struktur dan sama sekali bukan kontennya. Bagaimana beliau berkata, menggerakkan tangan, memainkan intonasi, mengatur jalannya sesi, dsb. Dalam konteks belajar lewat buku, maka saya fokus pada struktur penyampaian ide, sembari membayangkan sang penulis mengajarkannya secara langsung pada saya. Maka asyik sekali saat saya menyelami buku-buku klasik awal NLP, yang memang menggunakan format transkrip hasil rekaman di kelas. Saya bisa dengan mudah membayangkan dan mendengarkan para trainer berbicara seperti layaknya peserta. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Sisi lain, saya juga seringkali masuk ke dalam diri sang guru dan memerankan dirinya mengajar. Saya rasakan berbicara sebagai guru, memberikan materi, menggerakkan tubuh, dll. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Sementara dalam hal belajar lewat buku, saya pun berbicara sendiri saat membaca buku tersebut, dan berusaha mencari cara penyampaian yang pas dengan tulisan yang saya baca. Tentu ini saya lakukan di tempat tertutup. Kalau tidak, wah, bisa dikira orang gila. Hehehe&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Fokuskan dengan bertanya</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Ajukan pertanyaan, dan jawabannya akan kita dapat. Demikian kata sebuah ungkapan. Pertanyaan adalah stimulus pikiran. Mengajukan pertanyaan yang salah hanya akan mengantarkan pikiran untuk menempuh jalan yang salah pula.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Ya, saya selalu punya pertanyaan yang ingin saya jawab setiap kali mempelajari sesuatu. Maka saya tidak pernah bosan untuk mengulang membaca sebuah buku, sebab saya selalu punya pertanyaan yang berbeda setiap kalinya. Alhasil, hasil yang saya dapat pun berbeda. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Bertanya, “Apa yang baru yang belum saya pelajari sebelumnya?” jelas amat berbeda hasilnya dengan bertanya, “Apa saja di buku ini yang sudah pernah saya pelajari?” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Maka saat saya penasaran dengan cara seorang penulis menemukan ide tulisan, saya bertanya, “Bagaimana dia menemukan ide tulisan ini?”, sembari saya menggunakan posisi satu dan menjadi sang penulis itu sendiri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Sementara saat saya belajar di kelas, saya seringkali bertanya, “Apa yang saya lewatkan di kelas sebelumnya? Apa yang saya belum paham saat belajar lewat buku kemarin? Bagaimana sebenarnya sebuah materi dipraktikkan? Apa inti yang belum saya pahami sebelumnya dan bisa saya temukan saat ini?” dan seterusnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Temukan hakikatnya</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Saya memahami tahapan belajar terdiri dari 3 fase. Pertama adalah <strong>knowledge</strong>, kedua adalah <strong>practice</strong>, ketiga adalah <strong>meaning</strong>. Fase knowledge adalah saat kita memulai langkah awal belajar sesuatu. Fase practice adalah saat kita mempraktikkan secara langsung sebuah ilmu, sampai jadi mahir. Dan fase meaning adalah saat kita sudah melewati ratusan bahkan ribuan jam terbang praktik, hingga mampu menemukan mana yang inti dan mana yang pernik. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Maka saya pun seringkali mengulang kembali apa yang saya pelajari bertahun-tahun lalu, demi mendapatkan inti yang dulu belum mampu saya pahami. Bahkan kalau saya bisa menemukannya, saya akan menggali informasi dari sumber primernya. Semisal, dalam konteks belajar lewat buku, maka saya akan mencari referensi awal dari buku yang saya baca. Karena setiap penulis yang mengutip penulis lain pastilah menggunakan ‘peta’-nya masing-masing, maka saya seringkali menemukan banyak hal menakjubkn saat menyelami sumber-sumber primernya. Belum lagi saya bisa memodel langsung gaya penulisan dan penemuan ide dari penulis sumber primer tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Berdoa</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Sengaja saya letakkan langkah ini di bagian akhir karena ia lah langkah yang akan menjadi katalisator langkah-langkah sebelumnya. Ya, sumber segala sumber ilmu adalah Tuhan. Saya termasuk orang yang sangat meyakini bahwa proses mendapatkan ilmu bukanlah semata melalui proses belajar. Bahkan, jauh lebih banyak saya mendapatkan ilmu yang entah dari mana sumbernya, tanpa usaha apapun, begitu saja ia hadir dalam pemahaman saya. Maka saya hampir tidak pernah melupakan untuk berdoa pada Tuhan agar dimudahkan dalam mengambil ilmu yang bermanfaat, dari guru yang mumpuni, secara utuh untuk saya download. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Ilmu yang bermanfaat, sebab belum tentu semua ilmu cocok untuk saya terapkan dalam konteks kehidupan saya. Atau bisa jadi saya masih di tahapan belum sanggup untuk menerima ilmu tersebut. Atau lagi, bisa jadi guru saya memiliki kekurangan yang memang manusiawi beliau miliki. Maka saya berlindung pada Tuhan agar hanya keutamaannya saja yang saya dapat.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Guru yang mumpuni, sehingga ilmu yang saya terima memang merupakan ilmu yang matang, kombinasi kematangan konseptual dan kematangan pribadi. Bukan hanya teori, melainkan plus hasil praktik yang beliau dapatkan sepanjang hidupnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Secara utuh, sebab begitu banyak ilmu tidak bisa ditransfer hanya melalui ucapan ataupun tulisan. Ilmu model ini jelas sulit dipelajari oleh pikiran sadar (conscious), namun hanya bisa langsung diterima oleh unconscious. Ilmu yang berada di tataran level unconscious competence. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Tuliskan, ajarkan</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Akhirnya, saya selalu teringat pesan dari Imam Ali ra, “Ikatlah ilmu dengan menuliskannya.” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Ya, menuliskan ilmu merupakan cara untuk mensistematisasi pelajaran yang kita terima. Yang tadinya berantakan, dengan ditulis ia menjadi rapi plus mudah dievaluasi. Sebab menulis sejatinya adalah menyarikan apa yang kita pelajari. Di dalamnya terkandung proses delesi, distorsi, dan generalisasi yang signifikan sehingga yang muncul pada akhirnya adalah saripatinya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Nah, setelah menulis inilah biasanya saya jadi jauh lebih mudah ketika ingin mengajarkan, sebab saya sudah memiliki sebuah ilmu yang merupakan hasil racikan saya sendiri, alih-alih membawakan materi orang lain yang belum tentu pas dengan gaya mengajar saya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Kenapa sih, harus diajarkan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Ya, karena hanya dengan mengajar maka ilmu kita akan bertambah. Dengan mengajar, saya jadi tahu persis mana bagian yang sudah benar-benar saya kuasai, dan mana yang perlu saya pelajari lebih lanjut. Sementara itu, mengajar justru membuat saya merasa bodoh, terutama saat mendapat pertanyaan yang belum bisa saya jawab, atau menghadapi kondisi kelas yang belum bisa saya kendalikan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">OK, sampai disini dulu. Semoga setelah mengambil yang menurut Anda paling mudah untuk diterapkan lebih dulu, Anda pun mendapati hasil yang sama mengejutkannya dengan saya. Bahkan lebih!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN"> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesianlpsociety.org/?feed=rss2&amp;p=114</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Indonesian NLP Conference #2: Sebuah Rintisan NLP ala Indonesia</title>
		<link>http://indonesianlpsociety.org/?p=112</link>
		<comments>http://indonesianlpsociety.org/?p=112#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 07 Apr 2010 07:52:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teddi Prasetya Yuliawan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Indonesian NLP Conference]]></category>

		<category><![CDATA[NLP Advance]]></category>

		<category><![CDATA[basic nlp]]></category>

		<category><![CDATA[belajar nlp]]></category>

		<category><![CDATA[indonesia nlp]]></category>

		<category><![CDATA[konferensi pertama nlp di indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[local wisdom]]></category>

		<category><![CDATA[nlp]]></category>

		<category><![CDATA[nlp conference]]></category>

		<category><![CDATA[nlp dan serat jawa]]></category>

		<category><![CDATA[nlp dasar]]></category>

		<category><![CDATA[nlp indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesianlpsociety.org/?p=112</guid>
		<description><![CDATA[ Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan
Adalah Pak Wid—begitu beliau biasa disapa—yang dengan begitu proaktif menghubungi panitia menawarkan sebuah paper hasil penelitian sementara beliau tentang pola-pola bahasa dalam literatur Jawa Kuno. Meskipun beliau mengakui bahwa kajian ini baru dimulai, dan memiliki banyak keterbatasan dalam melakukannya, sesi yang berlangsung selama kurang lebih 1 jam di Indonesian NLP Conference [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--><!--[if !mso]><span class="mceItemObject"   classid="clsid:38481807-CA0E-42D2-BF39-B33AF135CC4D" id=ieooui></span></p>
<style>
st1\:*{behavior:url(#ieooui) }
</style>
<p><![endif]--> Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan<!--[if gte mso 10]></p>
<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
	mso-para-margin:0in;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-ansi-language:#0400;
	mso-fareast-language:#0400;
	mso-bidi-language:#0400;}
</style>
<p><![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Adalah Pak Wid—begitu beliau biasa disapa—yang dengan begitu proaktif menghubungi panitia menawarkan sebuah paper hasil penelitian sementara beliau tentang pola-pola bahasa dalam literatur Jawa Kuno. Meskipun beliau mengakui bahwa kajian ini baru dimulai, dan memiliki banyak keterbatasan dalam melakukannya, sesi yang berlangsung selama kurang lebih 1 jam di Indonesian NLP Conference 3 April lalu benar-benar menggelitik para peserta yang hadir di kelas beliau. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span id="more-112"></span><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Menggelitik, karena rupanya banyak di antara peserta—terutama yang pernah belajar sisi linguistik dari NLP—baru menyadari berlimpahnya makna yang dapat dipelajari dari peninggalan budaya Indonesia. Padahal, sesi tersebut baru membahas secuplik saja poin-poin yang didapat dari “Serat Kaca Wirangi” dan “Serat Madurasa”. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Serat Kaca Wirangi</span></strong><span style="font-size: 10pt; font-family: "> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Naskah yang diteliti bertuliskan tahun 1922 dan merupakan transliterasi dari naskah lama dalam huruf Jawa. Tanpa keterangan pengarang yang jelas, karya ini berisi kisah metafora yang sarat makna.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Kisah diawali dengan percakapan antara 2 tokoh utama, yakni burung Perkutut dan Dekukur pada suatu taman. Keduanya membahas berbagai tokoh seperti kupu-kupu, batu kali, batu mulia, berlian, batu biasa, arang, besi batangan, dan kaca benggala gedhe. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Keunikan serat ini jelas terletak pada gaya metaforik yang digunakan, sehingga menciptakan efek disosiasi yang menghindarkan ketersinggungan pembaca/penerima pesan. Di dalamnya, para pembaca belajar beberapa hal berikut:</span></p>
<ul style="margin-top: 0in;" type="disc">
<li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Baik      atau buruk hanyalah ide, dan sangat tergantung pada perasaan dan makna.</span></li>
<li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="SV">Yang sedang disukai akan terlihat      baik dan perhatian kita, sedangkan sisanya akan dihapus/diabaikan.</span></li>
<li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="SV">Orang simpati tidak kurang memuji,      orang benci tidak kurang mencela.</span></li>
<li class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IT">Orang yang paling kita cintai di      dunia ini adalah diri kita sendiri.</span></li>
</ul>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IT">Kesimpulannya, persis seperti yang dikemukakan dalam presuposisi NLP, “People response to their internal maps, not the reality itself”. Dengan bahasa sederhana, manusia memiliki perwatakannya masing-masing.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IT">Lebih dari itu, serat ini rupanya juga menjelaskan konsep berpikir-merasa yang begitu familiar di kalangan NLPers, atau yang sering disebut <strong>dengan NLP Communication Model/Human Model of the World</strong>. Jika dalam NLP kita belajar bahwa apa yang ada dalam <strong>representasi internal</strong> manusia merupakan hasil <strong>filterisasi</strong> dari <strong>kenyataan</strong>, maka serat ini mengajarkan bahwa <strong>rasa</strong> yang dimiliki manusia merupakan hasil pemahaman terhadap <strong>cahya/pepadhang</strong> yang dilihat melalui <strong>keluk/asap</strong>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IT">Sementara itu, serat ini juga menerangkan tentang konsep manusia sempurna yang sejalan dengan model Neurological Level yang dikembangkan oleh Robert Dilts. Perkembangan manusia berawal dari fase <strong>kupu-kupu</strong> yang masih berkutat dengan segala warna. Ini merupakan pengejawantahan dari level <strong>environment</strong> hingga <strong>capability</strong>. Berlanjut pada fase <strong>batu mulia</strong>, yang sudah mulai lepas dari perilaku, namun masih memiliki warna. Ini sejalan dengan level <strong>belief/value</strong>. Naik lagi menuju fase <strong>berlian</strong> yang tidak berkarakter/berwarna khusus dan nir nilai (tidak bernilai baik/buruk). Ini sejalan dengan level <strong>identity</strong>. Dan berujung pada fase <strong>kaca benggala</strong>, sesuatu yang bisa memuat segala rupa warna (map), cahaya (budi, etika), dan wujud. Ini selaras dengan <strong>level spirituality</strong>.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IT">Serat Madurasa</span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IT">Naskah yang diteliti juga merupakan naskah transliterasi dari naskah Jawa, bertahunkan 1935. </span><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="SV">Berbeda dengan Serat Kaca Wirangi, Serat Madurasa lebih banyak menjelaskan pola-pola olah batin, meskipun sama-sama menggunakan model metafora.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="SV">Ajaran inti serat ini adalah ’aja lali marang jejer’, intinya adalah jangan pernah melupakan tujuan dalam hidup. Sementara banyak manusia kosong tanpa sasaran yang jelas, tidak memahami tujuan hidup di dunia, sering beralih keinginan, sehingga mudah terombang-ambing oleh perubahan zaman. Manusia seperti ini membutuhkan <em>outcome setting</em> yang pasti, dan senantiasa waspada terhadap berbagai godaan dalam perjalanan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="SV"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="SV">Nah, untuk diskusi lebih lanjut, silakan kontak langsung penelitinya, Pak Widyarso, melalui email di <a href="mailto:widyarso_r@yahoo.co.uk">widyarso_r@yahoo.co.uk</a>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="SV"> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesianlpsociety.org/?feed=rss2&amp;p=112</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Indonesian NLP Conference #1: Mengenal Lebih Dekat?</title>
		<link>http://indonesianlpsociety.org/?p=111</link>
		<comments>http://indonesianlpsociety.org/?p=111#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 05 Apr 2010 04:09:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teddi Prasetya Yuliawan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Indonesian NLP Conference]]></category>

		<category><![CDATA[NLP Basic]]></category>

		<category><![CDATA[basic nlp]]></category>

		<category><![CDATA[belajar nlp]]></category>

		<category><![CDATA[indonesia nlp]]></category>

		<category><![CDATA[konferensi pertama nlp di indonesia]]></category>

		<category><![CDATA[nlp]]></category>

		<category><![CDATA[nlp conference]]></category>

		<category><![CDATA[nlp dasar]]></category>

		<category><![CDATA[nlp indonesia]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesianlpsociety.org/?p=111</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan
 
“Apa itu NLP?”
Sebuah pertanyaan standar yang pasti dilontarkan oleh rekan-rekan yang baru mendengar istilah Neuro-Linguistic Programming. Sementara Anda tentu sudah membaca beberapa artikel saya tentang hal ini di website, berikut ini 3 jawaban sederhana yang saya jadikan pengantar pada “The 1st Indonesian NLP Conference”, 3 April 2010 lalu.
Pertama, saya teringat perkataan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan</p>
<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--> <!--[if gte mso 10]></p>
<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
	mso-para-margin:0in;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-ansi-language:#0400;
	mso-fareast-language:#0400;
	mso-bidi-language:#0400;}
</style>
<p><![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">“Apa itu NLP?”</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Sebuah pertanyaan standar yang pasti dilontarkan oleh rekan-rekan yang baru mendengar istilah Neuro-Linguistic Programming. Sementara Anda tentu sudah membaca beberapa artikel saya tentang hal ini di website, berikut ini 3 jawaban sederhana yang saya jadikan pengantar pada “The 1<sup>st</sup> Indonesian NLP Conference”, 3 April 2010 lalu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span id="more-111"></span><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Pertama</span></strong><span style="font-size: 10pt; font-family: ">, saya teringat perkataan Abraham Maslow berikut ini:</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 6pt 0.5in;"><em><span style="font-size: 10pt; font-family: ">If we want to answer the question, how tall can the human species grow, then<span> </span>obviously it is well to pick out the ones who are already tallest and study them.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 6pt 0.5in;"><em><span style="font-size: 10pt; font-family: ">If we want to know how fast a human being can run, then it is no use to average out the speed of the populations; it is far better to collect Olympic gold medal winners and see how well they can do. </span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 6pt 0.5in;"><em><span style="font-size: 10pt; font-family: ">If we want to know the possibilities for spiritual growth, value growth, or moral development in human beings, then I maintain that we can learn by studying the most moral, ethical, or sanity people.</span></em></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Yes, NLP adalah rasa ingin tahu tentang mengapa seseorang bisa memiliki keunggulan yang tidak dimiliki oleh orang lain. Dengan demikian, tanpa perlu melewati fase proses yang panjang, orang lain dapat mereplikasinya dengan lebih cepat. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Maka belajar NLP jelas membuat kita jadi orang yang selalu penasaran. Belajar NLP juga pasti membuat kita jauh dari rasa iri, dengki, ataupun rendah diri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Kok bisa?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Jelas bisa. Sebab alih-alih kita iri dengan apa yang dimiliki orang lain, kita justru penasaran dengan bagaimana mereka bisa memiliki hal tersebut. Lihat tetangga kaya, jadi penasaran untuk menirunya. Lihat teman pintar, jadi penarasan untuk menirunya. Lihat orang lain selalu bahagia, jadi penasaran untuk menconteknya. Lihat teman pintar mendidik anak, jadi penasaran untuk belajar darinya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Penasaran, penasaran, penasaran. Mau tahuuuuu aja gitu, bagaimana orang lain bisa sukses, bisa jadi ahli, lalu kita tiru deh.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Kedua</span></strong><span style="font-size: 10pt; font-family: ">, NLP adalah ilmu tentang memahami program dalam diri kita, yang ternyata cara kerjanya adalah <em>neuro-linguistik</em>. Persis seperti namanya. Karena cara kerja pikiran-perasaan kita neuro-linguistik, maka cermati dan tandai deh kata-kata atau bahasa-bahasa apa saja yang membuat kita marah, sedih, kesal, senang, semangat, bahagia, dan seterusnya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="PT-BR">Bagaimana cara kerja program marah dalam diri kita? </span><span style="font-size: 10pt; font-family: ">Apa kata-kata pemicunya? Lalu kendalikan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="PT-BR">Bagaimana cara kerja program bahagia kita? </span><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="FI">Apa kata-kata pemicunya? Lalu munculkan saat kita inginkan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="FI">Dengan demikian, <em>remote</em> pikiran dan perasaan benar-benar berada dalam kendali kita, dan bukan orang lain. Setiap pikiran dan perasaan pun merupakan keputusan kita sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="FI">Ketiga</span></strong><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="FI">, NLP adalah soal pembiasaaan, alias <em>mindset</em> untuk senantiasa peka terhadap struktur, selain konten. Peserta tentu ingat contoh saya tentang lagu ”Sempurna” asli dari Andra and the Backbone, dan lagu ”Sempurna Jowo” ala entah siapa. Hehehe&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="FI">Lirik persis sama, seketika memicu makna—dan hasil—yang berbeda karena struktur menyanyikannya berbeda. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="FI">Pun peserta juga pasti ingat dengan 2 gambar Mahatma Gandhi yang saya tampilkan. Pertama berbingkai hitam, yang kedua berbingkai <em>pink</em>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="FI">Maka kemudian kita jadi lebih mudah memahami mengapa sebuah pengalaman yang sama, bisa memiliki makna yang berbeda bagi 2 orang yang berbeda. Pun kita jadi mengerti, mengapa sesuatu yang <em>dulu</em> kita anggap sebagai tragedi, seketika sekarang bisa kita rasa sebagai komedi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="FI">Yes, bukan urusan kejadiannya, melainkan kita sudah membingkai pengalaman tersebut dengan struktur yang berbeda. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="FI">Aha, bukankah ini menandakan bahwa kita punya kemampuan untuk menciptakan makna yang kita inginkan? Makna yang memberdayakan diri kita? Makna yang menumbuhkan pribadi kita?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="FI">Kesimpulan: kejadian adalah takdir, makna adalah keputusan. Untungnya, kita berperilaku berdasarkan makna yang kita pilih.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: ">So, nantikan ulasan ”The 1st Indonesian NLP Conference” selanjutnya OK!</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesianlpsociety.org/?feed=rss2&amp;p=111</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Revisiting &#8216;My&#8217; NLP</title>
		<link>http://indonesianlpsociety.org/?p=100</link>
		<comments>http://indonesianlpsociety.org/?p=100#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 18 Feb 2010 06:18:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teddi Prasetya Yuliawan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[NLP Advance]]></category>

		<category><![CDATA[NLP Reflections]]></category>

		<category><![CDATA[advance nlp]]></category>

		<category><![CDATA[nlp]]></category>

		<category><![CDATA[revisiting nlp]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesianlpsociety.org/?p=100</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan
 
Seiring dengan proses editing naskah saya, saya pun melakukan peninjauan kembali naskah tersebut dari awal hingga akhir. Sebuah proses yang melelahkan, namun sekaligus mencerahkan. 
Kok mencerahkan?
Ya, karena rupanya saya jadi berkesempatan untuk meninjau kembali berbagai pemahaman yang sejauh ini telah begitu mapan saya tanam dalam diri saya tentang NLP. Uniknya, saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan</p>
<p><!--[if gte mso 9]><xml> <w:WordDocument> <w:View>Normal</w:View> <w:Zoom>0</w:Zoom> <w:PunctuationKerning /> <w:ValidateAgainstSchemas /> <w:SaveIfXMLInvalid>false</w:SaveIfXMLInvalid> <w:IgnoreMixedContent>false</w:IgnoreMixedContent> <w:AlwaysShowPlaceholderText>false</w:AlwaysShowPlaceholderText> <w:Compatibility> <w:BreakWrappedTables /> <w:SnapToGridInCell /> <w:WrapTextWithPunct /> <w:UseAsianBreakRules /> <w:DontGrowAutofit /> </w:Compatibility> <w:BrowserLevel>MicrosoftInternetExplorer4</w:BrowserLevel> </w:WordDocument> </xml><![endif]--><!--[if gte mso 9]><xml> <w:LatentStyles DefLockedState="false" LatentStyleCount="156"> </w:LatentStyles> </xml><![endif]--> <!--[if gte mso 10]></p>
<style>
 /* Style Definitions */
 table.MsoNormalTable
	{mso-style-name:"Table Normal";
	mso-tstyle-rowband-size:0;
	mso-tstyle-colband-size:0;
	mso-style-noshow:yes;
	mso-style-parent:"";
	mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;
	mso-para-margin:0in;
	mso-para-margin-bottom:.0001pt;
	mso-pagination:widow-orphan;
	font-size:10.0pt;
	font-family:"Times New Roman";
	mso-ansi-language:#0400;
	mso-fareast-language:#0400;
	mso-bidi-language:#0400;}
</style>
<p><![endif]--></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Seiring dengan proses <em>editing</em> naskah saya, saya pun melakukan peninjauan kembali naskah tersebut dari awal hingga akhir. Sebuah proses yang melelahkan, namun sekaligus mencerahkan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Kok mencerahkan?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Ya, karena rupanya saya jadi berkesempatan untuk meninjau kembali berbagai pemahaman yang sejauh ini telah begitu mapan saya tanam dalam diri saya tentang NLP. Uniknya, saya menemukan buanyak pemahaman baru, yang belum pernah terpikir sebelumnya. Serangkaian simpul-simpul baru pun terjalin menyusun bangunan pemahaman yang semakin luas.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Apa saja sih?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span id="more-100"></span><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Pertama</span></strong><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">, ya tentang NLP itu sendiri. Sampai beberapa waktu lalu saya masih membutuhkan waktu beberapa menit untuk menjawab pertanyaan sederhana, “Apa sih NLP itu?” atau “NLP? Apaan tuh?” Ya, sebab saya mesti memilih dulu definisi yang kiranya paling tepat untuk memahamkan sang penanya sekali tembak dan tidak berbelit-belit. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Bagaimana sekarang?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Jawaban saya sederhana. NLP itu adalah <strong>ilmu untuk menikmati hidup</strong>. Ya, makanya ini pun saya jadikan judul dari buku saya, kalau tidak diganti oleh penerbitnya. Hehehe&#8230;maklum, urusan judul bukan hanya urusan selera, melainkan urusan pemasaran. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Eh, kok jadi kemana-mana. Balik lagi. Bagaimana ceritanya tuh, NLP bisa jadi ilmu untuk menikmati hidup? Ya sederhana juga. Keunikan NLP hemat saya terletak pada presuposisi yang paling populer: <em>the map is not the terriory</em>. Inilah emak alias ibu dari beragam rupa model dan teknik yang ada di dalam NLP. Karena peta bukan wilayah, maka apapun makanannya, minumnya teh botol sosro. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Loh, kok jadi ngiklan? Memangnya di-endorse?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Bukan. Tapi ini memang serius. Iklan teh botol tersebut memang contoh yang amat pas untuk memberikan penjelasan bahwa peta memang benar-benar bukan merupakan wilayah. Enaknya, manusia berpikir-merasa-bertindak berdasarkan petanya. Maka seperti apapun realitanya, manusia punya kebebasan memilih respon yang diinginkan. Aha, kebebasan memilih! Inilah konon yang merupakan penyebab manusia itu disebut manusia. Ya karena punya kebebasan memilih respon itu.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Sisi lain, ketika muncul sebuah permasalahan, maka ya tinggal ditinjau kembali petanya. Karena pasti sang peta inilah titik simpulnya. Bisa jadi ia terlalu sempit, sudah kuno, atau salah daerah. La wong mau jalan-jalan di Bandung kok pakai peta Jogja. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Nah, kalau sudah begini, ya gimana nggak menikmati hidup? Sebab segala kejadian (baca: realita) menjadi sebuah entitas yang terpisah dengan makna. Kejadian boleh saja dianggap orang sebagai dramatis, menyedihkan, menyakitkan, dst. Tapi kalau kita memilih dengan sengaja untuk menggunakan peta hikmah, maka segalanya menjadi nikmat yang patut disyukuri. Maka dari itu saya pun jadi paham sebuah ajaran yang mengatakan bahwa Tuhan itu tergantung prasangka hamba-Nya. Mau dibilang Dia tidak adil, ya itulah yang akan dirasakan. Mau dikatakan Dia Maha Pengasih, ya ini pula lah yang akan kita rasakan. Yang pasti, semuanya memiliki konsekuensi. Ya, mengapa tidak kita pilih yang konsekuensinya paling memberdayakan buat kita?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Maka presuposisi terkenal ini pun lebih suka saya sebut dengan: <strong>the map IS the territory</strong>. Seperti apa peta yang kita pakai, itulah realita yang kita pahami. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Kedua</span></strong><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">, soal Meta Model dan saudara kembarnya, Milton Model. Untuk Meta Model, saya sudah sempat bahas di sebuah artikel berjudul “Ketika Meta Model Menjadi Alat Untuk Berempati”. Ya, Meta Model, alias komunikasi presisi, sama sekali bukan alat ngeyel. Meta Model adalah alat agar penggunanya dapat sedekat mungkin dengan realita. Tidak akan sama persis, tapi setidaknya sedekat mungkin. Dari sinilah kita kemudian bisa memahami presuposisi: <em>Kami menghargai model dunia tiap orang</em>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Sementara itu, Milton Model, juga bukanlah akal bulus untuk membungkus pesan penipuan agar orang lain terpengaruh. Sama sekali bukan! Justru Milton Model, alias <em>hypnotic language</em>, adalah alat agar pesan yang ingin kita sampaikan benar-benar sampai sebagaimana ia dimaksudkan. Coba pikirkan, jika pesan cinta disampaikan dengan pola kalimat berita ala Insert Investigasi. Walah, bisa berabe, bukan? Pesan cinta ya memang harus disampaikan secara kongruen, dengan permainan presuposisi serta <em>seeding</em> yang cantik, sehingga ia tidak saja terdengar, tapi juga terasa. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Maka baik Meta Model maupun Milton Model, alih-alih manipulatif, sejatinya justru dalah cara kita untuk menjadi komunikator yang tulus, <em>pure</em>, kongruen. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Ketiga</span></strong><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">, soal berbagai mitos seperti <em>eye accessing cues </em>(EAC). Saya sangat senang sekali mengetahui banyak orang mulai mengenal NLP, salah satunya lewat EAC ini. Konon, pemicunya adalah film The Negotiator yang menceritakan seorang negosiator mampu mengetahui kebohongan seseorang melalui gerak mata orang tersebut. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Bahwa hal ini benar, saya sangat sepakat. Hanya saja, seperti halnya ilmu apapun di dunia ini, setiap ilmu selalu terbatas oleh konteks. Maka EAC pun sama sekali bukan harga mati bahwa ia adalah ilmu untuk mendeteksi kebohongan semata. Bahkan, fungsinya jauuuuh lebih buanyak daripada ‘sekedar’ <em>lie detector</em>. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Wah, apa tuh fungsi yang buanyak itu?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Ya sesuai namanya, <em>eye accessing cues</em>. Maka gerakan mata adalah salah satu cara dari tubuh dan pikiran untuk mengakses state tertentu. Sementara itu, saya seringkali mengatakan pada sahabat-sahabat saya di kelas bahwa <em>state</em> adalah induk dari rangkaian pikiran-perasaan-perilaku. Tidak heran jika kemudian muncul sebuah teknik <em>memory strategy </em>yang mendayagunakan gerakan mata untuk memudahkan kita mengingat sesuai. Begitu juga <em>creativity strategy</em> yang juga menggunakan gerakan mata untuk membantu kita mengakses kondisi kreatif. Pada seorang kawan yang saya cermati rada kurang terlatih jalur koneksi antara pikiran dan perasannya, saya ajak ybs untuk berpikir suatu hal, kemudian segera menggerakkan mata ke bawah untuk mengakses perasaannya. Alhamdulillah, keterampilannya membaik cukup signifikan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Belum lagi jika digunakan untuk <em>rapport building</em>. Wah, asyik betul ini. Kalau yang umumnya dilakukan kan begini. Kita lihat rekan bicara sedang melirik ke kiri mendatar, artinya kan mengakses memori pendengaran. Maka kita pun mengatakan, “Ya, memang seperti yang pernah kamu dengar, bla bla bla.” Ini bagus. Cuman standar, sebab masih ada lagi manfaat yang lebih mak nyus. Yaitu begini. Ketika rekan bicara menggerakkan mata seperti itu, kita sebenarnya cukup mengikuti gerakannya. Ah, Anda tentu tahu apa yang akan terjadi, bukan? Ya, tepat sekali! Kita pun akan mengakses <em>state</em> yang sama. Maka tanpa perlu berkata apa-apa pun, <em>pacing</em> sudah terjadi. Bahkan ini jenis <em>pacing</em> yang sangat alamiah, sama sekali tanpa dibuat-buat. Sebab kita tidak sedang melakukan <em>make up pacing</em>, melainkan betul-betul ingin memahami apa yang sedang dipikir-rasakan oleh rekan bicara kita. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Keempat</span></strong><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">, soal teknik-teknik NLP. Sementara ini saya menemui ada 2 jenis kubu dalam menyikapi soal teknik. Kubu pertama mengatakan teknik-teknik NLP itu penting untuk dipraktikkan secara benar, demi menjaga kualitas hasilnya. Sebab kalau tidak, hasilnya bisa ngawur, tidak standar, dan berbahaya. Sementara kubu kedua, berargumen bahwa teknik NLP itu hanya buah dari sikap mental seorang NLPers. Maka kalau merasa sikap mentalnya sudah yahud, ya teknik ndak perlu, alias bisa diotak-atik semaunya, sesuai situasi dan kondisi. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Mana yang benar?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Walah, ngapain milih. Saya mah, senang menggabungkan saja keduanya. Sebab masing-masing memang memiliki kebenarannya sendiri-sendiri. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Teknik NLP itu penting, sebelum seseorang paham betul apa inti dari teknik tersebut. Misal, dalam teknik kesohor <em>Fast Phobia Cure</em> itu, intinya kan ada 2. Pertama, adanya disosiasi, tepatnya <em>double dissociation</em>. Kedua, adanya pengubahan <em>sequence</em> sehingga struktur neurologis dari pengalaman fobianya berubah. Umumnya, poin kedua ini dicapai dengan bumbu humor. Persis seperti kisah orang-orang yang sembuh dari fobia, yang dimodel oleh Bandler dan Grinder dulu. Mereka yang sembuh itu, rata-rata mengatakan, <em>“Suddenly, I look at myself</em> (disosiasi), <em>and laugh</em> (pengubahan sekuens).” </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Nah, kalau belum mengerti sampai di sini, ya lakukan dulu teknik formal dengan benar. Persis seperti belajar bela diri. Sebelum berani-berani melakukan jurus tendangan tanpa bayangan, ya berlatih dulu jurus tendangan dasar dengan benar. Bahkan, latih dulu kuda-kuda sampai kokoh betul. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Pada saat yang sama, fleksibilitas itu juga penting, setelah kita memahami intinya, dan mulai bisa fokus pada tujuan utama. Persis seperti orang belajar menyetir. Pertama-tama ia fokus untuk mengendalikan mobil dengan benar, barulah kemudian fokus pada tujuan dari mengendarai mobil (jalan-jalan, bekerja, mengunjungi teman, dll). Maka, fleksibilitas dalam level ini adalah fleksibilitas yang terarah, yang sama sekali bukan ngawur. Ia adalah fleksibilitas yan <em>outcome oriented</em>, sebab didasari oleh pemahaman yang mendalam akan esensi sebuah teknik. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><strong><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Kelima</span></strong><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">, tentang integrasi NLP. Saya ingat pernah belajar dari seorang guru bahwa NLP itu seperti belajar jadi koki. Belajarnya modular, sehingga kalau tidak diintegrasikan malah bingung sendiri. Jago mengiris, jago menggoreng, jago menyiapkan bumbu, dll. Cuman abis itu bingung, mau masak apa. Hehehe&#8230;</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Nah, integrasi inilah yang justru amat jarang saya temui di berbagai pelatihan dan literatur NLP. Bukan berarti tidak ada lho. Ada, dan yang begini biasanya laris. Hehehe&#8230; Maka NLP jadi pisau yang tajam, namun disimpan begitu saja tanpa <em>user manual</em>. Di titik inilah, seperti sudah saya jelaskan dalam beberapa artikel tentang Spiritual NLP, saya merasakan bahwa spiritualitas adalah kuncinya. Tentu orang lain akan menemukan hal yang berbeda, namun intinya sama: integrasi. Dan Spiritual NLP yang sedang kami kembangkan saat ini adalah usaha untuk menjadikan NLP memiliki arah dalam penggunakannya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Ah, segini dulu deh pengantarnya.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Loh, kok pengantar?</span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Ya, Insya Allah saya akan menjabarkan dengan lebih detil beberapa poin di atas—dan poin-poin lain yang belum saya sebutkan—dalam artikel-artikel tersendiri yang lebih komplit. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt;"><span style="font-size: 10pt; font-family: " lang="IN">Sampai jumpa!</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesianlpsociety.org/?feed=rss2&amp;p=100</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>NLP Untuk Berat Badan Ideal? Mau???</title>
		<link>http://indonesianlpsociety.org/?p=97</link>
		<comments>http://indonesianlpsociety.org/?p=97#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 20 Jan 2010 16:26:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Teddi Prasetya Yuliawan</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[NLP Practice]]></category>

		<category><![CDATA[basic nlp]]></category>

		<category><![CDATA[nlp]]></category>

		<category><![CDATA[nlp dan kesehatan]]></category>

		<category><![CDATA[sehat dengan nlp]]></category>

		<category><![CDATA[turun berat badan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://indonesianlpsociety.org/?p=97</guid>
		<description><![CDATA[Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan

Ted, nggak salah tuh?
Apanya yang salah dan enggak?
Ya itu, mau sharing tentang NLP dan slimming.
Emang apa yang salah?
Kok tiba-tiba menclok ke dunia per-slimming-an?
Nggak menclok kok.
Terus?
Hanya berbagi pengalaman. Tahun 2008 kan tahun berat badan tertinggi tuh, 72 kg. Nah, di pertengahan 2009 turun hingga 68. Terus turun hingga mencapai titik stabil di 61. [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal">Oleh: Teddi Prasetya Yuliawan</p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal"><em><span>Ted, nggak salah tuh?</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span>Apanya yang salah dan enggak?</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span>Ya itu, mau sharing tentang </span><a href="http://indonesianlpsociety.org/?page_id=11">NLP dan slimming</a></em><span>.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Emang apa yang salah?</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span>Kok tiba-tiba menclok ke dunia per-slimming-an?</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span>Nggak menclok kok.</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span>Terus</span></em><span>?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span><span id="more-97"></span>Hanya berbagi pengalaman. Tahun 2008 kan tahun berat badan tertinggi tuh, 72 kg. Nah, di pertengahan 2009 turun hingga 68. Terus turun hingga mencapai titik stabil di 61. Bahkan pernah 59. Semuanya tanpa diet.</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span>Hah! Yang bener tuh? Tanpa diet?</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span>Bener. Makan enak, aktivitas biasa. Tubuh seperti mengatur sendiri kapan harus berhenti, kapan harus menambah. </span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span>Waaaah, mau donk dibagi pengalamannya!</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span>Nah, ini baru mau ditulis.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Demikianlah obrolan singkat saya dengan seorang kawan yang mendengar bahwa saya akan berbagi pengalaman di NLP Talks dengan judul “Slim WithOut Pain”. Karena selama ini saya banyak dikenal sebagai praktisi NLP untuk urusan bisnis dan pendidikan, maka kawan saya ini jadi penasaran ketika mengetahui saya seolah berpindah haluan ke soal-soal kesehatan.</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span>Well</span></em><span>, bagi saya, saya tidak sedang berpindah haluan. Sebab haluan saya ya memang satu: aplikasi NLP di semua bidang. Dan karena obyek NLP adalah manusia, maka saya berani mengatakan bahwa dimana ada manusia, di situ lah NLP bisa berperan aktif. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Lalu, apa sebenarnya yang akan saya bagikan?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sederhana kok. Saya sendiri heran dan masih terus memodel apa yang terjadi dalam diri saya. Kok bisa-bisanya berat badan saya turun ke titik yang saya inginkan, tanpa ada program khusus. Karena saya menganggap hal ini sebagai salah satu hal yang ekselen, maka alarm NLP saya pun menyala keras, “Woooi, model woooi! Jangan dianggurin aje tuh!” Begitu lah kira-kira alarm tersebut memperingatkan saya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Tentu saja masih banyak orang lain yang mengalami perubahan jauh lebih dramatis daripada saya. Maka dari itu saya juga masih terus mencari dan mengembangkan model ini, sembari melakukannya pada diri sendiri.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Saya pun mengingat-ingat kembali perjalanan saya sejak akhir tahun 2008, ketike berat badan saya mencapai titik tertinggi sepanjang saya hidup hingga saat ini: 72 kg. Wah, sungguh repot. Tubuh terasa berat, celana dan baju kesempitan semua, turun tangga latihan gempa ngos-ngosan, pokoknya nggak nyaman sama sekali lah. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Entah apa yang terjadi ketika itu, berat badan saya pun turun hingga mencapai 68 kg. Titik yang membuat saya PD, bahwa saya pasti bisa mencapai berat badan ideal, sesuai dengan tinggi badan saya. Sungguh aneh, sebab merasa tidak mengelola kegiatan makan saya secara sadar. Saya tetap makan makanan-makanan favorit saya, saya tetap beraktivitas seperti biasa, benar-benar tidak ada program khusus. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Namun, memang ada sesuatu yang berubah dalam pola makan saya. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Ya, tubuh saya seperti mengatur dirinya sendiri. Saat sedang kelaparan di pagi hari, misalnya, saya makan cukup banyak. Nah, biasanya, meskipun sudah makan cukup banyak, jam 10 perut saya sudah mulai keroncongan lagi tuh. Maka turun lah saya ke koperasi kantor untuk mencari beberapa potong cemilan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>La sekarang ini beda sekali. Jika saya sudah sarapan cukup banyak, maka otomatis perut saya aman sampai siang. Memang sesekali terasa keroncongan, tapi sekarang saya seperti memiliki sebuah tombol <em>pause</em>, dengan bertanya pada diri sendiri, “Kamu ini benar-benar lapar, atau mau nurutin nafsu makan doank?” Nah, kalau sudah begini, biasanya saya pun tersadar dan mengurungkan niat untuk makan cemilan lalu melanjutkan pekerjaan. Begitu pun yang terjadi saat satu ketika saya makan berlebihan akibat ada rekan-rekan kerja yang ulang tahun atau membawa cemilan sisa <em>meeting</em> di sore hari. Maka otomatis di malam hari nafsu makan saya bisa hilang sama sekali, atau setidaknya menurun drastis lah.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sementara itu, saya juga menandai hal lain, yakni dalam soal pengaturan makanan. Jika saya merasa sudah makan atau minum terlalu banyak gula, maka secara otomatis saya jadi kepingin banyak minum air putih. Begitu pula saat saya terlalu banyak makan makanan berlemak, saya pun kemudian jadi kepingiiiiin banget makan sayur dan buah-buahan. Semuanya berlangsung secara otomatis tanpa saya sadari saat ia terjadi. Seolah ada program baru terinstal dalam diri saya untuk melakukan itu semua. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Ada apa ini?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Selidik punya selidik, saya pun menemukan beberapa kata kunci. </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span>Pertama</span></strong><span>, saya sejak dulu percaya bahwa berat badan ideal itu kuncinya hanya 1: menyeimbangkan input dan output. Input adalah makanan, output adalah aktivitas. Kalau yang kita makan sesuai dengan apa yang kita keluarkan, berat badan kita ideal. Sementara kalau salah satu saja tidak seimbang, kita pun kegemukan atau kekurusan. Nah, konsep keseimbangan ini saya rasakan telah menjadi sebuah <em>belief</em> baru bagi saya dalam hal makanan. Maka tidak heran jika perilaku-perilaku seperti saya ceritakan tadi muncul begitu saja, sebab <em>belief</em> baru jelas memiliki repertoar perilakunya sendiri. </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span>Kedua</span></strong><span>, kata ‘makan’ saya resapi memunculkan makna yang berbeda pada saya saat ini. Saya ingat ketika saya masih gembul dulu, saya rupanya masih menggunakan <em>mindset</em> makan mahasiswa, yang lebih mengutamakan kuantitas daripada kualitas. Makan adalah untuk menghilangkan lapar, dan bikin kenyang. Jadilah saya gembul, sebab aktivitas fisik saya setelah bekerja jelas jauh menurun dibandingkan ketika kuliah. Kembali ke hukum keseimbangan, maka output saya kalah jauh dibandingkan input saya. Apalagi, kualitas makanan (baca: makanan berlemak) yang saya makan pun meningkat. Klop sudah, gembul mania.</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Nah, sekarang ini, kata ‘makan’ rupanya memiliki makna yang multipel. Ia bermakna sumber energi, sehingga kalau bisa menggunakanya itu ya sehemat mungkin, namun dengan manfaat yang maksimal. Persis seperti para produsen kendaraan bermotor yang selalu terobsesi untuk menciptakan kendaraan berbahan bakar irit dengan tenaga yang besar. Maka makna ini menjadikan saya fokus untuk mencari makanan yang dapat memberi energi maksimal, tanpa perlu terlalu mengenyangkan perut. Sebab perut yang kenyang akan menambah beban tubuh, sehingga toh makanan yang saya masukkan sebenarnya justru lebih banyak digunakan untuk mengendalikan tubuh yang kelebihan beban ini. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kata ‘makan’ juga bermakna ibadah, seperti halnya berbagai aktivitas lain. Seiring dengan pengembangan </span><a href="http://indonesianlpsociety.org/?page_id=10">Spiritual NLP</a><span> yang saya lakukan sejak awal 2009, saya menemukan bahwa kegiatan makan tidak akan berlebihan jika dilakukan sesuai dengan ajaran agama. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Kok?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Begini ceritanya. Yang sederhana saja deh. Doa makan saja. Berapa banyak orang yang membaca doa makan asal lewat? Padahal, doa makan adalah sebuah cara yang ampuh untuk menyiapkan tubuh menerima dan mengolah makanan. Saya merasakan bahwa membaca doa makan dengan penuh penghayatan rupanya memunculkan sensasi khidmat nan nikmat saat makan. Sensasi inilah yang kemudian menjadikan kegiatan makan tidak akan saya campur dengan kegiatan lain yang akan mengurangi kenikmatannya. Nah, klop banget nih dengan apa yang pernah saya dengar dari hasil penelitian (sayangnya, saya lupa sumbernya) bahwa kebanyakan orang obesitas karena sering melakukan kegiatan makan bersamaan dengan kegiatan lain seperti bekerja, menonton televisi, dll. Akibatnya, tubuh tidak benar-benar siap menerima makanan, plus tidak benar-benar maksimal dalam mengolah makanan yang masuk. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Sementara itu, dalam doa makan yang biasa saya ucapkan, terkandung makna bahwa kita meminta agar dihadirkan keberkahan dalam makanan yang kita makan. Wah, ini jelas doa yang serius nih. Diucapkan pada Tuhan pula. Maka kegiatan makan saya pun tidak menjadi kegiatan yang sepele lagi, sehingga berbagai adab makan seperti duduk dan mengunyah hingga lumat pun berjalan secara otomatis. Nah, saya lalu merasakan lagi, bahwa adab-adab ini rupanya juga menyiapkan tubuh untuk menerima makanan dan mengolahnya dengan lebih mudah. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Semenjak penemuan inilah, saya tidak pernah lagi main-main dengan doa yang saya ucapkan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><strong><span>Ketiga</span></strong><span>, omong-omong soal menyeimbangkan menu, rupa-rupanya terjadi proses perubahan submodalitas dalam diri saya terkait dengan jenis makanan yang selama ini kurang favorit bagi saya. Ya, saya bukanlah penggemar sayuran. Dulu, saya hanya makan sayuran jika sudah mulai sembelit. Entah bagaimana mulanya, yang pasti saya mulai dapat merasakan kenikmatan makan sayur. Tidak saja lidah saya berkompromi, tapi saya benar-benar merasakan asyiknya. Apalagi yang namanya gado-gado. Wuih, kini bagi saya persis seperti makan pizza! </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Begitu pula dengan minum air putih. Saya yang penggemar minuman manis nan berwarna, kini mampu meminum air putih dalam jumlah banyak dengan penuh kenikmatan. Ya, seperti ada proses <em>amplify</em> di kerongkongan saya saat merasakan kesegaran air putih, yang mengaliiiir terus hingga lambung. Wuih…segar deh pokoknya!</span></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span>Oh, jadi begitu caramu jadi kurus</span></em><span>?</span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Begitulah. </span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span>Mudah ya?</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span>Siapa yang bilang sulit?</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span>Iya juga sih. Terus, kalau buat menggemukkan badan, bisa juga?</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span>Ya. Langkah-langkah di atas kan memang bukan soal menurunkan berat badan, melainkan mencapai berat badan yang ideal, tepat sesuai kebutuhan kita. Maka orang yang terlalu kurus tentu akan meningkat berat badannya hingga mencapai titik ideal itu.</span></p>
<p class="MsoNormal"><em><span>Wah, asyik nih. Coba ah…</span></em></p>
<p class="MsoNormal"><span> </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Demikianlah. Saya masih terus melakukan proses <em>modeling</em>, termasuk pada beberapa rekan yang doyan makan namun tetap langsing. Namun setidaknya 3 hal di atas sudah begitu nyata saya rasakan efeknya dalam diri saya. Di antara ketiganya, 2 yang pertama merupakan kata kunci yang penting. Hidup adalah soal menjaga keseimbangan. Keseimbangan dijaga, hidup pun tenang dan damai. Sementara ketika setiap hal sudah bermakna ibadah, maka tidak akan ada istilah merasa kurang sehingga perlu menambah yang tidak kita butuhkan. </span></p>
<p class="MsoNormal"><span>Jadi, selamat memulai hidup baru! </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://indonesianlpsociety.org/?feed=rss2&amp;p=97</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
